Bukti Cinta Pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Bukti Cinta Pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Suatu nikmat yang sangat agung ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke dunia ini, dengan diutusnya beliau berarti muncullah seorang Nabi dan Rasul yang penuh kasih sayang, yang membacakan kepada umatnya ayat-ayat Allah Ta’ala  , membersihkan jiwa-jiwa kaum muslimin dan yang mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah, kemudian melalui dirinya lah jua Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan masa jahiliyah menuju Cahaya Islam yang keindahan dan kemuliaannya dapat kita nikmati hingga saat ini.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (١٦٤) 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran : 164)

Oleh sebab itu setiap dari diri kita  wajib bersyukur kepada Allah Ta’ala atas diutusnya nabi yang mulia tersebut dan juga  wajib mencintai Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Madrasah Tauhid Manasik Haji

Madrasah Tauhid Manasik Haji

Oleh: al-Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA.

Ibadah haji, dari amalan paling pertama, yaitu talbiyyah, hingga amalan paling akhir, yaitu thawaf wada’, penuh dengan pendidikan akhlak kepada Allah, Sang Pencipta ‘azza wa jalla.

Antara Talbiyah & Tauhidullah

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّـيْكَ لاَ شَـريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyyah ini adalah puncak pengikraran iman dan tauhid, di mana hakikat iman dan tauhid adalah pengagungan Allah dengan sebenar-benarnya. Pada talbiyyah ini, kita mengikrarkan bahwa segala pujian, kenikmatan dengan berbagai macam dan wujudnya, dan segala kekuasaan, termasuk ke dalamnya mengatur alam semesta ini, hanya milik Allah, tiada satu pun yang menjadi sekutu bagi Allah dalam semua hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebagai kelaziman dari ikrar tersebut, kita hanya bersyukur dengan menujukan segala macam ibadah kepada-Nya semata.

Dan sikap yang demikian ini, merupakan puncak akhlak yang mulia dengan Allah, di mana kita mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan, mengatur, dan hanya Dia-lah yang berhak disembah. Untuk lebih mengetahui bahwa ucapan talbiyyah ini adalah wujud nyata dari akhlak mulia dengan Allah, maka mari kita bandingkan ucapan ini dengan talbiyyah orang-orang musyrikin pada zaman dahulu. Mereka mengucapkan:

لَبَّيكَ لاَ شَرِيْكَ لَـكَ إلاَّ شَرِيكاً هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang Engkau miliki, Engkau menguasainya dan apa yang ia miliki.”

Betapa rendahnya akhlak mereka kepada Allah, mereka mengakui bahwa sekutu yang mereka sembah di bawah kekuasaan Allah, akan tetapi mereka tetap mendudukkannya sejajar dengan Allah. Oleh karena itu Allah, berfirman tentang mereka:

(Artinya) Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari qiyamat, dan langit-langit digulung dengan Tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah, dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az Zumar: 67)

Bencana Alam & Bala’

Bencana Alam & Bala’

Sebuah Renungan tentang Pentingnya Tauhid dan Bahayanya Syirik

Musibah gempa yang mengguncang Ranah Minang (Sumatra Barat) beberapa waktu lalu tentunya menyisakan pilu bagi kita kaum muslimin di manapun ia berada. Dikarenakan kita kaum muslimin, adalah satu tubuh. Jika satu merasakan sakit, maka yang lain pun akan merasakan hal yang sama. Rasa pilu itu mengiringi berjuta lantunan do’a dan harapan kepada Ilahi; (1) agar kaum muslimin yang wafat, diberikan derajat syuhada sebagai bentuk rasa kasih sayang dari-Nya, (2) agar kerabat mereka diberikan ketabahan dan kesabaran, (3) agar kita semua yang menjadi saksi hidup bencana besar ini, semakin takut dan bertaqwa kepada Allah.
Di balik bencana yang menimpa suatu negeri, setidaknya terdapat 3 hikmah di atas, ditambah satu lagi yang ke-4; yaitu sebagai hukuman atas mereka yang berpaling dari peringatan Allah dan Rasul-Nya. Tentunya 4 hal ini tidak hendak membatasi keberadaan hikmah Allah lainnya yang maha luas. Hikmah yang terakhir akan menjadi poros perenungan kita dalam tulisan ini, agar setiap kita bisa menghisab diri dan bertaubat dari segenap dosa selama ini.
Antara Umat Terdahulu, Seruan Nabi, dan Bencana Besar

Apa itu Wahabi? (bag. 2 -Habis)

Apa itu Wahabi? (bag. 2 -Habis)

 “Aqidah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab”

Oleh: al-Ustadz DR. Ali Musri, MA.

Pokok-Pokok Landasan Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang Dicap Sebagai Wahabi

Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali, dan kuburan mereka, hal ini akan nampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau (lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafaat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 3).

Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim, beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang, ringkasannya sebagaimana berikut: “Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir di sampingku serta kepada anda semua:

Apa itu Wahabi? (bag. 1)

Apa itu Wahabi? (bag. 1)

 “Aqidah al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab”

Oleh: al-Ustadz DR. Ali Musri, MA.

Keadaan yang Melatar Belakangi Munculnya Tuduhan Wahabi

Dari segi aspek politik, jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.

Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.

‘ARSY AR-RAHMAN

Buletin Al-Hujjah Vol: 17-IX/Shafar-1430H/02-09

 “Dalil-Dalil Tentang Keberadaan Allah di Atas ‘Arsy”

Sebenarnya, al-Qur-an dan as-Sunnah sarat akan berita-berita tentang sifat-sifat Allah yang bisa menambah keimanan, ketakjuban, kecintaan sekaligus rasa takut kita kepada-Nya. Boleh dibilang, Allah memperkenalkan diri-Nya lebih dekat lagi pada hamba-hamba-Nya melalui al-Qur-an dan as-Sunnah. Salah satunya adalah kabar bahwa Dirinya bersemayam di atas  ‘singgasana-Nya (‘Arsy. )

Mengenal Hakikat WALI ALLAH & WALI SYETAN

Buletin Al-Hujjah Vol: 07-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08

Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah 

Bermacam pandangan telah mewarnai bursakewalian, ada yang berpandangan bila seseorang telah memiliki halhal yang luar biasa berarti dia telah sampai pada tingkat kewalian,seperti tidak luka bila dipukul dengan senjata tajam dan sebagainya. Sebagian orang berpendapat bila sudah pakai baju jubah dan surban berarti sudah wali, sebagian lain berpendapat bila seseorang suka berpakaian kusut dan bersendal cepit berarti ia wali, ada pula yang berpandangan bila seseorang kerjanya berzikir selalu berarti dia wali. Dan banyak lagi pendapat-pendapat tentang perwalian yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu di sini.

DASAR-DASAR PENETAPAN AQIDAH

Buletin Al-Hujjah Vol: 04-IX/Shafar-1429H/Feb-08
Menurut Al-Qur’an & Sunnah 

Aqidah adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan keyakinan yang teguh dan pasti tentang permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hati diluar amal, seperti iman pada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, hari akhir serta taqdir yang baik maupun yang buruk. Masuk dalam istilah ini juga permasalahan-permasalahan cabang dari pokok di atas.

Tahun Baru Hijriah Momentum Al-Wala’ wal Bara’

Buletin Al-Hujjah Vol: 02-IX/Muharram-1429H/Jan-08 

Al-Wala’ berarti cinta dan loyalitas terhadap ke-Islaman, terhadap segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa keimanan, orang-orang beriman, syi’ar-syi’ar Iman dan Islam yang shahih, dll.

Al-Bara’ mengandung makna benci dan berlepas diri dari apa-apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya berupa kesyirikan, orang-orang musyrik, syi’ar-syi’ar kesyirikan, kemaksiatan, kebid’ahan, dll.

Pergantian tahun baru Hijriah setiap 1 Muharram, seharusnya menjadi ajang pembelajaran bagi kita akan aqidah al-Wala’ al-Bara’.

Keutamaan Islam dan Keindahannya

Buletin Al-Hujjah Vol: 01-IX/Dzulhijjah-1428H/Jan-08 

Islam adalah agama yang memiliki banyak keutamaan yang agung dan membuahkan hal-hal yang terpuji dan hasil-hasil yang mulia. Di antara keutamaan dan keindahan Islam adalah:

[1]. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.

Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla.

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, ‘Jika mereka berhenti (dari kekafiran-nya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu (dibinasakan).” [Al-Anfaal: 38]

Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash radhiallaahu ‘anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk Islam, beliau radhiallaahu ‘anhu berkata, “Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan aku berkata, ‘Bentangkanlah tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin al-‘Ash radhiallaahu ‘anhu) berkata, ‘Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam).’ Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Ada apa wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Aku ingin me-minta syarat!’ Maka, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Apakah syaratmu?’ Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’” [Shahih Muslim, no. 121]

1 6 7 8