GEMPA LAGI, GERHANA DAN GEMPA, APA YANG PERTAMA?

Gemuruh, Suara tapak kaki berhamburan mencari jalur evakuasi terdekat.

“Menyelamatkan diri”…
“Telpon sana-sini tanya kabar keluarga”…
“Share info lokasi gempa”…

Ini realita di lapangan. Wajar dan alami. Naluri manusia memang seperti itu.

Namun Islam mengajarkan; Ingatlah Allah dan jangan dilupakan saat gempa terjadi. Bahkan inilah yang seharusnya dijadikan prioritas utama.

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah Allah mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya (berupa fenomena dan bencana alam yang dahsyat) melainkan agar hamba-hamba Allah takut pada-Nya, lalu kembali ber-inabah, bertaubat, dan beribadah kepada-Nya”.

Demikianlah al-Quran mengajarkan.

Ketika ayat ini turun;

قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابٗا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعٗا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas (berupa badai, guntur, dll) dari bawah kakimu (berupa gempa, ditelan bumi, dll)…” (QS. Al-An’am: 65).

Rasulullah bergegas menengadahkan munajatnya pada Allah dengan berdo’a;

أعوذ بوجهك…

“Aku berlindung dengan wajah-Mu ya Allah”

Inilah yang pertama kali beliau lakukan, sebagaimana tertulis dalam Shahih al-Bukhari yang dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdillah.

Dalam riwayat lain disebutkan;

أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة

“Jika Rasulullah dirundung permasalahan (genting), maka beliau bergegas melakukan shalat (memohon pertolongan Allah)”. [Shahih Abi Dawud: 1319]

Inilah yang dituntunkan al-Quran; memohon pertolongan kepada Allah dari segenap kekalutan dan ketakutan kita dengan sabar dan shalat.

واستعينوا بالصبر والصلاة

**

Sekali lagi, inilah yang seharusnya dilakukan seorang mukmin ketika gempa terjadi. Bukan sibuk mencari lokasi gempa, berapa besar magnitudo-nya, berapa jauh kedalamannya, dan bagaimana analisa para ahli. Tak masalah, mencari info demi kesiapsiagaan. Namun jika sampai Allah terlupakan, maka ini tanda cacatnya iman.

Sebagian orang, tangannya begitu gatal untuk jadi yang terdepan (baca: pertamax) men-share info-info seperti itu, bahkan dibumbui tulisan-tulisan hoax terkait ramalan gempa mega-thrust berikutnya. Tanpa sadar dia telah ikut andil menyebar ketakutan di tengah masyarakat. Tak bisa dibayangkan berapa besar “dosa em-el-em” yang bakal ditanggungnya.

Sebagian yang lain, sibuk mencari tahu hubungan gempa dengan gerhana yang terjadi. Perhatikan apa manfaatnya?! Bisa menolak bencana yang bakal turun…?? Tentu tidak!! Menambah kesiapsiagaan saat gempa terjadi? Percuma jika maksiat jalan terus, shalat masih bolong-bolong, dan ilmu kosong melompong.

Kalaupun antara gempa dan gerhana ada hubungan sebab-akibat, itu lebih dikarenakan manusia memandang gerhana hanya sebatas fenomena biasa, bukan lagi tanda kebesaran Allah yang seharusnya membuat kita semakin takut dan mendekat kepada-Nya. Karena itu hanya fenomena biasa, kita lalai menegakkan Shalat Gerhana, lalai dari ucapan taubat dan dzikrullah. Lalai dari doa, lalai dari “Astaghfirullah”… ” Subhanallah”… “Allahuakbar”… dan kalimat-kalimat pengagungan pada Allah lainnya. Di sisi lain, maksiat juga sudah jadi hal biasa. Tak heran, jika Allah mengijinkan bumi bergoncang.

Sebab salah satu kausalitas pasti dalam al-Quran menegaskan; di mana dosa merebak, di sana bencana melanda.

فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ

Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40).

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh dosa-dosamu sendiri, dan itupun Allah telah banyak memaafkan (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Ash-Shura: 30).

Catatan: dosa yang terbesar dan yang terganas dampaknya adalah dosa kesyirikan, lalu dosa menyelisihi petunjuk Rasulullah. Satu-satunya cara membasmi dosa tersebut adalah dengan mengamalkan Tauhid dan Sunnah serta mendakwahkannya.

**

Untuk itu, yuk sikapi gempa yang bertubi-tubi ini dengan berlari kembali kepada-Nya. Dia sudah menegaskan hal itu dalam al-Quran:

ففروا إلى الله

“Berlarilah kalian segera menuju Allah (dengan taubat dan ketakwaan)… “

Biasakan hal pertama yang kita lakukan ketika terjadi gempa atau musibah lainnya (disamping mengupayakan keselamatan diri dan keluarga); adalah istighfar dan taubat, lalu shalat dan doa di dalamnya. Bayangkan jika setiap kita melakukannya. Bala dan bencana tak akan melanda InsyaAllah.

ما نزل بلاء قط إلا بذنب، وما رفع إلا بتوبة

Tak turun bencana, kecuali karena dosa. Dan takkan disingkap, kecuali dengan taubat.

Bencana yang silih berganti dan bertubi-tubi, pertanda suatu negeri tengah mengalami “mal-nutrisi rahmat” dari Sang Pencipta. Salah satu solusinya adalah; dengan merahmati hamba-hamba Allah lainnya. Santuni anak yatim. Bantu yang tak mampu. Tolong mereka yang susah. Jadilah insan berbagi. Dan jauhi secuilpun kezaliman, terlebih pada yang lemah.

ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Rahmatilah hamba-hamba Allah di bumi, niscaya Allah yang di langit akan merahmati kalian”. [al-Adab al-Mufrad, al-Bukhari]

Semoga bermanfaat, dan pahala untuk kita berlipat.

 

Oleh:

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi buletin Alhujjah)

Leave a Comment