KIAT-KIAT MENGHILANGKAN HASAD

KIAT-KIAT MENGHILANGKAN HASAD

Hasad adalah berharap hilangnya nikmat dari seseorang, ada juga sebagian ulama yang mengatakan hasad adalah merasa tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat. Hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya yang bisa merusak dunia dan agama seseorang sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya (artinya): “Telah datang kepada kalian penyakit ummat sebelum kalian (yaitu) hasad dan kebencian, ia adalah alat pemotong dan aku tidak mengatakan memotong rambut tetapi memotong…

ADAB BERINTERAKSI DENGAN NON MUSLIM

ADAB BERINTERAKSI DENGAN NON MUSLIM

Di antara kewajiban seorang muslim adalah meyakini bahwa satu-satunya agama yang diterima oleh Allah hanyalah Islam. Allah berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-Imran:  19) Allah juga berfirman (yang artinya) : “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

ANJURAN BERBUAT IFFAH

ANJURAN BERBUAT IFFAH

Menilik perangai kaum muslimin dewasa ini secara umum, maka iffah merupakan salah satu perangai yang tak lagi semarak bahkan dilalaikan. Maka pada kesempatan ini kita akan bahas tentang iffah, yang merupakan salah satu akhlak luhur nan agung yang selayaknya dimiliki oleh setiap muslim dan tidak dilalaikan.

Cemburu Karena Allah ta’ala

Cemburu Karena Allah ta’ala

Mengekspresikan rasa cemburu dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syari’at manakala perkara-perkara haram dikerjakan, merupakan bagian dari agama. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: المُؤْمِنُ يَغَارُ وَاللهُ أَشَدُ غَيْرًا “Seorang mukmin itu pencemburu, dan Allâh lebih-lebih lagi kecemburuan-Nya (tatkala kemaksiatan terjadi-pent).” [HR. Muslim: 2761-pent]

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-2 Habis)

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-2 Habis)

CONTOH-CONTOH PRAKTEK AKHLAK MULIA YANG MENENTUKAN KEBERHASILAN DAKWAH

4. Santun dalam menyampaikan nasehat, sambil memperhatikan kondisi psikologis orang yang dinasehati.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

“وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ”

“Ucapan yang baik adalah shadaqah”. HR. Bukhari (hal. 606 no. 2989) dan Muslim (VII/96 no. 2332).

Kita bisa mengambil suri tauladan dari metode Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam dalam menasehati para sahabatnya.

Abu Umamah bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”. Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, “Diam kamu, diam!”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul” sahut pemuda tersebut. “Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”. “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”. “Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”. “Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?”. “Tidak demi Allah wahai Rasul!”. “Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina”. HR. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani.

Cermatilah bagaimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam tidak langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan kesabaran.

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-1)

Sikap Hikmah dalam Berdakwah (Bag-1)

Contoh-contoh Praktek Syar’i

PERINTAH UNTUK BERAKHLAK MULIA

Begitu banyak dalil dalam al-Qur’an maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wassallam:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. [QS. Al-Qalam: 4]

Juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Berakhlak mulialah dengan para manusia”. HR. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih.

APA ITU AKHLAK MULIA?

Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:

“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى”

Akhlak mulia adalah: “berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti” [Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim: II/318-319]

Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:

1. Melakukan kebaikan kepada orang lain.

Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.

2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain.

Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.

3. Menahan diri tatkala disakiti.

Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.

 

1 2 3 4