RINGKASAN FIQIH ZAKAT FITHRI

Ringkasan Fiqih Zakat Fithri (dari beberapa Kitab & Makalah Ulama)

🍒Zakat secara bahasa bermakna: ath-Thaharah (kesucian), an-Namaa’ (pertumbuhan), al-Barokah (keberkahan).

🍒 Menurut ‘Umar bin ‘Abdil’aziiz rahimahullah, zakat fithri adalah maksud dari firman Allah:

(قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ. وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ)

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan ber-zakat fithri). dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat (‘iedul fithri). [QS. al-A’laa: 14-15]

🍒 Hikmah Zakat Fithri, Sebagai;

1. Penyuci bagi orang yang berpuasa dari dosa dan perkara sia-sia.
2. Makanan bagi faqir miskin, agar mereka tidak sampai meminta-minta di hari ‘ied, dan mereka bisa ikut bergembira sebagaimana orang-orang yang berkecukupan gembira di hari tersebut.
3. Zakat bagi badan yang keafiyatannya telah diberikan Allah selama setahun ini. Itu sebabnya zakat fithri ini juga wajib ditunaikan bagi anak kecil sekalipun, dan bagi orang gila bahkan.
4. Wujud syukur orang-orang yang berpuasa karena telah menunaikan puasanya.
5. Jalan meraih pahala dari ibadah khusus di waktu yang telah ditentukan (sejak terbenamnya matahari sampai sebelum ditegakkannya shalat ‘iedul fithri).
6. Penyempurna kebahagiaan bagi mukminin di hari ‘ied, dan penambal lobang-lobang cela ketika berpuasa.

🍒Hukum zakat fithri: wajib dengan kesepakatan Mazhab fiqih yang empat. Bahkan Ibnul Mundzir dan Ibnu Rusyd menukil ijma dalam masalah ini.

🍒Wajib atas siapa? Atas setiap muslim; baik merdeka atau budak, kecil atau dewasa, laki-laki atau perempuan, baik yang puasa maupun tidak (haidh/nifas dsb). Ibnu Rusyd menukil ijma akan hal ini. Dalilnya: riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar.

🍒Zakat Fithri tidak wajib bagi yang tidak mampu di saat waktu wajib zakat fithri telah tiba. Definisi mampu di sini adalah:

كلِّ مُسلمٍ مَلَكَ فاضلًا عن قُوته وقُوت مَن يَلزَمُه، ولو لم يَملِك نِصابًا، وهذا مذهَبُ الجمهورِ

“Setiap muslim yang punya kelebihan stok makanan pokok bagi dirinya dan bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya (di malam dan di hari ‘ied). Demikianlah madzhab jumhur…”

Jadi, sekalipun miskin namun punya kelebihan stok makanan pokok, tetap wajib zakat. Sebab dalam hadits Ibnu ‘Umar; yang wajib zakat fithri disebut secara mutlak, tidak dikaitkan dengan adanya nishob sebagaimana kata Hanafiyah.

🍒 Seseorang mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan orang-orang yang berada dibawah kewajiban nafkahnya. Seorang bapak mengeluarkan zakat untuk dirinya, istrinya, anak-anak atau kedua orangtuanya yang tidak mampu.

🍒 Adapun jika anak-anaknya atau orangtuanya mampu, maka ia tidak wajib menunaikan zakat untuk mereka. Demikian juga pembantu di rumah, tidak wajib ditunaikan zakatnya oleh tuan rumah. Merekalah yang wajib secara mandiri untuk berzakat.

🍒 Namun jika ia hendak menunaikan zakat mereka. Maka itu sah. Asalkan atas ijin dan sepengetahuan mereka. Sebab mereka juga wajib berniat untuk menunaikan zakat. Karena zakat adalah ibadah, dan ibadah harus dengan niat.

🍒 Hutang yang belum jatuh tempo–saat waktu wajib zakat telah tiba–tidak menggugurkan kewajiban zakat fithri. Ini disepakati Mazhab fiqih yang empat.

🍒 Kapan waktu wajib zakat fithri dibayarkan? Ada dua pendapat; (1) saat matahari Ramadhan terakhir terbenam, ini pendapat Syafi’i, Ibnu ‘Utsaimin, dan Lajnah Daaimah (2) saat fajar 1 Syawal terbit, ini pendapat Hanafiyah.

Konsekuensi perbedaan kedua pendapat ini terlihat pada seseorang yang meninggal setelah matahari terbenam di malam ‘ied. Pendapat kedua menyatakan; tidak wajib zakat fithri. Sementara menurut pendapat pertama; wajib ditunaikan zakatnya.

Pendapat pertama adalah pendapat yang lebih kuat dengan dalil-dalinya.

🍒 Seseorang yang baru masuk Islam, atau baru lahir, sebelum matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan, maka ia wajib ditunaikan zakat fithri-nya.

🍒 Siapa yang meninggal sebelum matahari terbenam di hari terakhir Ramadhan, maka ia tidak wajib zakat fithri.

🍒 Syarat wajib zakat fithri adalah merdeka. Bagi budak, maka yang wajib menunaikan zakat untuknya adalah tuannya. Ini disepakati oleh madzhab fiqih yang empat. Sebab, budak sejatinya tidak memiliki. Orang yang tidak memiliki, maka tidak wajib zakat.

🍒 Wajibkah suami membayarkan zakat fithri istri? Ada dua pendapat dalam masalah ini;
(1) tetap wajib ditunaikan suami jika si suami mampu -sekalipun istri sebenarnya mampu juga-, ini adalah madzhab jumhur,
(2) istri wajib zakat secara mandiri jika mampu, tidak wajib ditunaikan suami, ini pendapat Sufyan ats-Tsauri, Hanafiyyah, Zhahiriyyah, Ibnul Mundzir, dan Ibnu al-‘Utsaimin. Pendapat kedua ini kuat juga dengan dalil-dalinya.

🍒 Janin yang ada di kandungan tidak wajib zakat fithri. Namun Fuqaha ada yang mengatakan sunnah untuk ditunaikan, karena ‘Utsman pernah melakukannya.

🍒 Namun sudah menjadi ijmak bahwa yang afdol adalah dikeluarkan sebelum shalat ied setelah fajar terbit.

🍒 Ada rukhshah, zakat fithri boleh dibayarkan sehari atau dua hari sebelum ied. Berdasarkan riwayat al-Bukhari:

عنِ ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عنهما: (أنَّه كان يُعطيها الذين يَقبَلونَها، وكانوا يُعطُونَ قبل الفِطرِ بِيَومٍ أو يومينِ) 

🍒 Boleh menunaikan zakat fithri melalui wakil (panitia zakat) sejak hari pertama Ramadhan, namun dengan syarat wakil tersebut menyalurkannya paling cepat sehari atau dua hari sebelum shalat ‘ied.

🍒 Jenis zakat fithri hanyalah makanan pokok setempat, seukuran 1 sho’ (sekitar 3 kg beras, boleh jadi beratnya bervariasi tergantung jenis beras, yang penting seukuran 1 sho’). Ini pendapat yang rojih. Tidak boleh diganti dengan harganya.

🍒 Boleh menambah ukuran zakat fithri lebih dari 1 sho’ namun diniatkan sebagai sedekah sunnah biasa.

🍒 Zakat fithri boleh dibagi kepada lebih dari satu orang miskin, yang penting tidak kurang dari 1 Sho. Zakat beberapa orang juga boleh diberikan ke satu faqir miskin.

🍒 Siapa yang berhak menerima zakat fithri? Ulama beda pendapat dalam masalah ini;

(1) Terbatas untuk delapan golongan yang disebut dalam Surat at-Taubah saja; faqir, miskin, ‘amil zakat, muallaf, budak, orang terlilit hutang, pejuang di jalan Allah, dan Ibnu sabil. Ini pendapat jumhur; Syafi’iyyah, Hanafiyyah, dan Hanabilah.

(2) Terbatas untuk faqir dan miskin saja. Ini pendapat Malikiyyah, sebagian Hanabilah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, Bin Baaz, Ibnu al-‘Utsaimin. Dan inilah pendapat yang lebih kuat.

🍒 Seseorang yang tidak menunaikan zakat fithri sebelum shalat ‘ied, baik karena uzur maupun tidak, maka dia tetap wajib meng-qadha’ zakat fithri tersebut. Ini adalah madzhab jumhur, pendapat; Malaikiyyah, Syaafi’iyyah, Hanabilah, dan Ibnu Hazm Zhahiriyyah. Yang tidak menunaikannya sebelum shalat ‘ied tanpa uzur, dia berdosa dan wajib bertaubat disertai qadha’ zakat.

🍒 Zakat fithri tidak boleh diuangkan lalu disalurkan untuk pembangunan masjid atau proyek umum lainnya. Itu bisa diwujudkan melalui infaq biasa. Adapun zakat fithri, termasuk juga zakat maal, peruntukannya sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga tidak boleh disalurkan keluar dari ketentuan tersebut.

🍒 Ulama sepakat, bahwa seseorang tidak boleh memberikan zakat fithri-nya kepada orang-orang yang berada di bawah kewajiban nafkahnya, seperti kepada anak-anaknya atau orangtuanya.

🍒 Seyogyanya zakat fithri disalurkan di lingkungan tempat tinggal. Boleh disalurkan di luar jika ada kebutuhan, demikian menurut pendapat yang rojih.

🍒 Tidak boleh menyalurkan zakat fithri kepada orang kafir sekalipun dia adalah pekerja kita.

🍒 Termasuk kesalahan, mengeluarkan zakat dari makanan pokok berkualitas rendah atau buruk. Karena Allah itu baik, tidak menerima kecuali dari yang baik-baik saja.

____
Referensi:
–Fiqhul ‘Ibadaat – Kitaabuz Zakaat (dorar.net)
–50 Faa-idatan fii Zakaatil Fithri
–dan beberapa makalah lainnya.

 

Oleh:

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan redaksi buletin Al Hujjah, Pengampu Channel Telegram: t.me/kristaliman)

Leave a Comment