FAWAID DAUROH SYAIKH PROF. DR. SULAIMAN AR-RUHAILY (Hari 1, Sesi 02)

Ringkasan Fawaid Dauroh (Day 01, Sesi 02)

Manusia butuh pada orang lain. Butuh hidup bersama orang lain. Tidak bisa hidup sendiri. Hidup bersama jamaah. Sejak era sebelum Islam, manusia telah membentuk jama’ah. Karena memang demikianlah fitrah manusia, hidup berjama’ah. Ada ikatan di antara mereka.

Model ikatan kehidupan berjamaah sebelum Islam adalah:

1. Ikatan al-Qaumiyyah; yang mengikat adalah kesukuan dan ikatan kelompok.

2. Ikatan Maslahah Musytarokah, yaitu kepentingan bersama. Sehingga muncullah perjanjian ini dan itu, kesepakatan ini dan itu.

Di antara fitrah manusia adalah hidup berjama’ah. Islam mengaturnya, menyucikannya, agar kehidupan berjamaah bersifat mengikat secara syar’i. Ikatan secara syar’i antara manusia adalah Islam.

Ada yang bilang; kita ingin menjadikan Islam sesuai dengan daerah masing-masing. Ada Islam Eropa, Islam Asia, ada Islam Nusantara, dll. Ini adalah ikatan jahiliah. Penyelisihan terhadap syari’at Allah. Ikatan yang paling agung, yang menjadi titik kembali segala sesuatu adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Jama’ah yang syar’i itu ada dua. Ini perlu dipahami karena banyak orang tidak mengetahuinya. Dengan memahami dua jenis jama’ah ini, banyak kerancuan berpikir akan terurai dan terjawab. Kedua jenis jama’ah yang syar’i tersebut adalah; al-Jama’ah ad-Diiniyyah dan Jama’ah al-Abdaan.

al-Jama’ah ad-Diiniyyah yaitu manakala manusia beragama dengan agama yang satu, tidak ada perbedaan dalam akidah dan ushul. Adapun furu’ boleh jadi ada perbedaan. Jama’ah ini hanya satu, dan tidak dibatasi oleh batasan-batasan (waktu dan teritorial). Wajib bagi muslim Indonesia, muslim Arab, muslim Eropa, dan segenap muslimin lainnya untuk masuk ke dalam jama’ah yang satu ini. Bukan justru berkelompok-kelompok dengan pemikiran beragama jama’ahnya masing-masing.

Jama’ah jenis inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (di masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali ‘Imran: 103]

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. Ali ‘Imraan: 104]

Beberapa pelajaran penting dari dua ayat di atas:

Pertama, Allah menjelaskan kepada kita bagaimana seharusnya jama’ah diniyyah itu. Kemudian memerintahkan kita untuk setia bersama jama’ah tersebut. Dan melarang kita berpecah belah darinya atau di dalamnya.

Kedua, Jama’ah Diniyyah ini tidak mungkin tegak tanpa berpegang pada tali Allah; yaitu al-Quran dan as-Sunnah (di atas pemahaman para Sahabat)

Ketiga, Segala hal yang menyelisihi tali Allah yaitu al-Quran dan as-Sunnah di atas pemahaman Sahabat, maka itu adalah perpecahan.

Keempat, Jama’ah Diniyyah ini adalah nikmat yang agung. Allah mengingatkan para Sahabat akan nikmat yang besar ini. Dulu mereka bermusuh-musuhan, padahal mereka punya jama’ah masing-masing, namun jama’ah atas ikatan fanatisme qaumiyyah (kesukuan), bukan jama’ah Diniyyah.

Kelima, Meninggalkan jama’ah Diniyyah ini adalah sebab perpecahan di dunia dan kerugian di akhirat kelak.

Keenam, Pada ayat ke-104 (Ali ‘Imraan), setelah Allah menjelaskan bagaimana jama’ah Diniyyah itu, Allah menjelaskan bagaimana cara mewujudkannya.

Ketujuh, Bahwasanya tidak mungkin jama’ah Diniyyah itu akan terwujud kecuali dengan Da’wah Shaadiqoh (dakwah yang tulus). Yaitu dengan adanya orang-orang yang menyeru kepada kebaikan (yad’uuna ilal-khair) dan memerintah yang ma’ruf (ya’muruuna bil-ma’ruuf) serta mencegah dari yang mungkar (yanhauna ‘anil mungkar).

Renungan: bukankah ya’muruuna bil-ma’ruuf termasuk ke dalam cakupan makna yad’uuna ilal-khair…?? lantas kenapa disebutkan ulang…?? Para muhaqqiq dari kalangan ulama mengatakan; pengulangan tersebut bukan bentuk penegasan dan penekanan makna (taukiid).

Melainkan untuk menjelaskan bahwa yad’uuna ilal-khair bermakna; mengajak kepada kebaikan sebelum kebaikan itu ditinggalkan. Di sini terkandung makna memberi bimbingan (irsyaad) dan mencegah dengan tindakan preventif (wiqooyah), yang intinya jangan sampai kebaikan itu ditinggalkan.

Sementara ya’muruuna bil-ma’ruuf bermakna; mengajak kembali kepada yang baik setelah kebaikan itu ditinggalkan. Wayanhauna ‘anil mungkar berarti; mencegah dari yang mungkar setelah yang mungkar itu terjadi. Di sini mengandung makna perbaikan dan penyembuhan dari penyakit (‘ilaaj).

Dengan demikian, untuk membangun jama’ah Diniyyah, diperlukan: upaya membimbing dengan ilmu, tindakan preventif, dan memperbaiki atau meluruskan yang keliru (bukan justru mendiamkan yang keliru dengan dalih kerukunan). Jika hal-hal tersebut ada pada suatu kaum, maka mereka adalah kaum yang akan beruntung selamanya.

Jama’ah al-Abdaan  yaitu dengan adanya imam yang memimpin manusia, yang mengatur dan mengarahkan mereka. Hukum asal jama’ah ini; semestinya satu juga (dalam artian seluruh muslimin di dunia ini hanya punya satu imam, satu negeri). Namun jika ada uzur sehingga tidak memungkinkan membentuk jama’ah kaum muslimin di bawah satu imam, maka setiap penduduk di setiap negeri adalah jama’ah tersendiri dengan imamnya masing-masing. Ini sudah menjadi ijma’ di kalangan ulama. Setiap negeri adalah jama’ah. Penduduk Indonesia adalah jama’ah, demikian juga penduduk Saudi, Mesir, dll. Juga, tidak ada keharusan bagi jama’ah muslimin di suatu negeri untuk pindah dan bergabung ke jama’ah muslimin di negeri yang lain.

Bersatu dalam jama’ah abdaan ini juga merupakan kewajiban agama. Tentang hal ini:

Pertama, Nabi telah mengabarkan akan terjadi perpecahan. Perpecahan di sini mencakup perpecahan Diniyyah dan Abdaan.

Kedua, Jika terjadi perpecahan pada jamaah Diniyyah, maka kita berpegang pada jamaah dan Ushul Diniyyah. Jika terjadi perpecahan pada jamaah Abdaan maka kita wajib bersatu dengan jama’ah bersama imam.

Ketiga, Di tengah perpecahan umat yang akan terjadi, Nabi menyebutkan tentang ciri khas satu-satunya jama’ah yang akan selamat:

ما أنا عليه اليوم وأصحابي

“(mereka adalah orang-orang yang) berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”

Renungan: bukankah cukup bagi Nabi untuk mengucapkan “maa ana ‘alaihi (di atas jalanku)..??” namun ternyata Nabi menambahkan dengan ungkapan; “wa-ashhaabii” (dan jalan para Sahabatku). Ini menunjukkan bahwa pemahaman Sahabat adalah standar dan timbangan untuk mengukur sejauh mana kebenaran pengakuan setiap orang yang mengaku; “saya ahlussunah, mengikuti jalan Rasulullah”. Siapa yang menyelisihi Sahabat maka pada hakikatnya dia telah menyimpang dari jalan Rasulullah.

Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa yang selamat adalah “al-Jamaa’ah”. Ini mencakup dua jenis jamaah di atas; yaitu jama’ah yang berada di atas akidah dan manhaj yang satu (jamaah Diniyyah) dan jama’ah yang bersama dengan imam (jama’ah Abdaan). Maka siapa yang memisahkan diri dari jama’ah (baik jama’ah Diniyyah maupun abdaan) maka dia tidak akan selamat.

Dalam hadits al-‘Irbadh bin Saariyah, sebenarnya cukup bagi Nabi untuk mengucapkan

تمسكوا بها

“berpegang teguhlah pada sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin”

Tapi kenapa Nabi perlu mengatakan;

عضوا عليها بالنواجذ

“gigit Sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian” ???

Jawabannya; untuk mengajarkan kepada kita bahwa dai-dai fitnah itu banyak, dan mereka akan menyambar kita, serta mengajak kita pada perselisihan yang sarat.

💎 “Saya tetap berpegang pada Sunnah, kendati saya bersama dengan ahlul bida’” Kata Syaikh: ini mustahil. (mustahil ada orang yang akrab dengan ahlul bida’ lantas dia masih bisa berpegangteguh pada Sunnah).

💎 Pokok perpecahan disebabkan oleh tiga hal:

  1. Tidak mengambil ilmu dari akaabir (ulama yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih berilmu),
  2. Berprasangka buruk pada akaabir,
  3. Berprasangka baik pada diri atau tertipu dengan diri sendiri.

Musuh-musuh Islam memanfaatkan 3 hal tersebut untuk memunculkan perpecahan di barisan kaum muslimin.

💎 Setiap jamaah yang menyimpang pasti akan mengajak kepada penyimpangan mereka. Maka tidak pantas kita mengatakan; “kita rangkul mereka“. Namun yang seharusnya adalah kita luruskan mereka dan ajak mereka bersatu di atas Sunnah.

 

Ditulis secara bebas berdasarkan makna oleh:

***

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Alhujjah)

Leave a Comment