Mencari Rizki Barokah

Mencari Rizki Barokah

Allah telah mengatur ajal dan rezeki manusia. Oleh karena itu, dicari dengan cara apapun, yang halal maupun haram, ia hanya akan mendapatkan apa yang telah ditetapkan Allah atas dirinya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerangkan ini dalam sabda beliau (artinya): “Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan…

Pentingnya Tadabbur Al-Qur’an

Pentingnya Tadabbur Al-Qur’an

Membaca al-Qur’an dan mentadabburinya termasuk pintu hidayah yang paling besar, karena bisa menuntun seseorang kepada jalan yang lurus, Allah subhanahu wata’ala berfirman: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيْراً “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS :al-Isra’ :9).

Buah Taqwa (bagian 2)

Buah Taqwa (bagian 2)

lanjutan dari Buah Taqwa (bagian 1) 05-Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa Allah subhanahu wata’ala berfirman: إِن تَتَّقُواْ الله يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَالهَُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ”Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqaan, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian, dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Al-Anfal : 29)

Buah Taqwa (bagian 1)

Buah Taqwa (bagian 1)

Sesungguhnya wasiat Allah subhanahu wata’ala yang paling agung yang diwasiatkan kepada hamba-hamba-Nya adalah takwa. Allah subhanahu wata’ala berfirman: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ “Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian; agar bertakwa kepada Allah.” (An-Nisaa’ : 131)

Jadwal Kajian Safari Syaikh Abdurrazzaq di Indonesia 20 – 26 April 2013

Jadwal Kajian Safari Syaikh Abdurrazzaq di Indonesia 20 – 26 April 2013

Berikut ini adalah jadwal kajian Syaikh Abdurrazzaq hafizohullah selama di Indonesia (insya Allah): SABTU 20 APRIL 2013 Tema: Pentingnya Memakmurkan Masjid Waktu: Ba’da Maghrib Tempat: Masjid Al-Fath, JATINEGARA, JAKARTA AHAD, 21 APRIL 2013 (1) Tema: Cinta Nabi Waktu: 09.00 – 11.30 Tempat: Masjid Istiqlal, JAKARTA (2) Tema: Penyihir yang Malang Waktu: Ba’da Isya’ Tempat: Masjid Kampus UGM, YOGYAKARTA

Jenis-Jenis Air untuk Bersuci

Jenis-Jenis Air untuk Bersuci

Para fuqahâ’ telah membagi jenis air menjadi tiga bagian, jika ditinjau dari sisi kesucian dan fungsinya untuk digunakan sebagai media bersuci (Thahârah). Pertama, al-Mâ-ut Thahûr, yaitu air yang suci dan bisa mensucikan yang lain dari na’jis. Kedua, al-Mâ-ut Thahûr Ghairil Muthahhir, yakni air yang suci (tidak na’jis) namun tidak bisa mensucikan yang lain dari na’jis. Ketiga, al-Mâ-un Najas, yaitu air yang tidak suci alias na’jis dan sudah barang tentu tidak bisa mensucikan yang lain. Berdasarkan…

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allâh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih, sungguh pasti Allâh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan umat sebelum mereka berkuasa. Dan Allâh akan mengokohkan agama yang telah diridhai bagi mereka (yaitu Islam). Dan Allâh akan menggantikan keadaan mereka dari takut menjadi aman. Mereka menyembah hanya Aku, dan tidak berbuat syirik pada-Ku sedikitpun. Barangsiapa kufur nikmat setelah itu, maka merekalah orang-orang yang fasiq.” [QS. An-Nuur: 55]

Sababun Nuzûl

Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdi rahimahullâh (wafat: 1422-H)[1] membawakan sebuah riwayat tentang peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ الْمَدِينَةَ وَآوَتْهُمُ الْأَنْصَارُ رَمَتْهُمُ الْعَرَبُ عَنْ قَوْسٍ وَاحِدَةٍ كَانُوا لَا يَبِيتُونَ إِلَّا بِالسِّلَاحِ وَلَا يُصْبِحُونَ إِلَّا فِيهِ، فَقَالُوا: ” تَرَوْنَ أَنَّا نَعِيشُ حَتَّى نَبِيتَ آمِنِيْنَ مُطْمَئِنِّيْنَ لَا نَخَافُ إِلَّا اللَّهَ؟ فَنَزَلَتْ (الآية)

“Dari ‘Ubay bin Ka’ab radhiallâhu’anhu, beliau berkata: ‘Tatkala Rasulullâh r dan para Sahabatnya tiba di Madinah (dalam rangka hijrah), dan kaum Anshâr mengakomodir mereka. Saat itu, bangsa Arab semuanya bersatu memusuhi mereka. Sehingga mereka tidak tidur dan tidak bangun di pagi hari melainkan dengan ditemani pedang (inilah gambaran tentang suasana mencekam yang menteror mereka). Mereka mengatakan: ‘Apakah menurut kalian kita ini akan tetap hidup sehingga bisa merasakan tidur nyenyak dalam rasa aman dan tenang, di mana kita tidak takut pada apapun kecuali pada Allah saja? Maka turunlah ayat tersebut di atas.”[2]

 

Misi Syi’ah di Balik Hari Raya Karbala

Misi Syi’ah di Balik Hari Raya Karbala

Menjelang Muharram, kaum Syi’ah mulai bersiap menyambut satu hari yang mereka sebut sebagai “Hari Peringatan Tragedi Karbala”. Bagi mereka, hari tersebut adalah hari kelam yang bernilai ibadah jika dirayakan dengan kesedihan dan ratapan. Teriakan tangis mengiringi ratapan dan syai-syair kesedihan. Mereka merobek baju, menyiksa diri dengan menampar-nampar wajah, memukul-mukul tubuh dan kepala, bahkan memukulkan benda-benda tajam disekujur tubuh mereka. Konon, itu adalah “ungkapan berkabung atas terbunuhnya Husein bin ‘Ali radhiallaahu’anhu di padang Karbala oleh pedang zalim Bani Umayyah”. Namun, benarkah demikian?

Tahukah Anda apa sebenarnya yang terjadi dalam tragedi Karbala 10 Muharram 61-H? Fakta sejarah berbicara, bahwa dikarenakan pengkhinatan nenek moyang merekalah, Husein radhiallaahu’anhu terbunuh dalam keadaan terzalimi. Inilah latar belakang sebenarnya dari perayaan Karbala, “Hari penyesalan atas dosa pengkhianatan terhadap Husein” [lih. Hiqbatun min at-Taariikh hal. 244, Syaikh DR. Utsman al-Khumais].

Keutamaan Dzulhijjah (Amalan yang Disunnahkan & Beberapa Hal yang Terabaikan)

Keutamaan Dzulhijjah (Amalan yang Disunnahkan & Beberapa Hal yang Terabaikan)

Ibnu ‘Abbas radhiallaahu’anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَل الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوا: يَا رَسُول اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ؟ قَال: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْء

“Tidak ada satu rangkaian hari pun, di mana amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah melebihi amal-amal shalih pada hari-hari ini (yang dimaksud adalah 10 hari pertama Dzulhijjah-pent). Lantas para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak juga (jika dibandingkan) dengan (amal) jihad di jalan Allah?”, beliau bersabda: “Tidak juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seorang mujahid yang keluar untuk berperang (di jalan Allah) dengan jiwa dan harta bendanya, lantas ia gugur dan tidak ada yang kembali sedikitpun.” [Shahih Bukhari: 969, Shahih Sunan Abi Dawud: 2438, hadits di atas adalah lafaz Abu Dawud]

Dalam riwayat ad-Daarimi disebutkan:

ما من عمل أزكى عند الله عز وجل ولا أعظم أجرا من خير يعمله فى عشر الأضحى… وزاد: ” قال: وكان سعيد بن جبير إذا دخل أيام العشر اجتهد اجتهادا شديدا حتى ما يكاد يقدر عليه

“Tidak ada satu amalan pun yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wa jalla, dan tidak juga lebih besar pahalanya dibandingkan dengan kebaikan yang diamalkan oleh seorang hamba pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah…” terdapat tambahan riwayat: “(bahwasanya) Sa’id bin Jubair rahimahullah, jika telah masuk 10 hari pertama, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang luar biasa, sampai-sampai hampir saja beliau tidak mampu lagi.”

Riwayat tersebut, menurut Imam al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (3/398, Cet. Maktab Islamiy, 1405-H), derajatnya hasan.

Kedua riwayat di atas berbicara dalam konteks yang umum. Artinya amalan kebaikan apa saja akan bernilai lebih, jika dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Sebut saja puasa, dzikir, membaca al-Qur’an, sedekah, dan jenis ibadah lainnya, semuanya masuk dalam cakupan umum hadits di atas.

Kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah tidak terbatas pada siang harinya saja, tapi juga pada malamnya. Kesimpulan ini dipetik oleh sebagian ulama ahli tafsir dari sumpah Allah dalam al-Qur’an:

 

1 2 3 4 5 6 13