BOLEHKAH MENGGANTI BERAS ZAKAT FITHRI DENGAN UANG?

Menyoal Pendapat: “Boleh Mengganti Beras Zakat Fithri dengan Uang”

Dalil-dalil sunnah yang bertebaran, menunjukkan bahwa Zakat Fithri ditunaikan dalam bentuk makanan pokok daerah setempat. Beras, kira-kira 3 Kg, untuk muslimin di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Belakangan muncul pendapat; boleh menggantinya dengan uang senilai beras 3 Kg. Bahkan uang lebih bermanfaat bagi fakir miskin kata mereka.

Pendapat tersebut, perlu kita soal ulang terkait kebenaran dan keabsahannya. Tentunya dari berbagai sisi. Sebab, ini adalah urusan ibadah yang selalu berulang dan senantiasa kita lakukan. Landasan yang keliru dalam hal ini, bisa berdampak pada keabsahan ibadah itu sendiri.

Pertama; Apakah pendapat tersebut bersesuaian dengan dalil-dalil sunnah yang banyak? Atau justru menyelisihinya?

Dalam hadits Ibnu ‘Umar yang termaktub dalam ash-Shahihain, dengan tegas disebutkan bahwa Rasulullah mem-fardhu-kan (فرض) Zakat Fithri seukuran 1 sho’ kurma atau gandum. Dalam riwayat lain, menggunakan lafaz “أمر”, yang berarti Rasulullah memerintahkan hal tersebut.

Sementara dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri, yang juga diriwayatkan dalam ash-Shahihain, disebutkan bahwa di masa Rasulullah, para Sahabat mengeluarkan Zakat Fithri berupa makanan (طعام) seukuran 1 sho’.

Hadits-hadits yang semakna ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dan an-Nasaai dari Ibnu ‘Abbas.

Semuanya menunjukkan bahwa syariat benar-benar memaksudkan makanan pokok dalam penunaian Zakat Fithri. Bukan uang.

Hadits Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan 2 hikmah utama pensyariatan Zakat Fithri juga semakin menegaskan hal tersebut. Zakat Fithri sejatinya ditujukan sebagai; penyuci bagi orang yang berpuasa (طهرة للصائم) dari dosa dan perkara sia-sia, dan sebagai makanan bagi faqir miskin (طعمة للمساكين). Jika ditunaikan dalam bentuk uang, maksud tersebut bisa jadi tidak tercapai. Sebab uang tersebut boleh jadi akan dibelanjakan untuk keperluan lain selain makanan.

Kedua; apakah pendapat tersebut pernah mengemuka di era Rasulullah atau masa Sahabat?

Ternyata tidak sama sekali. Di era Rasulullah dan Sahabat, semuanya satu kata. Bahwa Zakat Fithri dikeluarkan dalam bentuk makanan seukuran 1 sho’. Ibnu ‘Abbas bahkan pernah berkhotbah menekankan hal ini, dan tidak ada Sahabat yang menyelisihinya. Menunjukkan bahwa ijma’ atau konsensus Sahabat telah tersimpul dalam masalah ini. Sementara ijma’ sudah pasti kebenaran. Apa yang menyelisihinya, bisa dipastikan bukanlah kebenaran, atau menyimpang dari kebenaran. Sebab Nabi pernah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Sungguh Allah tidak akan mengumpulkan (ulama) umatku di atas kesesatan. Tangan Allah bersama al-jamaa’ah” [at-Tirmidzi: 2167, dihasankan al-Albani]

Ditambah lagi, alat tukar sudah ada di era Rasulullah dan Sahabat. Toh, mereka–selaku generasi terbaik umat ini–tidak beralih dari makanan pokok menuju uang dalam penunaian Zakat Fithri. Padahal mereka adalah komunitas yang tinggal di tengah gurun, dikelilingi oleh bukit-bukit batu. Mereka punya kebutuhan yang lain selain makanan. Mereka butuh pakaian, selimut, penerangan, dsb. Rasulullah –terlebih lagi Allah– tahun akan hal itu. Kebutuhan untuk disyariatkannya Zakat Fithri dengan uang, benar-benar ada, dan tidak ada penghalang untuk menetapkannya. Namun tetap saja Rasulullah memerintahkan Zakat Fithri dibayar dengan makanan pokok. Menunjukkan bahwa urusan Zakat Fithri ini memang bukan dengan uang.

Ketiga; kenapa Rasulullah memerintahkan Zakat Fithri dibayar dengan satu takaran yang sama untuk beberapa jenis makanan yang berbeda?

Padahal masing-masing jenis makanan tersebut (seperti; kurma, gandum, kismis, dan keju) memiliki harga yang berbeda-beda. Ini, sebagaimana diungkapkan oleh al-Mawardi, menunjukkan bahwa syariat memang menghendaki makanan (pokok setempat) dalam penunaian Zakat Fithri. Bukan uang. Sebab jika boleh ditunaikan dengan uang, tentunya 1 sho’ gandum akan berbeda harga dengan kismis (zabiib) seukuran yang sama. Dan semestinya syariat akan memberikan kebijakan ukuran yang berbeda jika standarnya adalah harga. Satu sho’ gandum semestinya bisa diganti dengan ½ sho’ kismis. Karena kismis lebih mahal.

Namun ternyata syariat tidak membedakannya dari sisi ukuran. Ijmak yang telah tersimpul di kalangan ulama menyatakan tidak sahnya Zakat Fithri dengan ½ sho’ kismis, sekalipun ia setara dengan 1 sho’ gandum dari sisi harga. Berarti yang jadi standar bukanlah harga atau uang, melainkan apa yang menjadi makanan pokok setempat dan seberapa ukuran atau takarannya.

Keempat; uang lebih bermanfaat bagi faqir miskin di hari ‘ied, benarkah..??

Belum tentu. Boleh jadi seseorang membelanjakan uangnya pada hal-hal yang sebenarnya tidak atau kurang ia butuhkan. Berbeda dengan makanan pokok yang merupakan kebutuhan esensial. Mau tidak mau pasti butuh. Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi –guru besar Universitas Islam Madinah sekaligus pengajar di Masjid Nabawi– menceritakan bahwa ada keluarga faqir yang beliau kenal, benar-benar mengkonsumsi stok makanan pokok hasil Zakat Fithri yang diperolehnya selama setahun penuh. Benar-benar manfaat yang luar biasa, selain manfaat yang pasti. Karena memenuhi kebutuhan esensial manusia.

Kalaupun pada kasus tertentu seorang faqir miskin lebih butuh uang daripada beras, namun itu hanya bersifat situasional kondisional, juga temporer dan personal. Sementara syariat kita yang mulia dan bijak ini, bukanlah syariat yang hanya menjawab problema segelintir orang pada situasi dan lingkup momen yang terbatas. Syariat kita adalah syariat yang universal, untuk segenap manusia, di setiap waktu dan tempat dengan berbagai latar kebutuhan mereka.

Di sisi lain, semua kita mengetahui, bahwa uang -sebanyak apapun itu-, sangat mungkin dalam sekejap tidak memiliki nilai tukar sama sekali, dikarenakan kejadian-kejadian tertentu di suatu negeri. Beda halnya dengan makanan pokok, kalaupun kurang dibutuhkan hari ini, esok bisa sangat berharga, atau paling tidak pada saatnya nanti, pasti dibutuhkan. Toh, si faqir miskin tetap bisa menjual kelebihan stok berasnya, jika ia sangat membutuhkan uang.

Jika faqir miskin hanya diberi beras, beras dan beras, bagaimana dengan kebutuhannya yang lain? Mereka kan juga butuh pakaian, listrik, pulsa, butuh pendidikan, dsb? Subhanallah, bukankah syariat kita sudah memberi solusi untuk itu melalui Zakat Maal dan sedekah sunnah lainnya? Tak ada halangan untuk membayar Zakat Fithri kepada si miskin, ditambah dengan sejumlah uang yang diniatkan sebagai sedekah. Ini tentu lebih baik lagi.

Lagi pula, jika kita kembali pada aturan main dalam syariat, alasan “uang lebih meng-cover kebutuhan faqir miskin” adalah alasan akal yang melawan nash (dalil naqli) atau hukum yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sementara dalam prinsip beragama kita, dalil naqli (al-Quran dan as-Sunnah) harus lebih dikedepankan daripada dalil akal. Kendati sebenarnya, pendalilan akal yang benar tidak akan mungkin bertolak belakang dengan dalil naqli.

Kelima; mampukah pendapat tersebut menjamin tidak terjadinya perubahan pada hukum lain yang semisal?

Yang ada justru celah perubahan hukum –tanpa aturan– akan terbuka lebar. Bisa saja hukum penunaian kaffarat sumpah berupa makanan atau pakaian untuk faqir miskin akan berganti dengan uang. Jika demikian, kesakralan ayat ini akan hilang, dan tidak lagi memiliki esensi;

(…فَكَفَّـٰرَتُهُۥۤ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَـٰكِینَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِیكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِیرُ رَقَبَةࣲۖ…)

“….maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya.” [QS. al-Maaidah: 89]

Lambat laun, yang lebih parah lagi akan terjadi. Orang bakal seenak perut merubah aturan baku dalam agama ini, dengan alasan “lebih maslahat”…, “lebih mengakomodir tuntutan zaman”…, dan berbagai alasan lainnya yang cenderung sporadis bahkan liar mengikuti kemana hawa nafsu berhembus. Akhirnya, rusak dan kacau balaulah agama ini jika begitu.

**

Akhirul kalam, Allah selaku peletak syariat yang sempurna ini, adalah Dzat yang Mahatahu, Mahabijak, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia tahu apa yang masalahat dan dibutuhkan hamba-hamba-Nya dalam agama mereka. Rasulullah, sebagai penyampai syariat Allah, juga manusia yang welas asih, tidak menginginkan untuk umatnya sesuatu yang memberatkan, apalagi sesuatu yang tidak membawa kepada kemaslahatan. Mustahil Allah dan Rasul-Nya menetapkan aturan syari’at, jika itu tidak mengandung maslahat bagi hamba-hamba Allah, baik di dunia apalagi di akhirat.

Bertolak dari itu, tentu di balik penetapan hukum Zakat Fithri harus dengan makanan pokok, ada hikmah yang terbaik dan sempurna. Sebab, hukum-Nya tak mungkin lepas dari sifat-sifat Allah yang Mahatahu, Mahabijak dan Maha Pengasih pada hamba-hamba-Nya.

وَٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ وَٱصۡبِرۡ حَتَّىٰ يَحۡكُمَ ٱللَّهُۚ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah peletak hukum yang terbaik (karena hukum-Nya mengandung keadilan yang sempurna–dari segala sisi–).” [at-Tafsir al-Muyassar, QS. Yunus: 109]

Demikian, semoga bisa memberikan sedikit pencerahan. Hanya Allah tempat kembali, dan semoga amal ibadah kita, baik berupa Zakat Fithri ataupun amalan lain, diterima disisi-Nya.*)

 

Wallaahua’lam

oleh:
✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah dan Pengampu Channel Telegram: t.me/kristaliman)

 

*) Tulisan ini banyak mengambil faidah dari makalah *Syaikhuna Prof. Dr. Shalih Sindi yang berjudul “Zakaatul Fithri Nuquudan Mujaanibun lis-Showaab”

Leave a Comment