SAHABAT RASULULLAH ﷺ & KULIT SEMANGKA

SAHABAT RASULULLAH ﷺ & KULIT SEMANGKA
Dari Apa Itu “Gokil” Hingga Permainan #DiRumahAja
(Biasakan Baca Sampai Akhir)

Ketika mendapati riwayat berikut ini, mungkin sebagian di antara kita -yang latah dengan istilah kekinian- akan mengatakan; “Wah, Sahabat Rasul Gokil juga yah..?!”

Saya, terus terang, ketika mendengar kata “Gokil”, apalagi ditujukan kepada para Sahabat yang mulia, langsung dahi saya berkerut, kedua alis bertemu. Oke, sebelum kita bahas apa itu “Gokil”, kita simak dulu riwayatnya.

Tabi’in yang terkenal, Bakr bin ‘Abdillah al-Muzani (wafat: 106-H) meriwayatkan:

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَبَادَحُونَ بِالْبِطِّيخِ ، فَإِذَا كَانَتِ الْحَقَائِقُ كَانُوا هُمُ الرِّجَالَ، وصححه الشيخ الألباني رحمه الله .
ومعنى ( يتبادحون بالبطيخ ) أي : يترامَوْن به . غريب الحديث للخطابي (3 /114) ، ولسان العرب (2/408) .

“Dulu para Sahabat Rasulullah ﷺ saling melempar kulit semangka (sebagai candaan antar mereka). Namun dalam urusan yang sesungguhnya, mereka adalah para lelaki sejati.”

Riwayat tersebut shahih. Dicantumkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah (wafat: 256-H) dalam kitabnya al-Adabul Mufrad (266). Di-shahih-kan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah.

*

Sekarang, saya ingin balik ke pembahasan “Gokil”. Apa itu Gokil? Saya pun sempat bingung dan bertanya-tanya. Kok bisa istilah ini begitu nge-trend. Dari mana asalnya ya? Setelah browsing dan searching, ternyata istilah ini berasal dari kata ” Gil(a)” yang diberi sisipan “ok” di tengahnya. Ini khas Jakarta. Seperti kata “Bokap” dari “Bap(ak)” lalu disisipkan “ok”. Kata “Nyokap” juga demikian, dari kata “Nyak”.

Namun “Gila” yang dimaksud “Gokil” di sini, ditujukan untuk makna yang positif; sesuatu yang mengagumkan, unik, atau lucu. Jika demikian, secara bahasa tidak salah kiranya seseorang mengatakan “Gokil” pada sikap Sahabat yang bermain saling lempar kulit semangka. Tentunya, tanpa bermaksud merendahkan martabat Sahabat yang telah Allah tinggikan dalam al-Quran. Karena merendahkan martabat mereka, sama saja dengan merendahkan agama.

*

Ternyata, hari demi hari yang dilakoni para Sahabat tidaklah kaku dan jumud. Terlepas dari megahnya istana keimanan & ketakwaan mereka, di sebagian kecil sudut kehidupan, they are just like us., “mereka sama seperti kita”. Fragmen-fragmen kehidupan mereka yang penuh dengan ilmu, amal ibadah, tangisan ketika shalat dan tilawah, pengorbanan jiwa-raga demi membela agama Allah, terkadang diselingi juga oleh canda tawa penuh keakraban dan persaudaraan antar mereka.

Namun saya tidak terpikirkan sedikitpun, bahwa permainan “saling lempar kulit semangka” ini, dilakukan oleh para sesepuh Sahabat yang teristimewa semisal; al-Khulafaa’ ar-Raasyiduun. Kemungkinan —wallahua’lam— permainan tersebut dilakukan oleh beberapa sahabat yang masih remaja dan sebaya. Hanya antar sesama mereka.

Juga, bermain dan bercanda yang dilakukan para Sahabat, tidaklah berlebihan. Hanya sekedar nge-refresh “jiwa yang letih” saja. Tujuannya; agar lebih bersemangat dalam beramal. Ga ada tuh yang sampe berdusta, nge-roasting (menggoreng-bully) seseorang demi gelak tawa. Apalagi sampai nge-prank. Sebab, itu semua diharamkan.

*

Nah, buat Bapak² dan Emak², mumpung masih suasana lebaran dan #StayAtHome, kesempatan deh, untuk bermain sejenak bersama pasangan, atau bersama anak-anak. Sesekali manjakan mereka dengan permainan yang mubah. Nggak harus lempar-lemparan kulit semangka. Lempar-lemparan amplop lebaran juga boleh. Kalo ga ada amplop yang dilempar, minimal suami istri bisa saling lempar senyuman & pandangan. Siapa lebih dulu berkedip, dia yang kalah. Dijamin seru dan happy ending. Selamat mencoba. Baarakallaahufiik. 🙂

___
Lombok, 3 Syawwal 1441 | 26 Mei 2020

Oleh:

Johan Saputra Halim
(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Follow Telegram: t.me/kristaliman

Leave a Comment