ADA APA DENGAN DO’A TOLAK BALA?

Awas, Beredar Anjuran Do’a Tolak Bala Rasa Syi’ah Bumbu Syirik

Hari ini (Selasa, 7 April 2020) tiba-tiba saja beredar sebuah Maklumat yang berisi 8 poin himbauan.

Mungkin banyak orang yang tidak memperhatikan. Bahwa pada poin ke-6, terdapat himbauan agar umat muslim membaca do’a tolak bala yang lafaznya sebagai berikut;

لي خمسة أطفي بها حر الوباء الخاتمة ** المصطفى والمرتضى وابناهما وفاطمة

Artinya:
“aku punya lima (sosok), yang dengannya aku memadamkan panasnya wabah, -mereka adalah- Nabi penutup al-Musthofa, al-Murtadho (‘Ali), kedua putranya (Hasan & Husein), dan Fathimah “

Berikut adalah beberapa tanggapan atas do’a yang dikatakan do’a tolak bala tersebut:

1. Sebenarnya, lafaz yang dikatakan do’a tolak bala tersebut adalah syair yang dinukil oleh Ahmad Ridho Khan al-Balerwi (1856-1921) pendiri Tarekat Sufi al-Balerwiyyah dari Pakistan. Dia terindikasi kuat pengagum berat Syi’ah namun berkedok Sunni. Syair yg dinukilnya dalam al-Fatawa ar-Radhwiyyah (6/187) itu berbunyi:

لِي خَمْسَةٌ أُطْفِي بِهاَ حَرَّ الوَباَءِ الحاطِمَة
المُصْطَفَى وَالمُرتَضَى وَابْناَهُماَ وَفَاطِمَة

Artinya:
“aku punya lima (sosok), yang dengannya aku memadamkan panasnya wabah yang dahsyat, -mereka adalah-; al-Musthofa (Nabi), al-Murtadho (‘Ali), kedua putranya (Hasan & Husein), dan Fatimah “

Tulisan-tulisan Ahmad Ridho Khan al-Balerwi banyak sekali mengandung pengkultusan melampaui batas pada Ahlul Bait. Dia juga sering membawakan riwayat-riwayat Syi’ah, seperti;

إن علياً قسيم النار

“Sesungguhnya ‘Ali dalah pembagi neraka”. [al-Amnu wal-‘Ula: 58, al-Balerwi]

2. Jelas sekali lafaz syair yang dikatakan do’a tolak bala tersebut tidak mengandung ungkapan permintaan kepada Allah Ta’ala sama sekali, justru mengandung unsur kesyirikan, jika melihat makna zhahirnya. Paling tidak syirik kecil, jika dimaksudkan sebagai tawassul kepada Allah Ta’ala melalui jah (kehormatan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ahlul Bait. Karena tidak ada riwayat yang shahih bahwa para sahabat-sahabat terkemuka semisal Abu Bakar dan ‘Umar, dan juga ribuan Sahabat lainnya, pernah bertawassul dengan jah Ahlul Bait sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tawassul yang disyariatkan, hanya ada tiga (3) bentuk;

1. Tawassul dengan amal shalih
2. Tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam do’a.
3. Tawassul melalui do’anya orang shalih yang masih hidup.

Hanya tiga ini yang ada dalil-dalilnya yang shahih.

3. Adapun jika diyakini bahwa kelima hal itu mampu dengan sendirinya menangkal bala’, maka jelas ini termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan dari Islam, na’udzubillah.

4. Lalu di manakah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa dalam lafaz syair yang katanya do’a tolak bala tersebut? Sama sekali tidak disebutkan Allah di situ. Padahal hanya Dia yang mengabulkan do’a. Hanya Dia yang mampu menolak dan mengangkat bala’. Bahkan Dia-lah yang menciptakan Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein radhiallahu ‘anhum ajma’in.

5. Kenapa justru bukan do’a-do’a dari al-Quran atau yang asli datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dianjurkan? Do’a manakah yang lebih mulia dan lebih hebat; do’a yang diturunkan Allah Ta’ala, yang diajarkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ataukah do’a buatan manusia yang tidak jelas siapa dia, yang justru lebih kental aroma Syi’ah-nya?

6. Jika kita renungkan, justru do’a-do’a tolak bala yang diajarkan al-Quran atau yang dituntunkan Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengandung ikrar Tauhidullah. Ini jauh bertolak belakang dengan kandungan lafaz syair yang katanya do’a tolak bala tersebut.

Contohnya, lafaz dzikir yang diucapkan oleh Yunus ‘alaihissalam ketika ditelan ikan Hut yang besar:

لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

”Tidak ada ilah yang berhak diibadahi (dan dimintai pertolongan) selain Engkau Ya Allah, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87).

Berkat tahlil dan tasbih tersebut, Allah Ta’ala menyelamatkan Yunus ‘alaihissalam.

Adapun dzikir yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi kesusahan dan kesempitan, contohnya adalah;

لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ العَظِيمُ الحَلِيمُ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ

“Tidak ada ilah selain Allah yang Maha Agung lagi Maha Penyantun (yang tidak tergesa-gesa dalam menghukum). Tidak ada ilah selain Allah, Rabbnya ‘Arsy yang agung. Tidak ada ilah selain Allah, Rabb bagi segenap langit dan bumi, dan Rabbnya ‘Arsy yang mulia.” [Shahih al-Bukhari: 7426, Muslim: 2730]

Lihatlah, semuanya mengandung ikrar Tauhid. Berarti dengan tauhid, kita akan diselamatkan di dunia dan akhirat.

7. Justru di saat-saat seperti ini, seluruh umat semestinya kembali murni menyeru Allah Ta’ala semata. Sungguh aneh, justru orang-orang musyrik terdahulu, jika mengalami suasana genting, mereka kembali memurnikan do’a mereka hanya kepada Allah Ta’ala saja. Mereka lupakan berhala-berhala mereka. Allah Ta’ala pun menyelamatkan mereka. Hanya saja, setelah mereka diselamatkan Allah Ta’ala, mereka kembali berbuat kesyirikan dengan menyeru selain Allah Ta’ala.

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65).

Nah, apakah kita justru akan melakukan sebaliknya? Menyeru selain Allah Ta’ala di saat musibah seperti ini? Kita tidak boleh lupa, bahwa binasanya umat-umat terdahulu, justru karena mereka berbuat kesyirikan, mereka menyeru kepada selain Allah Ta’ala. Ini banyak dikisahkan dalam al-Quran.

Tidak ada tempat berlari dari azab Allah Ta’ala melainkan dengan kembali kepada Allah Ta’ala semata, dengan menghilangkan sekecil apapun ketergantungan di hati terhadap makhluk.

Wallahu’alam

___________
Buletin Dakwah alhujjah.com
Telegram: t.me/kristaliman

Referensi:
— موسوعة الفرق: الطريقة البريلوية (dorar.net)

#Covid-19
#SolidaritasBersama
#WaspadaCorona
#DiRumahAja

Leave a Comment