Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab-adabnya

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Adab-adabnya

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim & muslimah, karena Allah telah memerintahkan untuk berilmu sebelum berbicara dan berbuat. Allah ta’ala berfirman: (Artinya): “Maka ketahuilah (ilmuilah)! Bahwasanya tidak ada Ilah (tuhan yang berhak untuk disembah dengan benar) kecuali Allah dan mohonlah ampunan terhadap dosa-dosamu ….” . (QS. Muhammad: 19) Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dengan redaksi yang jelas beliau telah memerintahkan ummat untuk menuntut ilmu : طَلَبُ العِلمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ “Menuntut ilmu…

Keutamaan bersegera datang ke Masjid

Keutamaan bersegera datang ke Masjid

Sesungguhnya di antara karunia dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Allah memudahkan mereka untuk melakukan amal ketaatan, atau ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah, di antara ketaatan dan amal ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah adalah bersegera untuk memenuhi panggilah Allah, yaitu bersegera menuju masjid apabila adzan sudah dikumandangkan, karena shalat merupakan ibadah yang Allah telah menjadikannya sebagai sebuah kewajiban yang pertama kali akan ditanya nanti di akhirat. Sebagimana…

Sukseskah Kita Saat Ramadhan? (Ciri Maqbulnya Amal & Puasa Syawwal)

Sukseskah Kita Saat Ramadhan? (Ciri Maqbulnya Amal & Puasa Syawwal)

Apa Setelah Ramadhan? Jangan pernah menganggap; Ramadhân sebatas “festival ibadah” musiman atau “ajang mujâhadah” tahunan, yang berawal saat rembulan Sya’ban berlalu dan berakhir dengan terbitnya rembulan Syawwâl. Apa yang tadi malam kita anggap sebagai akhir, sejatinya adalah awal. Apa yang saat ini kita anggap sebagai hari kemenangan, pada hakikatnya adalah babak baru perjuangan. Ya, tantangan sesungguhnya adalah pada hari-hari ke depan, dimulai hari ini. Benar, pertempuran sebenarnya melawan syaitan dan hawa nafsu jiwa adalah pada…

Fiqh Ringkas Puasa Muharram

Fiqh Ringkas Puasa Muharram

Fadhilah Puasa Muharram dan Asyura Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” [Muslim: 1163] Dalam hadits yang lain, beliau juga bersabda: “Aku berharap puasa Asyura (10 Muharram) bisa menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya.” [Muslim: 1162] Namun perlu diperhatikan juga penjelasan para ulama tentang fadhilah terhapusnya dosa selama setahun ini. Karena al-Imam an-Nawawi, menjelaskan dalam kitabnya al-Majmu Syarhul Muhadz-dzab (juz-6): “Bahwa dosa-dosa yang dihapuskan dengan puasa…

Bersatu dalam Mengawali Puasa & Lebaran

Bersatu dalam Mengawali Puasa & Lebaran

Catatan Pinggir: Kritik untuk Fanatikus Hisab “Bersatu dalam Mengawali Puasa & Lebaran” Polemik mana yang paling benar dalam penentuan awal puasa dan lebaran antara metode ru’yat ataukah hisab sudah berlangsung sejak lama. Anehnya, polemik tersebut terjadi belakangan, bukan di zaman Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, bukan juga di era Sahabat. Jika demikian, seharusnya hal ini tidak pernah menjadi polemik apalagi perdebatan yang berkepanjangan. Tinggal mencontoh praktek Rasulullâh dan para Sahabatnya, selesai masalah.

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

Keutamaan Dzulhijjah (Amalan yang Disunnahkan & Beberapa Hal yang Terabaikan)

Keutamaan Dzulhijjah (Amalan yang Disunnahkan & Beberapa Hal yang Terabaikan)

Ibnu ‘Abbas radhiallaahu’anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَل الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوا: يَا رَسُول اللَّهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ؟ قَال: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيل اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْء

“Tidak ada satu rangkaian hari pun, di mana amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah melebihi amal-amal shalih pada hari-hari ini (yang dimaksud adalah 10 hari pertama Dzulhijjah-pent). Lantas para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, tidak juga (jika dibandingkan) dengan (amal) jihad di jalan Allah?”, beliau bersabda: “Tidak juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seorang mujahid yang keluar untuk berperang (di jalan Allah) dengan jiwa dan harta bendanya, lantas ia gugur dan tidak ada yang kembali sedikitpun.” [Shahih Bukhari: 969, Shahih Sunan Abi Dawud: 2438, hadits di atas adalah lafaz Abu Dawud]

Dalam riwayat ad-Daarimi disebutkan:

ما من عمل أزكى عند الله عز وجل ولا أعظم أجرا من خير يعمله فى عشر الأضحى… وزاد: ” قال: وكان سعيد بن جبير إذا دخل أيام العشر اجتهد اجتهادا شديدا حتى ما يكاد يقدر عليه

“Tidak ada satu amalan pun yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wa jalla, dan tidak juga lebih besar pahalanya dibandingkan dengan kebaikan yang diamalkan oleh seorang hamba pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah…” terdapat tambahan riwayat: “(bahwasanya) Sa’id bin Jubair rahimahullah, jika telah masuk 10 hari pertama, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan kesungguhan yang luar biasa, sampai-sampai hampir saja beliau tidak mampu lagi.”

Riwayat tersebut, menurut Imam al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (3/398, Cet. Maktab Islamiy, 1405-H), derajatnya hasan.

Kedua riwayat di atas berbicara dalam konteks yang umum. Artinya amalan kebaikan apa saja akan bernilai lebih, jika dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Sebut saja puasa, dzikir, membaca al-Qur’an, sedekah, dan jenis ibadah lainnya, semuanya masuk dalam cakupan umum hadits di atas.

Kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah tidak terbatas pada siang harinya saja, tapi juga pada malamnya. Kesimpulan ini dipetik oleh sebagian ulama ahli tafsir dari sumpah Allah dalam al-Qur’an:

 

Tingkatan Ibadah dengan al-Qur’an

Tingkatan Ibadah dengan al-Qur’an

Tingkatan ibadah dalam membaca al-Qur’an ada tiga. Pertama, murni tilawah. Yaitu sebatas membaca al-Qur’an tanpa pemahaman, tadabbur dan tafakkur. Pada tingkatan ini, seseorang tetap diganjar pahala sesuai kadar usaha dan keikhlasannya dalam membaca. Kedua, tilawah yang diiringi pemahaman, tadabbur dan tafakkur makna ayat-ayat yang dibaca. Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, sekalipun lebih sedikit secara kuantitas. Bukankah Allah telah berfirman: كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آياتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبابِ “(Yang diwahyukan kepadamu ini wahai…

Mendulang Ilmun& Hikmah dibalik pensyari’atan Puasa ‘Asyuro (10 Muharram)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam pernah memuji Muharram dengan sebutan “Syahrullaah” (Bulan Allah), sebuah keistimewaan tentunya, mengingat segala sesuatu yang disandarkan dan disandingkan langsung dengan nama Allah memiliki keagungan dan kemuliaan, seperti penyebutan Baitullaah (Rumah Allah) untuk Ka’bah, dan Kholilullaah (Kekasih Allah) yang khusus diperuntukkan bagi Nabi kita r dan Nabi Ibrahim ‘alihissalam. Dengan demikian jelaslah bahwa Bulan Muharram memiliki kedudukan yang spesial di sisi Allah. [Lih. Lathoo-iful Ma’aarif hal. 81, Ibnu Rajab]

Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

أَفْضَل الصِّيَام بَعْد شَهْر رَمَضَان شَهْرُ اللَّه الْمُحَرَّم ، وَأَفْضَل الصَّلَاة بَعْد الْفَرِيضَة صَلَاة اللَّيْل

Seutama-utama puasa setelah puasa di bulan Ramadhan adalah (puasa) di Bulan Allah (yang bernama) Muharram. Dan seutama-utama sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam (Tahajjud).” [HR. Muslim: 1163]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (736-795.H) mengatakan: “(Dalam hadits tersebut) Nabi telah menjuluki Muharram sebagai Syahrullah. Dan penyandaran bulan (Muharram) langsung dengan nama Allah, menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan ini. Karena Allah tidak layak digandengkan nama-Nya kecuali dengan kalangan istimewa dari makhluk-makhluk-Nya….” [Lathoo-iful Ma’aarif hal. 81]

Lebih lanjut (pada hal. 82) Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa puasa sunnah pada bulan ini otomatis memiliki keistimewaan yang khusus pula, karena ibadah puasa (berdasarkan hadits di atas) disandarkan pada bulan yang disandarkan padanya nama Allah.

RAHASIA DI BALIK “GANJARAN TANPA BATAS” RAMADHAN

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullaah (736 –795 H) dalam kitabnya Lathoo-iful Ma’aarif (hal. 283-284, Cet.-5 Daar Ibn. Katsiir, 1420-H) mengupas dengan indah rahasia di balik janji Allah dalam hadits qudsi yang agung ini:

قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah berfirman: ‘setiap amal anak Adam adalah untuk mereka, kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya’”. [Shahih Bukhari no. 1904]

1 4 5 6 7