Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-2 – Habis)

Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-2 – Habis)

Ramadhân masih menyisakan kisah yang panjang. Berbagai peristiwa bersejarah kembali akan kita renungi pada bagian tulisan yang terakhir ini sebagai ibrah lanjutan, setelah membaca artikel sebelumnya yang berjudul “Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-1): ‘Dari Kenaikan, Rekoneksi Langit & Bumi, Kejayaan, dan Kehinaan’” 07 – Wafatnya putri Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, Ruqayyah radhiallâhu ‘anha Satu lagi insan mulia setelah Khadïjah radhiallâhu ‘anha yang dimuliakan Allâh untuk menghadap ke haribaan-Nya, di bulan Ramadhân tahun ke-2 setelah…

Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-1): “Dari Kenaikan, Rekoneksi Langit & Bumi, Kejayaan, dan Kehinaan”

Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Ramadhan (Part-1): “Dari Kenaikan, Rekoneksi Langit & Bumi, Kejayaan, dan Kehinaan”

Ramadhân tidak hanya ‘alkisah nyata’ tentang rahmat, berkah, dan ampunan yang melimpah. Tapi juga sarat akan catatan sejarah. Apa saja peristiwa-peristiwa penting dan monumental yang terjadi di bulan Ramadhân? Berikut ini kami sajikan beberapa di antaranya: 01 – Konon, Isa ‘alaihissalam diangkat ke langit di bulan Ramadhân Ini berdasarkan riwayat yang dishahihkan oleh al-Hâkim dalam al-Mustadrak (3/143), dan Imam Dzahabi tidak mengomentari penshahihan al-Hâkim tersebut. 02 – Turunnya al-Qur’an ke langit dunia saat Lailatul Qadar…

10 Langkah Menuju Pintu Ramadhan

10 Langkah Menuju Pintu Ramadhan

Tulisan ini adalah translasi makna dari sebuah goresan pena yang menggugah. Ditulis oleh Jam’ân al-Ghâmidi. Di bawah judul “Baina Yadai Ramadhân; Fadzakkir fa-inna adz-Dikrâ Tanfa’ul Mu’minîn”[1] (Di ambang Ramadhân; Berilah peringatan, karena peringatan itu baik bagi orang-orang mukmin). Berbicara tentang Ramadhân yang sebentar lagi datang. Langkah apa saja yang harus kita persiapkan. Langkah #1 أولاً: جرد القصد والنية لله جل وعلى واجعل الصيام والقيام لله خالصا واحرص على أن يكون لك خبيئة من العمل لايراها…

Sepucuk Surat dari Sang Khalifah ‘Umar bin ‘Abdilazïz rahimahullâh

Sepucuk Surat dari Sang Khalifah ‘Umar bin ‘Abdilazïz rahimahullâh

Suatu ketika Sang Khalïfah, ‘Umar bin ‘Abdilazïz rahimahullâh (wafat: 101-H / 720-M)[1], yang terkenal akan keilmuan dan kezuhudannya itu, menerima sepucuk surat yang berisikan sekelumit pertanyaan tentang al-Qadar (takdir). Tampaknya isi surat tersebut menyiratkan akan semburat kebid’ahan yang mulai muncul di masa beliau terkait keimanan terhadap takdir. Beliau pun segera menulis beberapa kalimat balasan, juga di atas sepucuk surat. Diiringi harapan akan seteguk ‘ibrah dan ilmu, biarkanlah sepucuk surat itu bercerita tentang kemuliaan apa yang…

10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim

10 Sampah Jiwa Menurut Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim rahimahullâh (wafat: 751-H) mengatakan; “Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan[1]: #01: علم لا يعمل به Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih #02: وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutâba’ah kepada sunnah. #03: ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة. Harta yang tidak di-infaq-kan…

Faidah Ushul – 02: Jika Kaidah Madzhab Bertentangan dengan Dalil (Umum—sekalipun—)

Faidah Ushul – 02: Jika Kaidah Madzhab Bertentangan dengan Dalil (Umum—sekalipun—)

Para ulama yang setia berjalan di atas manhaj Salafush Shâlih telah menegaskan bahwa: القَاعِدَةُ لَا تَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيْلٍ فَيُسْتَدَلُّ لَهَا مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَلَا يُسْتَدَلُّ بِهَا إذَا لَمْ تَثْبُتْ بِالدَّلِيْلِ “Suatu kaidah tidak bisa dianggap sebagai kaidah kecuali jika didasari oleh dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah, dan kaidah tersebut tidak bisa dijadikan dalil jika belum didasari oleh dalil” Sehingga, kaidah apa saja yang tidak berlandaskan kepada dalil dari al-Qur’an ataupun Sunnah, maka kaidah tersebut adalah…

TENTANG TAKDIR ILAHI (BAGIAN 2)

TENTANG TAKDIR ILAHI (BAGIAN 2)

BERDALIH DENGAN TAKDIR Pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan empat tingkatan beriman kepada takdir. Pertama, kita wajib meyakini bahwa jauh sebelum makhluk tercipta, Allāh sudah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini secara terperinci, baik yang tidak nampak (ghaib) maupun yang nampak, termasuk siapa di antara hamba-Nya yang akan memilih untuk taat dan siapa yang memilih ingkar. Kedua, kita wajib meyakini bahwa Allāh telah menuliskan segenap pengetahuan-Nya tersebut dalam sebuah kitab induk yaitu…

1 2 3 4 7