RINGKASAN RINCIAN MASALAH QUNUT SHUBUH

Ringkasan Rincian Masalah Qunut Shubuh (Berdasarkan Penjelasan Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili)

🍒 Fuqaha telah sepakat; bahwa qunut, selain qunut nazilah, tidak dilakukan di 4 shalat fardhu (Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya)

🍒 Fuqaha juga telah sepakat bahwa Nabi pernah qunut shubuh. Namun mereka berbeda pendapat; apakah Nabi melakukannya terus-menerus atau tidak.

🍒 Madzhab Hambali (Hanabilah) menganggap qunut shubuh hukumnya makruh, tidak sampai haram. Siapa yang meninggalkannya, dapat pahala. Siapa yang melakukannya, tidak berdosa, tidak juga berpahala.

🍒 Salah satu pendapat dalam Hanabilah menyebutnya haram. Demikian juga yang menjadi pendapat Hanafiyyah, qunut shubuh itu haram dilakukan.

🍒 Salah satu pendapat lagi dalam Hanabilah menyebut bahwa qunut shubuh selain qunut nazilah, adalah bid’ah. Ini juga pendapat sebagian Shahabat. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

🍒 Adapun dalam Madzhab Maalikiyyah, disebutkan bahwa qunut shubuh itu hukumnya mustahab (dianjurkan) untuk dilakukan. Namun mereka menyatakan;
–qunut shubuh tidak panjang, berdoa pendek saja (yasiiron)
–dilakukan secara sirr, doa qunut tidak dibaca jahr, dalam artian; suara imam tidak sampai didengar. Ini diqiyaskan dengan semua doa yang dibaca ketika shalat, yaitu dengan sirr, ini hukum asalnya.
–dilakukan tanpa mengangkat kedua tangan.
–dilakukan sebelum rukuk. Namun mereka membolehkannya dilakukan setelah rukuk.

🍒 Sementara dalam Madzhab Syaafi’iyyah, hukumnya sunnah.
–Qunut shubuh tidak panjang (yasiiron)
–dibaca jahr
–dilakukan setelah rukuk
–dengan mengangkat kedua tangan.

🍒 Sebab terjadinya khilaf fuqaha dalam masalah ini kembali pada 2 perkara;

(1) Apakah qunut yang dilakukan oleh Nabi ketika shalat shubuh, termasuk qunut nazilah ataukah qunut biasa tanpa sebab?

Anas bin Malik pernah ditanya apakah Nabi pernah qunut shubuh? Beliau menjawab; ya. Apakah beliau qunut sebelum atau sesudah rukuk? Beliau menjawab; setelah rukuk dengan doa yang ringkas. (Muttafaq ‘alaihi)

Terkait hadits Anas tersebut: baik Maalikiyyah maupun Syaafi’iyyah, mereka menyatakan bahwa qunut shubuh yang dilakukan Nabi adalah qunut biasa, bukan qunut nazilah. Qunut biasa tersebut untuk mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi muslimin secara umum, inilah ‘illah dalam hadits Anas di atas menurut mereka.

Adapun selain Maalikiyyah dan Syaafi’iyyah menganggapnya; qunut nazilah. (Inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili). Sebab Anas sendiri berkata:

“Nabi qunut shubuh selama sebulan, mendoakan kecelakaan bagi beberapa kabilah Arab (karena telah membunuh Shahabat)”. [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Ini dikuatkan lagi oleh Abu Hurairah yang mengatakan;

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا أن يدعو لأحد أو يدعو على أحد

“Sesungguhnya Nabi tidak qunut (saat shalat fardhu) kecuali untuk berdoa kebaikan bagi seseorang (dari kalangan muslimin) atau kebinasaan bagi seseorang (dari kalangan kuffar).” [HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh A’zhami]

Hadits ini menunjukkan, bahwa qunut yang dulu dilakukan Nabi adalah qunut nazilah, qunut ini juga yang beliau lakukan saat shalat shubuh.

(2) Apakah sebenarnya yang tidak dilakukan lagi oleh Nabi dalam qunut shubuh setelah sebulan melakukannya? Pertanyaan ini juga memunculkan khilaf.

Ini dikarenakan ada riwayat dalam Shahih Muslim, bahwa Anas berkata;

أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو على أحياء من العرب ثم تركها

“Nabi pernah qunut selama sebulan, mendoakan kebinasaan bagi beberapa kalangan Arab (kuffar), kemudian Nabi meninggalkannya (tidak lagi melakukannya).”

Terkait hadits ini, terjadi khilaf. Apa sebenarnya yang ditinggalkan atau tidak lagi dilakukan oleh Nabi? Apakah qunut shubuh, ataukah mendoakan kebinasaan orang kafir (yang telah membunuh Shahabat beliau)..??

Pendapat yang lebih kuat; bahwa yang ditinggalkan oleh Nabi adalah qunut subuh itu sendiri. Berdasarkan beberapa alasan berikut:

🍂 Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan;

أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا في صلاة الفجر

“Nabi melakukan qunut selama sebulan ketika shalat shubuh.”

Hadits ini menunjukkan, qunut shubuh yang pernah dilakukan Nabi tidaklah terus menerus. Karena jika dilakukan terus menerus maka lafaz “syahron” (selama sebulan) akan kehilangan esensi makna.

🍂 Abu Malik al-Asyja’i mengatakan; “aku pernah bertanya kepada bapakku; wahai ayah, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah, di belakang Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali di sini di Kufah selama kurang lebih 5 tahun. Apakah mereka melakukan qunut–shubuh (dalam riwayat Ibnu Majah)–?”. Bapakku menjawab;

يا بني محدث

“Wahai nak, itu perkara baru (bid’ah).” [HR. at-Tirmidzi, dinilai shahih al-Albani]

🍒 Terdapat riwayat atsar yang saling bertolak belakang dari pengamalan para Shahabat dalam masalah ini.

🍒 Disebutkan bahwa di kalangan kibar Shahabat yang melakukan qunut shubuh adalah; ‘Ali bin Abi Thalib dan Abu Musa al-Asy’ari.

🍒 Adapun kibar Shahabat yang tidak qunut shubuh adalah; Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu ‘Umar.

🍒 Jika atsar dari Shahabat bertolak belakang satu sama lain, maka keargumentasiannya menjadi jatuh (saqotho). Maka harus dikembalikan kepada asal, yakni dalil sunnah dalam hal ini, bahwa Nabi meninggalkan qunut setelah sebulan melakukannya.

🍒 ath-Thahawi menjelaskan; qunut yang dilakukan oleh ‘Ali dan Abu Musa adalah qunut nazilah. Karena di era ‘Ali, terjadi fitnah dan peperangan di tengah kaum muslimin, maka wajar jika dilakukan qunut nazilah demi mengangkat nestapa yang menimpa kaum muslimin. Abu Musa juga ketika itu menjabat sebagai Gubernur di bawah kekhalifahan ‘Ali, radhiallahu ‘anhum.

🍒 Jika itu termasuk bid’ah, lantas bolehkah shalat di belakang imam yang meyakini itu tidak termasuk bid’ah? Ya, para ulama sepakat; boleh dan sah shalat di belakang imam tersebut.

🍒 Lantas apakah kita harus ikut qunut jika imam shalat shubuh melakukan qunut? Dalam hal ini juga terjadi khilaf;
–Abu Hanifah dan murid beliau, Muhammad bin al-Hasan, keduanya mengatakan; makmum diam, tidak ikut qunut.
—Adapun Imam Ahmad dan Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) mengatakan; makmum juga ikut qunut. Ini juga yang difatwakan oleh Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin.

Adapun menurut Syaikhuna Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaili, masalah ini perlu dirinci;
–jika makmum berpendapat qunut shubuh itu bid’ah, maka dia jangan ikut qunut ketika imam qunut.
–jika makmum tersebut memandang qunut shubuh tidak sampai bid’ah, maka dia boleh mengikuti imam untuk qunut.

🍒 Dalam masalah qunut shubuh ini, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili menjelaskan bahwa kita tidak boleh menjadikannya sebab lahirnya fitnah dan pertikaian di tengah kaum muslimin. Tidak boleh menjadikannya sebagai acuan dalam ber-wala’ dan baro’, dalam artian “ini teman dan itu musuh”, gara-gara berbeda pendapat dalam masalah ini.

🍒 (Adapun kritik dan menyalahkan pendapat yang marjuuh secara ilmiah, maka ini boleh-boleh saja, selama menjaga adab-adab dalam berbeda pendapat terkait masalah khilaf yang mu’tabar. Bahkan pintu diskusi dan kritik ilmiah dalam masalah ini tidak boleh ditutup dengan alasan “memecah belah umat”. Semua pihak harus arif dan dewasa dalam menyikapi).

Demikian, semoga ringkasan ini memberi faidah. Wallahua’lam.

***

Referensi:
تفصيل قيم عن القنوت في صلاة الفجر /للشيخ سليمان الرحيلي حفظه الله
https://youtu.be/0WSvu_tzVrk

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment