Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله merupakan dasar agama Islam dan inti dari seluruh syariat Islam, kalimat ini juga yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan pada zaman sekarang ini sering kita mendengar sebagian kaum muslimin mengucapkan kalimat tersebut secara spontan tanpa mereka sadari keluar dari lisan mereka. Namun yang sangat disayangkan dan memperihatinkan, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna dan kandungan dari kalimat ini, yang kemudian sebagai penyebab mereka melanggar konsekuensi dari kalimat yang agung…

Enam Tanda Cinta yang Tulus pada Nabi

Enam Tanda Cinta yang Tulus pada Nabi

Setiap dakwaan membutuhkan pembuktian sehingga bisa dikatakan jujur, begitu juga dakwaan cinta pada Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki tanda-tanda yang menunjukkan ketulusan dakwaan cinta tersebut. Keseluruhan tanda-tanda tersebut, setidaknya tercermin dari 6 poin berikut ini: 01 – Mengikuti Sunnah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam Allah berfirman: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha…

Mencari Rizki Barokah

Mencari Rizki Barokah

Allah telah mengatur ajal dan rezeki manusia. Oleh karena itu, dicari dengan cara apapun, yang halal maupun haram, ia hanya akan mendapatkan apa yang telah ditetapkan Allah atas dirinya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerangkan ini dalam sabda beliau (artinya): “Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan…

Buah Taqwa (bagian 2)

Buah Taqwa (bagian 2)

lanjutan dari Buah Taqwa (bagian 1) 05-Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa Allah subhanahu wata’ala berfirman: إِن تَتَّقُواْ الله يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَالهَُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ”Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqaan, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian, dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Al-Anfal : 29)

Buah Taqwa (bagian 1)

Buah Taqwa (bagian 1)

Sesungguhnya wasiat Allah subhanahu wata’ala yang paling agung yang diwasiatkan kepada hamba-hamba-Nya adalah takwa. Allah subhanahu wata’ala berfirman: وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ “Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian; agar bertakwa kepada Allah.” (An-Nisaa’ : 131)

Jadwal Kajian Safari Syaikh Abdurrazzaq di Indonesia 20 – 26 April 2013

Jadwal Kajian Safari Syaikh Abdurrazzaq di Indonesia 20 – 26 April 2013

Berikut ini adalah jadwal kajian Syaikh Abdurrazzaq hafizohullah selama di Indonesia (insya Allah): SABTU 20 APRIL 2013 Tema: Pentingnya Memakmurkan Masjid Waktu: Ba’da Maghrib Tempat: Masjid Al-Fath, JATINEGARA, JAKARTA AHAD, 21 APRIL 2013 (1) Tema: Cinta Nabi Waktu: 09.00 – 11.30 Tempat: Masjid Istiqlal, JAKARTA (2) Tema: Penyihir yang Malang Waktu: Ba’da Isya’ Tempat: Masjid Kampus UGM, YOGYAKARTA

Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allâh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih, sungguh pasti Allâh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan umat sebelum mereka berkuasa. Dan Allâh akan mengokohkan agama yang telah diridhai bagi mereka (yaitu Islam). Dan Allâh akan menggantikan keadaan mereka dari takut menjadi aman. Mereka menyembah hanya Aku, dan tidak berbuat syirik pada-Ku sedikitpun. Barangsiapa kufur nikmat setelah itu, maka merekalah orang-orang yang fasiq.” [QS. An-Nuur: 55]

Sababun Nuzûl

Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdi rahimahullâh (wafat: 1422-H)[1] membawakan sebuah riwayat tentang peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ الْمَدِينَةَ وَآوَتْهُمُ الْأَنْصَارُ رَمَتْهُمُ الْعَرَبُ عَنْ قَوْسٍ وَاحِدَةٍ كَانُوا لَا يَبِيتُونَ إِلَّا بِالسِّلَاحِ وَلَا يُصْبِحُونَ إِلَّا فِيهِ، فَقَالُوا: ” تَرَوْنَ أَنَّا نَعِيشُ حَتَّى نَبِيتَ آمِنِيْنَ مُطْمَئِنِّيْنَ لَا نَخَافُ إِلَّا اللَّهَ؟ فَنَزَلَتْ (الآية)

“Dari ‘Ubay bin Ka’ab radhiallâhu’anhu, beliau berkata: ‘Tatkala Rasulullâh r dan para Sahabatnya tiba di Madinah (dalam rangka hijrah), dan kaum Anshâr mengakomodir mereka. Saat itu, bangsa Arab semuanya bersatu memusuhi mereka. Sehingga mereka tidak tidur dan tidak bangun di pagi hari melainkan dengan ditemani pedang (inilah gambaran tentang suasana mencekam yang menteror mereka). Mereka mengatakan: ‘Apakah menurut kalian kita ini akan tetap hidup sehingga bisa merasakan tidur nyenyak dalam rasa aman dan tenang, di mana kita tidak takut pada apapun kecuali pada Allah saja? Maka turunlah ayat tersebut di atas.”[2]

 

Misi Syi’ah di Balik Hari Raya Karbala

Misi Syi’ah di Balik Hari Raya Karbala

Menjelang Muharram, kaum Syi’ah mulai bersiap menyambut satu hari yang mereka sebut sebagai “Hari Peringatan Tragedi Karbala”. Bagi mereka, hari tersebut adalah hari kelam yang bernilai ibadah jika dirayakan dengan kesedihan dan ratapan. Teriakan tangis mengiringi ratapan dan syai-syair kesedihan. Mereka merobek baju, menyiksa diri dengan menampar-nampar wajah, memukul-mukul tubuh dan kepala, bahkan memukulkan benda-benda tajam disekujur tubuh mereka. Konon, itu adalah “ungkapan berkabung atas terbunuhnya Husein bin ‘Ali radhiallaahu’anhu di padang Karbala oleh pedang zalim Bani Umayyah”. Namun, benarkah demikian?

Tahukah Anda apa sebenarnya yang terjadi dalam tragedi Karbala 10 Muharram 61-H? Fakta sejarah berbicara, bahwa dikarenakan pengkhinatan nenek moyang merekalah, Husein radhiallaahu’anhu terbunuh dalam keadaan terzalimi. Inilah latar belakang sebenarnya dari perayaan Karbala, “Hari penyesalan atas dosa pengkhianatan terhadap Husein” [lih. Hiqbatun min at-Taariikh hal. 244, Syaikh DR. Utsman al-Khumais].

Download Materi dan Audio MP3 Kajian Ust. Abdullah Taslim

Download Materi dan Audio MP3 Kajian Ust. Abdullah Taslim

Alhamdulillah, Ust. Abdullah Taslim dapat hadir dan mengisi kajian ilmiah di Lombok sejak tanggal 22 Februari s.d 25 Februari 2011. Beliau juga mengirimkan pada kami artikel/makalah kajian yang sebagian juga dibahas pada Safari dakwah beliau kali ini di Lombok.

Berikut kami sertakan link download materi/artikel/makalah beliau yang kami upload pada halaman/menu Download (dibutuhkan flash player untuk dapat menampilkannya sebelum di download) dan juga file audio MP3 yang kami link dari situs kajian.net. Bagi yang tidak menggunakan plugin flash player berikut juga kami sertakan link manualnya sebagai berikut dibawah ini:

MAKNA DAN HAKEKAT “LAA ILAHA ILLA ALLAH”

MAKNA  DAN HAKEKAT “LAA ILAHA ILLA ALLAH”

 

الحمد لله الذي خلق الإنسان لعبادته، فقال سبحانه: (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون)، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك إله الأولين والآخرين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله الله داعية إلى إخلاص الدين لرب العالمين، فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله الطيبين الطاهرين وصحابته الغر الميامين ومن اقتفى أثره واتبع هداه إلى يوم الدين، أما بعد:

Kalimat tauhid yaitu (لا إله إلا الله) adalah hikmah utama penciptaan manusia, pengutusan para rasul dan diturunkannya Al Qur’an, ia adalah keadilan yang utama, oleh karenanya langit dan bumi ciptakan dan neraca keadilan ditegakkan, ia sebagai pembeda antara muslim dengan orang kafir, dengannya manusia tebagi menjadi orang orang yang bahagia penghuni syurga dan orang orang yang sengsara penghuni nereka.

Akan tetapi yang sangat disayangkan bahwa manyoritas kaum muslimin yang mengucapkan kailmat yang mulia ini tidak memahami makna dan kakekatnya serta persyaratannya, sedang ulama telah sepakat bahwa kalimat tauhid tidak cukup sekedar ucapan dilisan saja, akan tetapi harus diketahui maknanya dan dilaksanakan tuntutannya serta diaplikasikan kensekuensinya.

Pada makalah yang sederhana ini akan dijelaskan insyallah makna kalimat tauhid sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Sunnah, serta persyaratan persyaratan yang wajib terpenuhi dalam mengamalkannya.

Kalimat tauhid (لا إله إلا الله) tersusun dari dua kalimat (لا إله) yang dikenal dengan “kalimat penapian” dan (إلا الله) yang dikenal dengan “kalimat istbat (penetapan)”, kedua kalimat tersebut (penapian) dan (penetapan) dikenal dengan dua rukun kalimat tauhid, dan itulah hakekat tauhid. Dan (إله) dalam bahasa arab artinya (معبود) “yang diibadati”.

Maksudnya : kalimat penapian (لا إله) menapikan seluruh peribadatan kepada selain Allah, dan (إلا الله) menetapan bahwa peribadatan yang hak dan benar semata mata hanya kepada Allah. Maka makna dari (لا إله إلا الله) yaitu (لا معبود بحق إلا الله) “tiada yang berhak diibadati secara benar kecuali Allah”.

Kenapa dalam maknanya harus ditambah kalimat (yang benar/hak) karena seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah batil dan ila yang diibadati secara benar adalah Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Artinya: )

(Kuasa Allah) Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru/ibadati selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(Al-Hajj:62)

Makna dan hakekat tauhid diatas telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya, berikut ayat ayat dan hadits hadits yang menafsirkan kalimat tauhid:

قال تعالى: (واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا). النساء: 36

“Dan ibadati Allah dan jangan kamu persekutukan dengan-Nya sesuatu apapun”.

Dalam ayat ini terdapat perintah untuk mengibadati Allah, karena tiada seembahan yang berhak diibadati selain-Nya, nah inilah makna kalimat (إلا الله) dan terdapat larang dari melakukan kesyirikan, karena seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah syirik dan itu adalah kebatilan dan inilah makna (لا إله).

وقال تعالى: (وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه). الإسراء: 23.

“Dan Rabmu telah memerintahkan agat kamu tidak mengibadati kecuali Dia”.

Nah kalimat (ألا تعبدوا إلا إياه) itulah kalimat tauhid dan makna (لا إله إلا الله).

وقال تعالى: (ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت). النحل: 36

“Dan sungguh kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (untuk menyerukan) “ibadatilah Allah dan tinggalkanlah Thagut”.

1 17 18 19 20 21 22