REMBULAN DAN ULAMA

Rembulan & Ulama

Dalam sebuah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Nabi bersabda:

من سلك طريقًا يطلبُ فيه علمًا ، سلك اللهُ به طريقًا من طرُقِ الجنَّةِ ، وإنَّ الملائكةَ لَتضعُ أجنحتَها لطالبِ العلمِ رضًا بما يصنع ، وإنَّ العالمَ لَيستغفرُ له مَن في السمواتِ ، ومن في الأرضِ ، والحيتانُ في جوفِ الماءِ ، وإنّ فضلَ العالمِ على العابدِ كفضلِ القمرِ ليلةَ البدرِ على سائرِ الكواكبِ ، وإنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ ، وإنَّ الأنبياءَ ، لم يُوَرِّثوا دينارًا ، ولا درهمًا ، إنما وَرّثوا العلمَ ، فمن أخذه أخذ بحظٍّ وافرٍ.

“Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama), maka Allah akan menjadikannya menempuh suatu jalan di antara jalan-jalan menuju surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena ridho dengan aktivitas mereka (dalam menuntut ilmu).
Dan sungguh, makhluk yang di langit juga makhluk di bumi, termasuk ikan di kedalaman lautan, benar-benar berdoa memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu.
Dan sungguh, keutamaan orang yang berilmu di atas ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama dibanding benda-benda langit lainnya (yang tidak bercahaya, seperti planet).
Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”
[Shahih al-Jami’: 6297]

🍒 Beberapa Fawaid Hadits:


(1) Betapa tinggi dan mulianya kedudukan orang yang berilmu tentang agama Allah. Mudah masuk surga, dihormati para malaikat, didoakan oleh makhluk di langit dan bumi, lebih mulia dari ahli ibadah, dan menjadi pewaris para Nabi.

(2) Alasan kenapa orang berilmu diumpamakan seperti rembulan purnama adalah; karena purnama merupakan benda langit yang paling bercahaya di malam hari bagi penduduk bumi. Menjadi penerang di malam gelap. Memberi petunjuk bagi orang-orang di bumi. Demikian pula orang berilmu, menerangi dan memberi petunjuk di kegelapan.

(3) Kemuliaan ilmu yang ada pada orang berilmu, tidak bersumber dari diri mereka pribadi, melainkan dari Allah dan Rasul-Nya. Karena cahaya bulan bersumber dari pantulan cahaya matahari, bukan dari bulan itu sendiri. Demikian pula cahaya orang-orang berilmu, bersumber dari cahaya al-Quran dan as-Sunnah, bukan dari diri mereka pribadi. Sehingga sangatlah tepat dan cocok sekali, Nabi memisalkan orang berilmu dengan bulan purnama.

(4) Orang yang sibuk mendalami ilmu syariat Allah dengan niat yang ikhlas, maka dia tengah melakukan ibadah yang sangat besar. Lebih besar dari ibadahnya para hali ibadah.

(5) Ahli ibadah yang dimaksud dalam hadits ini, bukan ahli ibadah yang beribadah tanpa ilmu sama sekali. Melainkan ahli ibadah yang berilmu tentang hal-hal pokok dan terpenting saja dalam urusan agama, bukan berilmu secara mendalam dan luas. Karena jika ibadah dilakukan tanpa ilmu, atau sekedar ikut-ikutan, cenderung akan menghasilkan penyimpangan dan dosa, bukan ketaatan dan pahala.
Demikian sebaliknya, orang berilmu yang dimaksud dalam hadits ini, adalah orang berilmu yang beramal, dan ilmunya bermanfaat bagi dirinya sebelum bagi orang lain.

(6) Hadits ini mengisyaratkan wajibnya memuliakan para ulama. Karena jika para malaikat saja menghormati mereka, maka kita tentu lebih-lebih harus menghormati mereka juga.

(7) Makhluk di langit dan di bumi, bahkan ikan di lautan ikut mendoakan orang berilmu. Dikarenakan manfaat ilmu mereka yang begitu luas. Sampai-sampai ikan di laut pun merasakan manfaat tersebut. Mereka adalah perantara dan penyebab turunnya rahmat Allah yang luas dan merata bagi segenap makhluk di bumi.

 

📜 Sumber bacaan:
Syarh al-Mausuu’ah al-Haditsiyyah (dorar.net)

 


Belencong, 08 Jumadal Akhirah 1440 | 02022020

Oleh:

Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)
Follow Telegram: t.me/kristaliman

Leave a Comment