Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

Syirik, Menurut Ulama Syafi’iyyah

M enarik untuk mengkaji terminologi “syirik” dari kacamata para ulama Madzhab Syafi’i. Selain pandangan-pandangan Syafi’iyyah sangat dominan dan populer di Indonesia, juga dikarenakan para pembesar ulama Syafi’i ternyata mewariskan kepada kita karya-karya fenomenal bagi khasanah keilmuan Islam, khususnya di bidang aqidah, salah satu cabang ilmu yang fundamental bagi kaum muslimin. Di sisi yang lain, ternyata fakta di lapangan seolah menunjukkan adanya tali penghubung yang terputus antara konsep ulama Syafi’iyyah dalam memahami terminologi syirik dengan praktik…

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

Biarkan SYI’AH bercerita tentang keSESATan agamanya

PROLOG (REDAKSI)

Syi’ah; sebagai agama yang menyempal dari Islam yang suci, tidak kalah berbahayanya dengan Ahmadiyah. Menyadari akan hal ini—ditambah lagi kenyataan pilu bahwa kesesatan Syi’ah ini sudah banyak digandrungi oleh generasi muda Islam di tanah air khususnya—, maka kami akan menyuguhkan kepada sidang pembaca yang mulia, serangkaian aqidah Syi’ah yang jauh menyimpang dari aqidah Islam, yang berusaha sekuat tenaga mereka propagandakan ke negeri-negeri kaum muslimin tidak terkecuali Indonesia. Agar kaum muslimin sadar, betapa berbahayanya agama Syi’ah yang bertopeng Islam ini. Sengaja kami suguhkan kesesatan mereka dari sumber-sumber asasi yang dijadikan rujukan oleh kaum Syi’ah sendiri, agar fakta-fakta akan kesesatan mereka tidak tersamarkan lagi oleh topeng taqiyyah (ideologi “bermuka dua” yang dianut sebagai titah agama oleh kaum Syi’ah) yang mereka praktekkan ketika bermuamalah dengan kaum muslimin. (Red)

BERLEBIHAN DALAM MENGAGUNGKAN AHLUL BAIT

Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas, termasuk juga istri-istri Nabi karena Allah ta’ala berfirman:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi r. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan) melainkan hanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam. Di antara keyakinan Ahlussunnah juga: (bahwa) wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi r, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

al-Walaa’ & al-Baraa’

al-Walaa’ & al-Baraa’

Definisi al-Walaa’ & al-Baraa’

Secara harfiah (bahasa), al-Walaa’ memiliki banyak pengertian. Ibnul A’raaby rahimahullaah memberikan gambaran seperti berikut: Jika terjadi pertikaian di antara dua orang, lantas orang ketiga datang bertugas mendamaikan, namun hawa nafsunya justru condong untuk membela salah seorang di antara keduanya, maka orang ketiga tersebut dikatakan memiliki Walaa’ kepada teman yang dibelanya.

Jika dikatakan “Waala Zaidun Muhammadan” (Zaid walaa’ kepada Muhammad), maka maksudnya adalah “Zaid mencintai Muhammad”. Alhasil, kata al-Walaa’ dan kata-kata yang serumpun dengannya seperti; Wali, Muwaalaat, Maulaa, dll, semuanya bermuara pada dua makna inti, yaitu; cinta dan pertolongan . [lih. Lisaanul ‘Arob: 15/409, Ibnu Manzhuur, cet. Daar Shoodir, 1414-H]

Sedangkan al-Baraa’ secara harfiah, adalah lawan dari al-Walaa’ yang mengandung arti: kebencian pada sesuatu, pemisahan (diri), lepas dan jauh dari sesuatu.

Adapun secara istilah, al-Walaa’ wal Baraa’ adalah kecintaan dan loyalitas lahir batin kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Islam dan kaum muslimin, diiringi dengan sikap permusuhan, berlepas diri, dan benci lahir-batin kepada segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, berupa kekufuran, kesyirikan, syi’ar-syi’ar kekafiran dan orang-orang kafir.

al-Qur-aan Berbicara Tentang al-Walaa’ & al-Baraa’

Ayat-ayat berikut ini akan menjelaskan makna-makna al-Walaa’ wal Baraa’ secara lebih mendetail:

Pertama: al-Walaa’ adalah saling tolong menolong antar sesama mukmin.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah Auliyaa’ (menjadi penolong bagi sebahagian yang lain). mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. at-Taubah: 71]

SYAFA’AT DI AKHIRAT

SYAFA’AT DI AKHIRAT

Bagaimana meraihnya & menjadi orang yang mulia di Akhirat karenanya..

Al-Imam Abu Muhammad al-Barbahari berkata: “(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani syafa’at Ra

sulullah  bagi orang-orang yang berbuat dosa dan salah (dari kaum muslimin) pada hari kiamat, juga di atas ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di ata

s permukaan neraka Jahannam), dan (dengan syafa’at) Rasulullah  mengeluarkan mereka (dengan izin Allah)

dari dalam neraka Jahannam. Masing-masing Nabi memiliki syafa’at, demikian pula para shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh…” [Syarhus Sunnah hal. 73].

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata: “Syafa’at yang Allah simpan untuk kaum muslimin (di akhirat nanti)

adalah benar, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits-hadits Rasulullah ” [Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah hal. 229]

DEFINISI SYAFA’AT

Secara bahasa asy-Syaf’u berarti genap, lawan dari al-Witru. Adapun secara istilah syari’at, Syafa’at adalah menjadi penengah bagi orang lain untuk mengusahakan kebaikan atau mencegah keburukan. [Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah: 2/168]

AL-QUR-AN BERBICARA SYAFA’AT

“Siapakah (maksudnya; tiada seorangpun) yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (QS al-Baqarah: 255).

Imam al-Qurthubi berkata: “Ayat (yang mulia) ini menetapkan bahwa Allah mengizinkan siapa yang dikehendaki-Nya untuk (memberikan) syafa’at, mereka adalah para Nabi, para ulama, orang-orang yang berjihad (di jalan-Nya), para Malaikat, dan orang-orang selain mereka yang dimuliakan dan diutamakan oleh Allah. Kemudian mereka tidak bisa memberikan syafa’at kecuali kepada orang yang diridhai Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan mereka tidak (bisa) memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (QS al-Anbiyaa’: 28)

Demikian pula firman Allah dalam ayat-ayat berikut:

“Pada hari itu (hari kemudian) tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang diberi izin oleh Allah Maha Pemurah, dan Dia telah meridhai perkataannya” (QS Thaahaa: 109).

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah ialah) orang yang mempersaksikan (kalimat tauhid) dengan benar dan mereka menyakini(nya)” (QS az-Zukhruf:86).

“Dan betapa banyak Malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkannya bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya” (QS an-Najm: 26).

Semua ayat di atas menetapkan adanya syafa’at pada hari kiamat dengan syarat-syarat tertentu, yang akan kami paparkan.

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

flickr.com

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

“…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka (Yahudi) sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imran: 120]

Kalimat-kalimat ini kami tulis saat Zionis Yahudi kembali dirasuki Iblis dalam kezhalimannya, tatakala mereka seolah kesetanan dalam membantai, melumuri Palestin dengan darah-darah mukminin, bahkan dengan pongahnya mereka menyiapkan Gaza sebagai kuburan masal bagi rakyatnya yang mati kelaparan karena bantuan kemanusiaan yang senantiasa mereka gerayangi di tengah jalan.

Lalu, apakah yang bisa kita perbuat untuk saudara-saudara kita di sana? Bukankah janji Allah benar adanya? Bukankah Dia pasti menolong orang-orang yang beriman, apalagi jika mereka dalam keadaan tertindas dan terzhalimi? Bukankah pelaku kezhaliman tersebut adalah suatu kaum yang mana al-Qur-an dipenuhi dengan gambaran buruk tentang sifat mereka?

Hendaknya kita merenung akan kehinaan ini, yang silih berganti senantiasa menjadikan kita (kaum muslimin) sebagai pecundang.

Namun seorang mukmin sejati tak akan berprasangka buruk kepada al-Khaaliq dengan meragukan kejujuran janji-Nya. Maka jari tuduhan—sebagai biangkerok dari keterpurukan ini—, tidak pantas diarahkan kepada siapapun sebelum kepada diri kita sendiri (kaum muslimin). Dikarenakan banyaknya dosa yang kita perbuat, disebabkan jauhnya kita dari JALAN TAQWA dan KESABARAN di atasnya.

Hendaknya kita pahami, bahwa kita semua—tidak terkecuali yang tidak memiliki kemampuan untuk menolong Palestina secara fisik dan materi—memiliki kewajiban yang sama untuk menolong kaum muslimin Palestina dengan ketaqwaan dan munajat kita kepada Allah. 

Bukti Cinta Pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Bukti Cinta Pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Suatu nikmat yang sangat agung ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke dunia ini, dengan diutusnya beliau berarti muncullah seorang Nabi dan Rasul yang penuh kasih sayang, yang membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah Ta’ala  , membersihkan jiwa-jiwa kaum muslimin dan yang mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah, kemudian melalui dirinya lah jua Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan masa jahiliyah menuju Cahaya Islam yang keindahan dan kemuliaannya dapat kita nikmati hingga saat ini.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (١٦٤) 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran : 164)

Oleh sebab itu setiap dari diri kita  wajib bersyukur kepada Allah Ta’ala atas diutusnya nabi yang mulia tersebut dan juga  wajib mencintai Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Madrasah Tauhid Manasik Haji

Madrasah Tauhid Manasik Haji

Oleh: al-Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA.

Ibadah haji, dari amalan paling pertama, yaitu talbiyyah, hingga amalan paling akhir, yaitu thawaf wada’, penuh dengan pendidikan akhlak kepada Allah, Sang Pencipta ‘azza wa jalla.

Antara Talbiyah & Tauhidullah

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّـيْكَ لاَ شَـريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyyah ini adalah puncak pengikraran iman dan tauhid, di mana hakikat iman dan tauhid adalah pengagungan Allah dengan sebenar-benarnya. Pada talbiyyah ini, kita mengikrarkan bahwa segala pujian, kenikmatan dengan berbagai macam dan wujudnya, dan segala kekuasaan, termasuk ke dalamnya mengatur alam semesta ini, hanya milik Allah, tiada satu pun yang menjadi sekutu bagi Allah dalam semua hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebagai kelaziman dari ikrar tersebut, kita hanya bersyukur dengan menujukan segala macam ibadah kepada-Nya semata.

Dan sikap yang demikian ini, merupakan puncak akhlak yang mulia dengan Allah, di mana kita mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan, mengatur, dan hanya Dia-lah yang berhak disembah. Untuk lebih mengetahui bahwa ucapan talbiyyah ini adalah wujud nyata dari akhlak mulia dengan Allah, maka mari kita bandingkan ucapan ini dengan talbiyyah orang-orang musyrikin pada zaman dahulu. Mereka mengucapkan:

لَبَّيكَ لاَ شَرِيْكَ لَـكَ إلاَّ شَرِيكاً هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang Engkau miliki, Engkau menguasainya dan apa yang ia miliki.”

Betapa rendahnya akhlak mereka kepada Allah, mereka mengakui bahwa sekutu yang mereka sembah di bawah kekuasaan Allah, akan tetapi mereka tetap mendudukkannya sejajar dengan Allah. Oleh karena itu Allah, berfirman tentang mereka:

(Artinya) Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari qiyamat, dan langit-langit digulung dengan Tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah, dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az Zumar: 67)

Bencana Alam & Bala’

Bencana Alam & Bala’

Sebuah Renungan tentang Pentingnya Tauhid dan Bahayanya Syirik

Musibah gempa yang mengguncang Ranah Minang (Sumatra Barat) beberapa waktu lalu tentunya menyisakan pilu bagi kita kaum muslimin di manapun ia berada. Dikarenakan kita kaum muslimin, adalah satu tubuh. Jika satu merasakan sakit, maka yang lain pun akan merasakan hal yang sama. Rasa pilu itu mengiringi berjuta lantunan do’a dan harapan kepada Ilahi; (1) agar kaum muslimin yang wafat, diberikan derajat syuhada sebagai bentuk rasa kasih sayang dari-Nya, (2) agar kerabat mereka diberikan ketabahan dan kesabaran, (3) agar kita semua yang menjadi saksi hidup bencana besar ini, semakin takut dan bertaqwa kepada Allah.
Di balik bencana yang menimpa suatu negeri, setidaknya terdapat 3 hikmah di atas, ditambah satu lagi yang ke-4; yaitu sebagai hukuman atas mereka yang berpaling dari peringatan Allah dan Rasul-Nya. Tentunya 4 hal ini tidak hendak membatasi keberadaan hikmah Allah lainnya yang maha luas. Hikmah yang terakhir akan menjadi poros perenungan kita dalam tulisan ini, agar setiap kita bisa menghisab diri dan bertaubat dari segenap dosa selama ini.
Antara Umat Terdahulu, Seruan Nabi, dan Bencana Besar

Apa itu Wahabi? (bag. 2 -Habis)

Apa itu Wahabi? (bag. 2 -Habis)

 “Aqidah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab”

Oleh: al-Ustadz DR. Ali Musri, MA.

Pokok-Pokok Landasan Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang Dicap Sebagai Wahabi

Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka, hal ini akan nampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 3).

Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim, beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang, ringkasannya sebagaimana berikut: “Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir di sampingku serta kepada anda semua:

Apa itu Wahabi? (bag. 1)

Apa itu Wahabi? (bag. 1)

 “Aqidah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab”

Oleh: al-Ustadz DR. Ali Musri, MA.

Keadaan yang Melatar Belakangi Munculnya Tuduhan Wahabi

Dari segi aspek politik, jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.

Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.

1 5 6 7 8