Dibalik Keajaiban Do’a

Dibalik Keajaiban Do’a

Sebagai Pemusnah Kesusahan

flickr.com

اللّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّ

 

“Wahai Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan (dari ayahku hingga Adam, dan dari ibuku hingga Hawa), ubun-ubunku dalam genggaman tangan-Mu, telah tetap hukum-Mu terhadapku, sungguh adil ketentuan (takdir)-Mu atasku. Aku memohon kepada-Mu dengan (wasilah) Nama-Nama-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau yang telah Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau rahasiakan di dalam ilmu ghaib di sisi-Mu; agar sudi kiranya Engkau jadikan al-Qur-an sebagai “hujan musim semi” dalam hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku dan kesusahanku.”

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (artinya): “Tidaklah seseorang ditimpa kesusahan ataupun kesedihan kemudian dia membaca: …(do’a di atas)… melainkan Allah pasti akan menghilangkan kesusahan dan kesedihannya tersebut, lalu mengganti keadaannya dengan kelapangan dan kegembiraan.” Lantas ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam! Tidakkah seharusnya kami mempelajari do’a tersebut? Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Tentu saja, sudah sepatutnya bagi orang yang mendengar do’a ini untuk mempelajarinya.” [Hadits Shahih, riwayat Ahmad: 3712, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No. 199]

Boleh jadi kita telah mendengar lafaz do’a di atas berkali-kali, baik dari mimbar-mimbar khutbah, atau dari pengajian-pengajian maupun dari membaca kitab-kitab. Namun boleh jadi sebagian dari kita belum mempelajarinya, baik dari menghafalnya, atau dari memahami makna serta kandungan do’a ini, bahkan dari mengucapkannya ketika kita tertimpa kesusahan.

JAGALAH ALLAH..!

JAGALAH ALLAH..!

ALLAH PASTI AKAN MENJAGAMU

flickr.com

 

Oleh : Ust. Abdullah Taslim, MA 

يَا غُلاَمُ، إِنِّيْ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاْسألِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِلله 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berwasiat kepada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu: “Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): “Jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka mintalah  (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan, maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah…”  [Hadits Shahih, Tuhfatul Ahwadzi no. 2516]

HADITS ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu, sepupu Nabi yang berjuluk “al-Bahr” (lautan) karena keluasan ilmunya. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu adalah putra paman Nabi yang bernama ‘Abbas bin Abdul Muththalib. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu lahir 3 tahun sebelum Nabi hijrah. Beliau wafat di Thaif pada tahun 68 H.

Kedudukan hadits ini sangatlah agung, sampai-sampai Imam Ibnul Jauzi menggambarkan dengan ucapannya: “(Ketika) aku merenungkan dan menghayati (makna) hadits ini, aku tercengang (terpesona) dan nyaris kehilangan akal, duhai, alangkah ruginya (seorang yang) tidak mengetahui hadits ini dan kurang memahami maknanya” [dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]

Shalat itu Cahaya…

Shalat itu Cahaya…

Buletin Al-Hujjah Vol: 14-IX/Rajab-1429H/Juli-08

Syarh Hadits Abu Malik al-Asyary

 

“Bersuci adalah separuh keimanan. (Kalimat) Alhamdulillah memenuhi mizan (timbangan amal di akhirat). Dan (kalimat) Subhaanallaahi wal hamdulillaah, keduanya memenuhi apa-apa yang berada di antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya, dan sedekah adalah bukti. Sabar adalah sinar yang terik, dan al-Qur-an adalah hujjah yang akan membelamu atau (boleh jadi) yang akan melawanmu. Semua manusia berangkat di pagi hari untuk berusaha, ada yang menjual dirinya (kepada Allah) sehingga ia terbebas (dari adzab), atau (kepada setan) sehingga ia binasa.”

Hadits di atas derajatnya SHAHIH, diriwayatkan oleh Imam Muslim: 223, at-Tirmidzi: 3517, Ibnu Majah: 280, Ahmad: 22395, 22401, dan ad-Darimi: 653; dari Sahabat Rasulullah yang mulia, Abu Malik al-Haarits bin ‘Aashim al-Asy’ary radhiallaahu’anhu

SYARH HADITS : “Baadiru bil A’maal..”

Buletin Al-Hujjah Vol : 05-IX/Shafar-1429/Mar-08 

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا

وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Arti hadits: (Rasulullah bersabda), “Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang diwaktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia.”

(Shahih Muslim, no 118. Lihat kitab as-Shahihah no. 758 oleh Imam al-Albani).

1 2