Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an, “Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan”

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an, “Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan”

Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab:

تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ

“Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.”

Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam al-Qur’an:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…” [QS. az-Zumar: 23]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu di suatu malam pernah mendengar seorang laki-laki membaca ayat dalam tahajjud-nya:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِع

“Sungguh adzab Tuhanmu pasti akan terjadi. Tak ada seorang pun yang sanggup mencegahnya.” [QS. ath-Thuur: 7-8]

Maka ‘Umar pun berkata: “Ini adalah sumpah (dari Allah), Demi Rabb Pemilik Ka’bah, adzab tersebut haq (pasti terjadi)”. Lantas beliau kembali ke rumah dan mendadak ditimpa sakit selama sebulan. Orang-orang membesuk beliau tanpa ada yang tahu penyebabnya sakitnya.”

Dalam riwayat lain, ‘Umar pernah membaca Surat Maryam, saat melewati ayat berikut ini:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Jika dibacakan ayat-ayat ar-Rahman kepada mereka, mereka segera menyungkur sujud dan menangis” [QS. Maryam: 58]

‘Umar pun segera menyungkur sujud, lalu berkata: “Ini dia sujudnya, lalu mana tangisannya?”, beliau ingin sekali bisa menangis (karena ayat tersebut memuji orang-orang yang bersujud dan menangis ketika mendengar ayat Allah dibacakan). [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 2/457]

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an

“Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan” Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab: تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ “Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.” Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam…

KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

HAKIKAT KHUSYU’

Dari segi bahasa, kata “khusyu’” (dalam bahasa Arab) mengandung makna (طأطأ ) yang berarti; membungkuk, menyelam, atau menunduk. Khusyu’ memiliki kedekatan makna dengan kata khudhu’, hanya saja khudhu’ maknanya lebih ke “tunduknya anggota badan”, sedangkan khusyu’ bisa berarti tunduknya anggota badan, suara, dan pandangan mata, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur-an (QS. al-Qolam: 43) “khoosyi’atan abshooruhum…”

Kata khusyu’ juga digunakan untuk menggambarkan bumi yang tandus dan tak kunjung diguyur oleh hujan. Makna seperti ini telah difirmankan oleh Allah dalam al-Qur-aan:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang (khoosyi’atan), maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur…” [QS. Fushilat: 39] [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1824]

Adapun dari segi terminologi (istilah), Ibnul Qayyim rahimahullaah mengungkapkan; bahwa khusyu’ sejatinya merupakan makna yang terangkai dari rasa pengagungan, rasa cinta, hina, dan remuk redam (di hadapan Allah).

Khusyu’ terkadang dimaknai sebagai amalan hati, contohnya rasa takut pada Allah. Namun terkadang juga sebagai bagian dari amalan lahiriyah semisal tenang dan diamnya anggota badan.

Singkat kata, khusyu’ adalah amalan hati berupa rasa takut, hina, dan tawadhu’, yang diiringi rasa cinta dan pengagungan terhadap Rabb yang tampak pengaruhnya secara lahiriyah dalam wujud tenang dan diamnya anggota badan. Inilah kira-kira benang merah kesimpulan yang bisa ditarik dari beragam definisi para ulama tentang khusyu’. [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1825]

 

Tingkatan Ibadah dengan al-Qur’an

Tingkatan Ibadah dengan al-Qur’an

Tingkatan ibadah dalam membaca al-Qur’an ada tiga. Pertama, murni tilawah. Yaitu sebatas membaca al-Qur’an tanpa pemahaman, tadabbur dan tafakkur. Pada tingkatan ini, seseorang tetap diganjar pahala sesuai kadar usaha dan keikhlasannya dalam membaca. Kedua, tilawah yang diiringi pemahaman, tadabbur dan tafakkur makna ayat-ayat yang dibaca. Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, sekalipun lebih sedikit secara kuantitas. Bukankah Allah telah berfirman: كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آياتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبابِ “(Yang diwahyukan kepadamu ini wahai…

Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

M enarik untuk mengkaji terminologi “syirik” dari kacamata para ulama Madzhab Syafi’i. Selain pandangan-pandangan Syafi’iyyah sangat dominan dan populer di Indonesia, juga dikarenakan para pembesar ulama Syafi’i ternyata mewariskan kepada kita karya-karya fenomenal bagi khasanah keilmuan Islam, khususnya di bidang aqidah, salah satu cabang ilmu yang fundamental bagi kaum muslimin. Di sisi yang lain, ternyata fakta di lapangan seolah menunjukkan adanya tali penghubung yang terputus antara konsep ulama Syafi’iyyah dalam memahami terminologi syirik dengan praktik…

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

PROLOG (REDAKSI)

Syi’ah; sebagai agama yang menyempal dari Islam yang suci, tidak kalah berbahayanya dengan Ahmadiyah. Menyadari akan hal ini—ditambah lagi kenyataan pilu bahwa kesesatan Syi’ah ini sudah banyak digandrungi oleh generasi muda Islam di tanah air khususnya—, maka kami akan menyuguhkan kepada sidang pembaca yang mulia, serangkaian aqidah Syi’ah yang jauh menyimpang dari aqidah Islam, yang berusaha sekuat tenaga mereka propagandakan ke negeri-negeri kaum muslimin tidak terkecuali Indonesia. Agar kaum muslimin sadar, betapa berbahayanya agama Syi’ah yang bertopeng Islam ini. Sengaja kami suguhkan kesesatan mereka dari sumber-sumber asasi yang dijadikan rujukan oleh kaum Syi’ah sendiri, agar fakta-fakta akan kesesatan mereka tidak tersamarkan lagi oleh topeng taqiyyah (ideologi “bermuka dua” yang dianut sebagai titah agama oleh kaum Syi’ah) yang mereka praktekkan ketika bermuamalah dengan kaum muslimin. (Red)

BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKAN AHLUL BAIT

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas, termasuk juga istri-istri Nabi karena Allah ta’ala berfirman:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi r. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan) melainkan hanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam. Di antara keyakinan Ahlussunnah juga: (bahwa) wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi r, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-2 Habis)

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-2 Habis)

CONTOH-CONTOH PRAKTEK AKHLAK MULIA YANG MENENTUKAN KEBERHASILAN DAKWAH

4. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ”

“Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).

Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam dalam menasehati para sahabatnya.

Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut. “Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”. “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”. “Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.

Cermatilah bagaimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-1)

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-1)

Contoh-contoh Praktek Syar’i

PERINTAH UNTUK BERAKHLAK MULIA

Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wassallam:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. [QS. Al-Qalam: 4]

Juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Berakhlak mulialah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.

APA ITU AKHLAK MULIA?

Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:

“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى”

Akhlak mulia adalah: “berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti” [Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim: II/318-319]

Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:

1. Melakukan kebaikan kepada orang lain.

Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.

2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain.

Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.

3. Menahan diri tatkala disakiti.

Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

 

Mendulang Ilmun& Hikmah dibalik pensyari’atan Puasa ‘Asyuro (10 Muharram)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam pernah memuji Muharram dengan sebutan “Syahrullaah” (Bulan Allah), sebuah keistimewaan tentunya, mengingat segala sesuatu yang disandarkan dan disandingkan langsung dengan nama Allah memiliki keagungan dan kemuliaan, seperti penyebutan Baitullaah (Rumah Allah) untuk Ka’bah, dan Kholilullaah (Kekasih Allah) yang khusus diperuntukkan bagi Nabi kita r dan Nabi Ibrahim ‘alihissalam. Dengan demikian jelaslah bahwa Bulan Muharram memiliki kedudukan yang spesial di sisi Allah. [Lih. Lathoo-iful Ma’aarif hal. 81, Ibnu Rajab]

Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

أَفْضَل الصِّيَام بَعْد شَهْر رَمَضَان شَهْرُ اللَّه الْمُحَرَّم ، وَأَفْضَل الصَّلَاة بَعْد الْفَرِيضَة صَلَاة اللَّيْل

Seutama-utama puasa setelah puasa di bulan Ramadhan adalah (puasa) di Bulan Allah (yang bernama) Muharram. Dan seutama-utama sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam (Tahajjud).” [HR. Muslim: 1163]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (736-795.H) mengatakan: “(Dalam hadits tersebut) Nabi telah menjuluki Muharram sebagai Syahrullah. Dan penyandaran bulan (Muharram) langsung dengan nama Allah, menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Karena Allah tidak layak digandengkan nama-Nya kecuali dengan kalangan istimewa dari makhluk-makhluk-Nya….” [Lathoo-iful Ma’aarif hal. 81]

Lebih lanjut (pada hal. 82) Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa puasa sunnah pada bulan ini otomatis memiliki keistimewaan yang khusus pula, karena ibadah puasa (berdasarkan hadits di atas) disandarkan pada bulan yang disandarkan padanya nama Allah.

al-Walaa’ & al-Baraa’

al-Walaa’ & al-Baraa’

Definisi al-Walaa’ & al-Baraa’

Secara harfiah (bahasa), al-Walaa’ memiliki banyak pengertian. Ibnul A’raaby rahimahullaah memberikan gambaran seperti berikut: Jika terjadi pertikaian di antara dua orang, lantas orang ketiga datang bertugas mendamaikan, namun hawa nafsunya justru condong untuk membela salah seorang di antara keduanya, maka orang ketiga tersebut dikatakan memiliki Walaa’ kepada teman yang dibelanya.

Jika dikatakan “Waala Zaidun Muhammadan” (Zaid walaa’ kepada Muhammad), maka maksudnya adalah “Zaid mencintai Muhammad”. Alhasil, kata al-Walaa’ dan kata-kata yang serumpun dengannya seperti; Wali, Muwaalaat, Maulaa, dll, semuanya bermuara pada dua makna inti, yaitu; cinta dan pertolongan . [lih. Lisaanul ‘Arob: 15/409, Ibnu Manzhuur, cet. Daar Shoodir, 1414-H]

Sedangkan al-Baraa’ secara harfiah, adalah lawan dari al-Walaa’ yang mengandung arti: kebencian pada sesuatu, pemisahan (diri), lepas dan jauh dari sesuatu.

Adapun secara istilah, al-Walaa’ wal Baraa’ adalah kecintaan dan loyalitas lahir batin kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Islam dan kaum muslimin, diiringi dengan sikap permusuhan, berlepas diri, dan benci lahir-batin kepada segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, berupa kekufuran, kesyirikan, syi’ar-syi’ar kekafiran dan orang-orang kafir.

al-Qur-aan Berbicara Tentang al-Walaa’ & al-Baraa’

Ayat-ayat berikut ini akan menjelaskan makna-makna al-Walaa’ wal Baraa’ secara lebih mendetail:

Pertama: al-Walaa’ adalah saling tolong menolong antar sesama mukmin.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah Auliyaa’ (menjadi penolong bagi sebahagian yang lain). mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. at-Taubah: 71]

1 3 4 5 6 7 13