TERBUNUH TANPA SADAR

“Sihir” Medsos & Salafy

Semenjak medsos menggeliat, berita dan informasi bak sihir yang menjadikan korbannya terbunuh tanpa sadar. Bukan mati jasmani, namun mati hati dan mati fitrah. Adapun akal dan jasmani, sejenak lagi bakal menyusul. Anak-anak kehilangan kekanak-kanakannya. Remaja kehilangan keremajaannya. Gadis kehilangan kegadisannya. Bapak-bapak tidak ketinggalan kehilangan kebapaannya. Sampai bahkan ustadz kehilangan keustadzannya. Orang-orang berilmu jadi jahil. Orang-orang jahil tiba-tiba berlagak ulama, di angkat untuk bicara masalah umat, di dengar dan dipanuti ucapannya, lalu di-share supaya orang lain ikut-ikutan mengikuti orang jahil. Semuanya gara-gara medsos yang tidak digunakan dengan bijak, dan tidak berdasar ilmu.

Dari rusaknya anak dan remaja, hancurnya rumah tangga, sampai porak-porandanya Suriah dan Mesir dalam pergolakan “Arab Spring”, tidak lepas dari andil sihir milenial bernama medsos.

Kalaupun seseorang berkomitmen hanya memanfaatkan medsos untuk hal-hal yang positif, dia tidak bisa atau sulit lepas dari–minimal–melihat syahwat duniawi yang disodorkan medsos melalui iklan dan infotainment-nya, atau dari mengkonsumsi syubhat pemikiran public figure yang berseliweran di medsos setiap saat. Syubhat pemikiran yang tidak hanya merubah pola pikir, tapi juga membelokkan aqidah seorang mukmin tanpa disadari.

Dampak-dampak negatif di atas, bisa timbul sekalipun berita dan informasi yang menyebar dan dikonsumsi di medsos adalah fakta dan realita. Maka bagaimana lagi jika informasi itu adalah hoax?

Ada sebuah prinsip di kalangan ulama yang menyatakan;

ليس كل ما يعلم، يقال. وليس كل ما يقال، يقال لكل أحد.

“Tidak semua (informasi) yang diketahui itu layak untuk diungkapkan. Dan tidak semua yang layak untuk diungkapkan, layak diungkapkan ke semua orang”

Prinsip tersebut berbicara tentang informasi berdasarkan fakta atau realita. Bukan hoax atau informasi yang salah. Kendati demikian, tidak semua fakta dan realita layak di-share. Tidak semua berita pantas diberitakan ulang untuk orang lain. Bahkan Nabi kita yang mulia telah mewanti-wanti:

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta, jika ia memberitakan semua yang dengarnya.” [Muslim: 6, Shahih al-Jaami’: 4482]

al-Qur’an mengajarkan kita untuk bersikap tenang dan berjalan di atas petunjuk ulama rabbani dalam menyikapi informasi atau isu-isu yang ada. Terlebih isu yang bisa mengganggu stabilitas ketentraman dan persatuan kaum muslimin jika disebarluaskan.

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (ulama rabbani) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan umara/ulama rabbani). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS. an-Nisaa’: 83]

Sama dengan hadits sebelumnya, ayat yang mulia ini tidak bicara tentang kebenaran atau validitas berita yang disebarkan. Sekalipun beritanya benar, jika hal tersebut menyangkut keamanan dan keresahan publik, maka terburu-buru menyebarkannya adalah tindakan yang tercela. Dalam at-Tafsir al-Muyassar, Kitab Tafsir hasil urun-rembug ilmiah sekumpulan ulama tafsir di Saudi, disebutkan bahwasanya orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah;

الذين لم يستقر الإيمان في قلوبهم.

“Orang-orang yang iman belum menetap dalam hati mereka”.

Nah, bagaimana dengan hoax? Tentu kekejiannya lebih dahsyat lagi. Tak terbayang bagimana besar dosa dan kejahatan para pembuat dan penyebar hoax. Dosanya berantai. Mampu membuat efek bola salju. Semakin jauh menggelinding, semakin besar dosanya. Kerusakannya memunculkan efek domino. Satu runtuh, yang lain ikut runtuh.

*

Ketika gembong munafiqin Madinah, Ibnu Ubay bin Salul, merancang dan menyebarkan hoax terkait kehormatan Ibunda ‘Aisyah radhiallahu’anha, sebagian kaum mukminin saat itu terimbas oleh “sihir” hoax tersebut. Mereka ikut-ikutan nimbrung membahasnya. Lihat betapa dahsyatnya “sihir” tersebut. Sampai-sampai sebagian Sahabat, sebaik-baik generasi umat ini, bisa terpapar oleh hoax tersebut. Padahal Rasulullah ﷺ hidup di tengah-tengah mereka. Padahal mereka hidup di masa Jibril masih turun naik antara langit & bumi untuk menyampaikan wahyu Allah. Maka apakah layak bagi kita merasa aman dari pengaruh “sihir” hoax di era sarat fitnah ini…?? Era yang disabdakan oleh Rasul ﷺ:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ “. قِيلَ : وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ : ” الرَّجُلُ التَّافِهُ (يتكلم) فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ 

“Akan datang pada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya. Orang-orang jujur didustakan. Para pengkhianat diberi amanat. Orang-orang amanah justru dikhianati. Ar-Ruwaibidhoh (bermunculan) angkat bicara. “Siapakah ar-Ruwaibidhoh itu..??”, Rasul ditanya. Beliau menjawab; orang-orang bodoh yang bicara masalah publik”. [Shahih Ibn. Majah: 3277]

Jika sebagian Sahabat saja di masa Rasulullah bisa terdampak oleh hoax yang menyebar di zaman belum ada koran, maka apalagi orang-orang di zaman gadget ini…??

Tidak ada jaminan selamat dari dampak hoax yang bisa merubah mindset anda tanpa sadar, sekalipun anda mengaku atau merasa diri pengikut Sahabat (“Salafy”). Sahabat saja bisa terdampak, apalagi sekedar pengikut Sahabat (itupun ngaku-ngaku).

*

Kisah hoax Bin Salul yang sempat menjadi “Trending Topic” di Madinah waktu itu, dipaparkan panjang lebar dalam al-Quran (an-Nur: 11-20). Silakan buka, dan baca tafsiran ulama. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah hoax tersebut, di antaranya:

1. Pembuat dan penyebar hoax adalah orang-orang munafik atau punya sifat kemunafikan dalam dirinya. Karenanya, jangan ikut-ikutan menyebar hoax jika tidak ingin tergolong munafiqin.

2. Hoax yang menyebar di tengah komunitas umat Islam, hanya akan merugikan kaum muslimin sendiri, sekalipun hoax tersebut secara zhahir seakan membela umat Islam. Sebab hoax sejatinya adalah kebatilan yang diproduksi syaitan. Memang sengaja dihembuskan sebagai propaganda merusak Islam dari dalam. Lihat dampak hoax Bin Salul..! Madinah bergoncang. Munafiqun gembira. Muncul retak-retak perpecahan. Sampai-sampai sekelas Abu Bakar Ash-Shiddiq pun, sempat memutuskan kekerabatannya dengan Misthoh, gara-gara dia ikut membicarakan ‘Aisyah.

Untuk itu, selalu kroscek, dan jangan lekas percaya desas-desus yang ada. Terutama yang menyangkut stabilitas umat Islam. Jangan hanya nafsu menjadi yang pertama menyebar berita, tanpa pikir apa dampaknya.

3. Terkait desas-desus atau gossip tanpa bukti yang menyangkut seorang muslim, maka yang perlu dikedepankan adalah husnuzhzhon (berprasangka baik). Sebagai contoh: jika ada berita yang mengungkap aib-aib seorang Presiden atau Calon Presiden (sementara keduanya muslim), maka tidak boleh langsung dipercaya jika buktinya belum jelas, apalagi langsung menyebarkan berita tersebut. Sebab Allah berfirman kepada orang-orang mukmin terkait kasus hoax Bin Salul:

لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ

“Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri (sesama mukmin), ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.” -An-Nur: 12.

4. Ikut menyebarkan hoax konsekuensinya sangat berat. Sebab agar suatu tuduhan bernilai benar, harus punya bukti yang kuat, dan mendatangkan bukti tersebut tidaklah gampang. Dalam kasus hoax Bin Salul, orang-orang yang ikut menuduh ‘Aisyah jika tidak mampu mendatangkan bukti 4 orang saksi, maka mereka adalah pendusta di mata Allah.

لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta.” -An-Nur: 13.

5. Boleh jadi suatu berita bernilai sepele di mata kita, sehingga dengan mudahnya jemari kita men-share berita tersebut hanya karena muatannya sesuai dengan harapan kita. Padahal itu hoax. Kita pun kuat menduga itu hoax, namun karena isi berita tersebut terkesan membela sang idola, kita menganggap hoax tersebut sepele dan kecil. Padahal sejatinya, itu adalah perkara besar di mata Allah.

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ

“(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” -An-Nur: 15.

Akhirul kalam, jangan ikut andil memecah belah umat. Biarlah urusan besar, diurus oleh orang-orang besar yang berkompeten dan punya kapasitas, baik keilmuan maupun ketakwaan. Kita diam saja. Perbanyak baca Quran daripada koran. Lisankan selalu istighfar daripada “ngompol” (Ngomong Politik) tapi tak juga menyelesaikan masalah bangsa. Perbanyak baca dan ngaji Kitab, supaya tahu mana yang haq dan mana yang batil. Jangan cuma ngaji tematik. Ngajinya tema rumah tangga dan cinta, tapi bicaranya politik. Ngaji fiqih thaharah belum kelar, fiqih siyasah merasa sudah di luar kepala.

Jangan lupa, ini masa fitnah. Ingin hidup tenang dan selamat? Hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana caranya? Perbanyak ibadah:

الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ

“Ibadah di masa-masa fitnah, seperti hijrah menuju aku (Rasulullah).” [Shahih Muslim: 2948]

Bukan justru perbanyak berita (yang Anda sendiri sudah yakin bahwa media saat ini, disetir mereka kafirin dan munafiqin, tambah satu lagi; hizbiyyin-haroqiyyin). Move on kawan…!! Move on..!!

_____
Wallahu’alam

***

Jakarta, 27-04-2019
ABU ZIYAN JOHAN SAPUTRA HALIM

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment