Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Bulletin Al-Hujjah Vol: 11-IX/Jumadal Ula-1429/Mei-08

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 kelompok dan hanya satu kelompok yang dipastikan selamat dan jaya di dunia dan akhirat. Para ulama kita sepakat bahwa satu kelompok yang dijamin selamat tersebut adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun seiring waktu, hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi semakin pudar dan asing, bahkan bertolak belakang dengan paham keumuman. Tulisan ini mencoba menuntun Anda dalam memaknai Hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah

Panduan Bersuci

Bulletin Al-Hujjah Vol: 10-IX/Jumadal Ula-1429/Mei-08

Panduan Bersuci Menurut Al-Qur’an & Sunnah yang shahih

 .:: Serial Fiqh Praktis #01 ::.

Thaharah atau bersuci dari hadats dan na’jis adalah syarat yang bersifat mutlak dalam ibadah fardhu seperti sholat. Ibadah sholat yang senantiasa kita kerjakan, tidak akan bernilai apa-apa jika dikerjakan tanpa bersuci terlebih dahulu. Yang tidak kalah penting, tata cara bersuci juga harus didasari oleh ilmu yang shahih menurut al-Qur-an dan Sunnah. Karena sah tidaknya amalan Thaharah kita, sangat bergantung pada kesesuaiannya dengan contoh yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Pembahasan kali ini memberikan panduan singkat dan praktis perihal seluk-beluk Thaharah, yang ternyata banyak luput dari pengetahuan kita sebagai seorang Muslim.

SEKOLAH SALAF

Buletin Al-Hujjah Vol: 09-IX/Rabi’ut Tsani-1429H/April-08

Upaya Meraih Kembali Kejayaan Generasi Islam

Sebagai orangtua muslim yang baik, merencanakan dan memasukkan putra-putrinya ke sekolah diniyyah (keagamaan) yang mengajarkan al-Qur-an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf as-Shalih adalah suatu hal yang teramat urgen. Karena memberikan pendidikan agama yang benar kepada mereka, merupakan kewajiban yang ditekankan oleh nash al-Qur-an.

Ayat-ayat Cinta

Buletin Al-Hujjah Vol: 08-IX/Rabi’ul Awwal-1429H/April-08

“ANTARA DAKWAAN & KENYATAAN”

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[QS. Ali ‘Imraan: 31]

Jika hendak diartikan secara harfiah, Ayat-Ayat Cinta berarti Tanda-Tanda Cinta. “Tanda-tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, makna inilah yang hendak kami angkat sebagai titik sentral kajian Tafsir kita kali ini. Menilik fenomena belakangan ini, dimana kaum muslimin seolah kehilangan figur sejati untuk dicintai. Mereka berbondong-bondong mengidolakan tokoh fiktif novel ketimbang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, teladan sejati –yang riil (nyata)- bagi kaum muslimin dalam hal cinta dan ketulusan

Mengenal Hakikat WALI ALLAH & WALI SYETAN

Buletin Al-Hujjah Vol: 07-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08

Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah 

Bermacam pandangan telah mewarnai bursakewalian, ada yang berpandangan bila seseorang telah memiliki halhal yang luar biasa berarti dia telah sampai pada tingkat kewalian,seperti tidak luka bila dipukul dengan senjata tajam dan sebagainya. Sebagian orang berpendapat bila sudah pakai baju jubah dan surban berarti sudah wali, sebagian lain berpendapat bila seseorang suka berpakaian kusut dan bersendal cepit berarti ia wali, ada pula yang berpandangan bila seseorang kerjanya berzikir selalu berarti dia wali. Dan banyak lagi pendapat-pendapat tentang perwalian yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu di sini.

Merajut Ulang Makna ‘USWATUN HASANAH’

Buletin Al-Hujjah Vol: 06-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08
“Antara Sunnah Fi’liyyah & Sunnah Tarkiyyah”
 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

[QS. Al-Ahzaab: 21]

Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling sering terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai ummat Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dan ikutan dalam mengamalkan agama. Belakangan, mencuat sebuah pertanyaan, sudahkah makna inti ayat tersebut terealisasi pada diri dan masyarakat muslim kita? Dan apakah kita telah memahami hakikat “uswatun hasanah” yang diinginkan oleh ayat tersebut?

SYARH HADITS : “Baadiru bil A’maal..”

Buletin Al-Hujjah Vol : 05-IX/Shafar-1429/Mar-08 

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا

وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Arti hadits: (Rasulullah bersabda), “Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.”

(Shahih Muslim, no 118. Lihat kitab as-Shahihah no. 758 oleh Imam al-Albani).

DASAR-DASAR PENETAPAN AQIDAH

Buletin Al-Hujjah Vol: 04-IX/Shafar-1429H/Feb-08
Menurut Al-Qur’an & Sunnah 

Aqidah adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan keyakinan yang teguh dan pasti tentang permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hati diluar amal, seperti iman pada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, hari akhir serta taqdir yang baik maupun yang buruk. Masuk dalam istilah ini juga permasalahan-permasalahan cabang dari pokok di atas.

MUI : SYIAH TIDAK SESAT.. ?

Buletin Al-Hujjah Vol: 03-IX/Muharram-1429H/Feb-08
"Catatan Atas Pernyataan Ketua MUI-NTB" 

Tulisan ini telah dilansir oleh Harian NTB Post, Selasa 22 Januari 2008 (Jazaahumullaahu Khoiron), dengan sedikit perubahan dari redaksi NTB Post tanpa merubah makna dan maksud tulisan. Kami (redaksi al-Hujjah) mengangkat kembali tulisan ini sesuai dengan naskah asli yang disusun oleh Bidang Dakwah Islamic Centre al-Hunafa’ Mataram.

Tahun Baru Hijriah Momentum Al-Wala’ wal Bara’

Buletin Al-Hujjah Vol: 02-IX/Muharram-1429H/Jan-08 

Al-Wala’ berarti cinta dan loyalitas terhadap ke-Islaman, terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa keimanan, orang-orang beriman, syi’ar-syi’ar Iman dan Islam yang shahih, dll.

Al-Bara’ mengandung makna benci dan berlepas diri dari apa-apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya berupa kesyirikan, orang-orang musyrik, syi’ar-syi’ar kesyirikan, kemaksiatan, kebid’ahan, dll.

Pergantian tahun baru Hijriah setiap 1 Muharram, seharusnya menjadi ajang pembelajaran bagi kita akan aqidah al-Wala’ al-Bara’.

1 10 11 12 13