AGAR DICINTAI ALLAH

AGAR DICINTAI ALLAH

(Fawaid Kajian Ust. Dr. Firanda, MA. | Masjid al-Fauzan Pontren as-Sunnah Bageknyaka Lotim | 27 Dzulhijjah 1440)

Tiga rukun ibadah, yang harus ada saat kita beribadah:

  1. al-Khouf: rasa takut kepada Allah
  2. ar-Roja’: rasa berharap kepada Allah
  3. al-Mahabbah: rasa cinta kepada Allah

Pujian Allah kepada hamba-Nya yang mewujudkan al-Khouf dan ar-Roja’ dalam ibadahnya;

اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا, وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. al Anbiya: 90)

Namun al-Mahabbah sering luput dari perhatian kita. Padahal jika diibaratkan burung (sebagaimana kata Ibnul Qayyim) al-Mahabbah adalah kepalanya, sementara al-Khouf dan ar-Roja’ adalah kedua sayapnya.

Ibnu Taimiyyah mengatakan;

المحبة هي المحركة

“Cinta (kepada Allah) adalah penggerak utama (ibadah)”

Di antara do’a yang diperintahkan Nabi untuk dipelajari adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Do’a diatas mengandung permohonan cinta Allah.

Musa rindu berbicara dengan Allah. Itulah sebabnya beliau bersegera datang mendahului kaumnya, agar Allah ridho.

“Dan mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa? Dia (Musa) berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau ridha (kepadaku).” (QS. Taha: 83-84)

Setelah Musa bicara dengan Allah, Musa rindu ingin melihat Allah.

…Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau…”. (QS. Al A’raf: 143)

Demikianlah kecintaan dan kerinduan Musa pada Allah. Itulah yang mendorongnya selalu taat dan mendekat kepada Allah.

Adapun Rasullulah, beliau berdo’a dan mengajarkan kita do’a;

وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ

“… dan aku memohon kepada-Mu ya Allah, kelezatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan bertemu dengan-Mu”. (QS. an-Nasai:1305)

Meraih cinta Allah, adalah impian para Nabi dan orang-orang Shalih. Para sahabat sangat ingin dicintai Allah. Sebagaimana kisah bendera pasukan Khaibar. Rasulullah akan memberikannya kepada seorang laki-laki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Para sahabat heboh membicarakan siapakah laki-laki yang beruntung tersebut. Mereka semua berharap diberi bendera tersebut. Sampai-sampai ‘Umar mengatakan; saya tidak pernah berhasrat pada kepemimpinan kecuali pada saat tersebut. Karena inginnya ‘Umar mendapat predikat dicintai Allah dan mencintai Allah.

Seorang wanita, seorang ibu rumah tangga, dikirimi salam oleh Allah melalui Jibril. Dia-lah Khadijah istri Rasulullah. Ibu-ibu bisa mendapatkan cinta Allah, namun jangan angkat suara (membangkang) di hadapan suaminya (pada perkara yang makruf). Ibu rumah tangga biasa yang bertakwa, bisa meraih cinta Allah.

Buah dicintai Allah

  1. Allah akan bersama dengannya, dengan kebersamaan yang lebih khusus, dia akan dipelihara Allah dengan pemeliharaan-Nya yang sempurna, yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
  2. Do’anya akan mustajab.

Dalilnya; hadits Wali yang diriwayatkan Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari.

Orang yang dicintai Allah, masih mungkin diberi musibah. Bahkan jika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka dengan musibah.

Bagaimana Agar Bisa Dicintai Allah? Ibnul Qayyim menyebutkan di antaranya

Pertama; belajar mencintai orang lain karena Allah.

Seperti kisah seseorang yang menziarahi saudaranya. Dia datang menziarahi bukan karena dunia, bukan karena materi, tapi semata-mata karena dia mencintainya karena Allah. Lantas malaikat berkata kepadanya;

“Sesungguhnya aku utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu”. [Shahih Muslim: 2567]

Salah satu bukti mencintai saudara karena Allah adalah; berinfak dengan sesuatu yang kita cintai kepadanya. Allah berfirman;

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 92)

Para Sahabat sangat antusias mengamalkan ayat ini:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,” (QS. Al Insan: 8)

Kedua; bermunajat dan berduaan dengan Allah di ⅓ malam terakhir. Saat itu Allah turun ke langit di dunia.

Rasul bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ؟ “.

“Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam di sepertiga malam yang terakhir. Allah berfirman; Mana (hamba) yang berdoa kepada-Ku? Aku akan kabulkan. Mana yang meminta kepada-Ku? Aku akan beri. Mana yang meminta ampun kepada-Ku? Aku akan ampuni.” [al-Bukhari & Muslim]

Kita sudah terbiasa cari muka di hadapan manusia. Kapan cari muka di hadapan Allah? Bangun shalat di akhir malam adalah cara terbaik cari muka di hadapan Allah, agar Allah mencintai kita.

Ketiga; mengenal dan memahami Nama-Nama Allah yang Maha Indah dan Maha Sempurna.

Pepatah mengatakan; tak kenal maka tak sayang.

Di antara cara mencintai (dan dicintai) Allah adalah dengan membaca kalam-Nya (al-Quran). Melalui tilawah dan tadabbur kita bisa mengenal Allah, mengenal Nama-Nama dan Sifat-Nya. Namun ini butuh pemahaman, butuh belajar bahasa Arab, belajar tafsir.

Keempat; merenungkan nikmat-nikmat Allah kepada kita.

Sebab kita cenderung mencintai orang yang banyak berbuat baik kepada kita. Maka bagaimana lagi dengan Allah, yang kebaikan-Nya dan kenikmatan-Nya tak terhingga?

Terlalu banyak Allah memberi kita nikmat, padahal kita tidak pernah memintanya. Dengan mengingat-ingatnya, kita akan cinta kepada Allah. Kita pun semakin bertaqarrub kepada-Nya, sehingga Allah pun akan mencintai kita.

Kelima; mengamalkan sunnah Rasulullah, dan menjauhi bid’ah.

Allah berfirman;

Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

Rasulullah bersabda;

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ،

Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melebihi amalan wajib. Hamba-Ku tersebut terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku pun mencintainya. (Al-Bukhari)

 

Wallahu’alam

Oleh:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pimpinan Redaksi Buletin Alhujjah)

Leave a Comment