Tahun Baru dalam Aqidah Kita

Tahun Baru dalam Aqidah Kita

Euforia tahun baru 2014 telah terasa di bulan ini. Baliho-baliho, spanduk-spanduk, dan atribut-atribut bertemakan “happy new year 2014” sangat ramai dipampang. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin tidak mau ketinggalan dalam penyambutan acara tahunan ini. Yang akan menjadi sorotan dalam tulisan kali ini adalah fenomena yang biasa kita saksikan bersama, yaitu keikutsertaan sabagian kaum muslimin -kalau tidak mau dikatakan kebanyakan kaum muslimin- dalam ‘acara dunia bersama’ ini. Banyak alasan yang mendasari mereka untuk ikut terjun dalam pesta tahunan…

Perayaan Isra’ – Mi’raj dalam Timbangan Historis

Perayaan Isra’ – Mi’raj dalam Timbangan Historis

Sebelum berbicara lebih jauh tentang tradisi perayaan Isra’-Mi’raj, ada baiknya kita sedikit flashback melalui catatan-catatan sejarah yang otentik demi mengetahui kapan sebenarnya peristiwa fenomenal Isra’-Mi’raj ini terjadi. Karena realita yang ada mengungkapkan bahwa para ulama tidak satu kata dalam masalah ini. Kapan tepatnya peristiwa Isra’-Mi’raj terjadi, sungguh telah menjadi perdebatan ilmiah yang sengit di kalangan para sejarawan muslim sejak dulu dari masa ke masa.

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله merupakan dasar agama Islam dan inti dari seluruh syariat Islam, kalimat ini juga yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan pada zaman sekarang ini sering kita mendengar sebagian kaum muslimin mengucapkan kalimat tersebut secara spontan tanpa mereka sadari keluar dari lisan mereka. Namun yang sangat disayangkan dan memperihatinkan, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna dan kandungan dari kalimat ini, yang kemudian sebagai penyebab mereka melanggar konsekuensi dari kalimat yang agung…

Buah Taqwa (bagian 2)

Buah Taqwa (bagian 2)

lanjutan dari Buah Taqwa (bagian 1) 05-Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa Allah subhanahu wata’ala berfirman: إِن تَتَّقُواْ الله يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَالهَُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ”Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqaan, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian, dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Al-Anfal : 29)

Buah Taqwa (bagian 1)

Buah Taqwa (bagian 1)

Sesungguhnya wasiat Allah subhanahu wata’ala yang paling agung yang diwasiatkan kepada hamba-hamba-Nya adalah takwa. Allah subhanahu wata’ala berfirman: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ “Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian; agar bertakwa kepada Allah.” (An-Nisaa’ : 131)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

M enarik untuk mengkaji terminologi “syirik” dari kacamata para ulama Madzhab Syafi’i. Selain pandangan-pandangan Syafi’iyyah sangat dominan dan populer di Indonesia, juga dikarenakan para pembesar ulama Syafi’i ternyata mewariskan kepada kita karya-karya fenomenal bagi khasanah keilmuan Islam, khususnya di bidang aqidah, salah satu cabang ilmu yang fundamental bagi kaum muslimin. Di sisi yang lain, ternyata fakta di lapangan seolah menunjukkan adanya tali penghubung yang terputus antara konsep ulama Syafi’iyyah dalam memahami terminologi syirik dengan praktik…

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

PROLOG (REDAKSI)

Syi’ah; sebagai agama yang menyempal dari Islam yang suci, tidak kalah berbahayanya dengan Ahmadiyah. Menyadari akan hal ini—ditambah lagi kenyataan pilu bahwa kesesatan Syi’ah ini sudah banyak digandrungi oleh generasi muda Islam di tanah air khususnya—, maka kami akan menyuguhkan kepada sidang pembaca yang mulia, serangkaian aqidah Syi’ah yang jauh menyimpang dari aqidah Islam, yang berusaha sekuat tenaga mereka propagandakan ke negeri-negeri kaum muslimin tidak terkecuali Indonesia. Agar kaum muslimin sadar, betapa berbahayanya agama Syi’ah yang bertopeng Islam ini. Sengaja kami suguhkan kesesatan mereka dari sumber-sumber asasi yang dijadikan rujukan oleh kaum Syi’ah sendiri, agar fakta-fakta akan kesesatan mereka tidak tersamarkan lagi oleh topeng taqiyyah (ideologi “bermuka dua” yang dianut sebagai titah agama oleh kaum Syi’ah) yang mereka praktekkan ketika bermuamalah dengan kaum muslimin. (Red)

BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKAN AHLUL BAIT

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas, termasuk juga istri-istri Nabi karena Allah ta’ala berfirman:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi r. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan) melainkan hanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam. Di antara keyakinan Ahlussunnah juga: (bahwa) wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi r, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

al-Walaa’ & al-Baraa’

al-Walaa’ & al-Baraa’

Definisi al-Walaa’ & al-Baraa’

Secara harfiah (bahasa), al-Walaa’ memiliki banyak pengertian. Ibnul A’raaby rahimahullaah memberikan gambaran seperti berikut: Jika terjadi pertikaian di antara dua orang, lantas orang ketiga datang bertugas mendamaikan, namun hawa nafsunya justru condong untuk membela salah seorang di antara keduanya, maka orang ketiga tersebut dikatakan memiliki Walaa’ kepada teman yang dibelanya.

Jika dikatakan “Waala Zaidun Muhammadan” (Zaid walaa’ kepada Muhammad), maka maksudnya adalah “Zaid mencintai Muhammad”. Alhasil, kata al-Walaa’ dan kata-kata yang serumpun dengannya seperti; Wali, Muwaalaat, Maulaa, dll, semuanya bermuara pada dua makna inti, yaitu; cinta dan pertolongan . [lih. Lisaanul ‘Arob: 15/409, Ibnu Manzhuur, cet. Daar Shoodir, 1414-H]

Sedangkan al-Baraa’ secara harfiah, adalah lawan dari al-Walaa’ yang mengandung arti: kebencian pada sesuatu, pemisahan (diri), lepas dan jauh dari sesuatu.

Adapun secara istilah, al-Walaa’ wal Baraa’ adalah kecintaan dan loyalitas lahir batin kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Islam dan kaum muslimin, diiringi dengan sikap permusuhan, berlepas diri, dan benci lahir-batin kepada segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, berupa kekufuran, kesyirikan, syi’ar-syi’ar kekafiran dan orang-orang kafir.

al-Qur-aan Berbicara Tentang al-Walaa’ & al-Baraa’

Ayat-ayat berikut ini akan menjelaskan makna-makna al-Walaa’ wal Baraa’ secara lebih mendetail:

Pertama: al-Walaa’ adalah saling tolong menolong antar sesama mukmin.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah Auliyaa’ (menjadi penolong bagi sebahagian yang lain). mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. at-Taubah: 71]

1 4 5 6 7 8