REFLEKSI TANGISAN MUSLIMIN MESIR

REFLEKSI TANGISAN MUSLIMIN MESIR

Mari Memohon “AL-‘AFIYAH” Untuk Mereka..

Mesir bergejolak dan tengah membara. Sebuah usaha penggulingan kekuasaan yang dianggap “tirani” kini sedang berlangsung. Chaos tak bisa dihindari. Revolusi berdarah tengah dipertontonkan pada dunia. Siapa kawan dan siapa lawan? Tak jelas, yang ada hanya awan kelam. Jangan tanya kerugian materi yang diderita. Dikabarkan bahwa negeri kaya sejarah dan budaya Islam tersebut menderita kerugian 28 Triliun setiap harinya, belum lagi korban jiwa yang hanya Allah Pemilik ilmu tentang jumlahnya.

Lalu siapakah yang hendak kita salahkan? Kiranya pertanyaan tersebut—di sini—tidak juga akan terjawab, karena pertanyaan berikut ini lebih penting dan menuntut untuk segera ditanggapi: Apakah yang bisa kita perbuat untuk mengangkat derita di Mesir, dan mengubah air mata terurai menjadi senyum harapan bagi segenap muslimin di sana? Relakah kita jika kondisi di Mesir merambah ke negeri kita? Lalu apa yang bisa kita upayakan sebagai hamba Allah yang beriman?

Jauh sebelumnya, Nabi kita yang mulia telah mengingatkan:

تَكُوْنُ فِتْنَةٌ لاَ يُنْجِيْ مِنْهَـا إِلاَّ دُعَـاءٌ كَدُعَاءِ الْغَرِيْقِ

Kelak, akan terjadi fitnah (huru-hara). Tak satupun yang mampu menyelamatkan kecuali suatu do’a, layaknya do’a seseorang yang akan tenggelam.” [HR. Ibnu Abi Syaibah: 6/22 dan 7/531, dishahihkan oleh al-Hakim: 1/687]

Do’a adalah senjata bagi orang-orang mukmin. Inilah modal perjuangan terbesar yang telah banyak dilupakan orang. Padahal, do’a mampu memberikan apa yang tidak mampu diberikan oleh segenap usaha manusia dalam menolak pedihnya bala’. Khususnya do’a yang dipanjatkan demi meraih ‘afiyah.

URGENSI MEMOHON ‘AFIYAH

Rofa’ah ibn Rofi’ mengisahkan: “Suatu ketika Abu Bakr as-Shiddiq radliyallahu ‘anhu  beranjak untuk berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba beliau menangis, beliau lalu berkata: ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah berdiri untuk berkhutbah, kemudian beliau menangis, lantas bersabda:

سَلُوْا اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ

Mintalah kepada Allah al-‘Afwa (keselamatan di akhirat) dan al-‘Afiyah (keselamatan di dunia). Karena seseorang tidaklah dianugerahi nikmat yang paling baik setelah yakin, kecuali al-‘Afiyah.” [Shahih Sunan at-Tirmidzi: 2821, al-Albani]

 

Memutus Urat Nadi Terorisme

Memutus Urat Nadi Terorisme

DARI AKAR PERMASALAHANNYA 

Stop terorismeTerorisme atas nama jihad kian menggeliat belakangan ini di negeri kita. Aksi bejat tersebut kini lebih frontal, terang-terangan mengarahkan meriam takfir (pengkafiran) kepada siapapun juga di luar kelompoknya, lalu tanpa segan mengkonversikannya menjadi darah yang mengalir. Aksi-aksi berdarah yang mereka lakoni dengan mengatasnamakan Islam benar-benar tidak bisa dicerna akal sehat. Fitrah dan nurani yang luhur sudah pasti menolak, apatah lagi hati yang bercahaya dengan sinar ilmu yang sejati tentang Islam.

Tidak bisa dibayangkan apa yang akan diucapkan oleh imamnya para Tabi’in, al-Hasan al-Bashri (wafat: 110-H), jika beliau menyaksikan fitnah takfir yang terjadi di zaman kita ini, sementara di zamannya sendiri (ketika bergolaknya pemberontakan Ibnul Asy’ats) beliau pernah mengatakan:

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُحَرِّمًا لِدَمِ أَخِيهِ وَعِرْضِهِ وَمَالِهِ وَيُمْسِى مُسْتَحِلاًّ لَهُ وَيُمْسِى مُحَرِّمًا لِدَمِ أَخِيهِ وَعِرْضِهِ وَمَالِهِ وَيُصْبِحُ مُسْتَحِلاًّ لَهُ

Di waktu pagi seorang laki-laki mengharamkan (tumpahnya) darah saudaranya, begitu pula kehormatan dan hartanya, namun di waktu sore tiba-tiba dia sudah menghalalkannya. Di waktu sore seorang laki-laki mengharamkan (tumpahnya) darah saudaranya, begitu pula kehormatan dan hartanya, namun di waktu pagi tiba-tiba dia sudah menghalalkannya.” [Shahih, at-Tirmidzi no. 2198, dinukil dari Kasyful Astaar hal. 14]

Kalimat tersebut diucapkan tatkala menafsirkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:

تَكُونُ بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا

Menjelang hari kiamat, akan terjadi fitnah-fitnah (huru-hara) layaknya potongan-potongan malam yang kelam, pada saat itu seorang laki-laki di pagi hari masih beriman namun di sore hari dia sudah kafir, di waktu sore masih beriman, namun di saat pagi dia sudah kafir.” [Shahih, at-Tirmidzi no. 2198, dinukil dari Kasyful Astar hal. 14]

Sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan “demi Islam” yang dilakoni dengan pertumpahan darah berlatarbelakang takfir, tidak pernah melahirkan secuil hasil sekalipun, tidak (kejayaan) dunia, apalagi (kemuliaan) agama. Inilah yang diungkapkan oleh Syaikhul Ibnu Taimiyah (wafat: 728-H) dalam ucapannya yang terkenal:

فَلاَ أَقَامُوْا دِيْنًا وَلاَ أَبْقَوْا دُنْيَا

(Mereka) tidak mampu menegakkan agama (menurut versi yang mereka cita-citakan sekalipun), dan tidak pula mereka mampu menstabilkan dunia.”

Kalimat emas tersebut adalah kesimpulan beliau (dalam kitabnya, Minhajus Sunnah: 4/527-528) setelah menyebutkan berbagai kejadian berdarah dalam sejarah Islam yang dimotori oleh semangat takfir.

Hal inilah yang terjadi di negeri kita. Terlepas dari perdebatan tentang “Teori Konspirasi”, apakah teror atas nama jihad ini benar-benar dilakukan oleh “sekelompok Islam” dari dalam, ataukah ini hasil rekayasa kafir-kafir Barat, yang jelas hadits-hadits yang shahih mengabarkan kepada kita akan keberadaan kaum ekstrimis ini, dan sejarah pun telah membuktikan bahwa memang ada kelompok ekstrim yang tumbuh dalam pangkuan Islam, punya obsesi kuat memperjuangkan Islam, namun dengan cara-cara yang justru dibenci oleh Islam (dikarenakan kebodohan mereka tentang Islam yang sesungguhnya).

Kendati tidak menutup kemungkinan, bahwa kelompok-kelompok tersebut (tanpa sadar telah) ditunggangi dan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dari luar.

Urgensi Lafaz-lafaz Nubuwwah dalam doa dan dzikir

Urgensi Lafaz-lafaz Nubuwwah dalam doa dan dzikir

flickr.comHarus diyakini oleh setiap muslim, bahwa lafaz-lafaz dzikir dan do’a yang shahih diajarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah wahyu yang turun dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sehingga harus diyakini pula bahwa lafaz-lafaz tersebut akan terjaga keasliannya dari berbagai macam perubahan sampai hari kiamat.

Para sahabat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan orang-orang yang mengikuti sahabat dari kalangan Taabi’iin dan Taabi’ut Tabi’iin serta para Imam yang empat, mereka semua telah berjihad dengan segenap usaha untuk menjaga keaslian lafaz-lafaz dzikir dan do’a yang datang dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda:

نَضَّرَ اللهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا، ثُمَّ أَدَّاهَا إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا

Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan cahaya bagi seorang hamba yang mendengar sabdaku kemudian dia membawanya dan menghafalkannya, lalu menyampaikannya kepada orang-orang yang belum mendengarnya.” [al-Musnad: 1/437, 4/80, Jaami’ut Tirmidzi no. 2657, Sunan Ibnu Majah no. 232, di-shahihkan oleh al-‘Allamah al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ no. 6766]

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

flickr.com

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

“…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka (Yahudi) sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imran: 120]

Kalimat-kalimat ini kami tulis saat Zionis Yahudi kembali dirasuki Iblis dalam kezhalimannya, tatakala mereka seolah kesetanan dalam membantai, melumuri Palestin dengan darah-darah mukminin, bahkan dengan pongahnya mereka menyiapkan Gaza sebagai kuburan masal bagi rakyatnya yang mati kelaparan karena bantuan kemanusiaan yang senantiasa mereka gerayangi di tengah jalan.

Lalu, apakah yang bisa kita perbuat untuk saudara-saudara kita di sana? Bukankah janji Allah benar adanya? Bukankah Dia pasti menolong orang-orang yang beriman, apalagi jika mereka dalam keadaan tertindas dan terzhalimi? Bukankah pelaku kezhaliman tersebut adalah suatu kaum yang mana al-Qur-an dipenuhi dengan gambaran buruk tentang sifat mereka?

Hendaknya kita merenung akan kehinaan ini, yang silih berganti senantiasa menjadikan kita (kaum muslimin) sebagai pecundang.

Namun seorang mukmin sejati tak akan berprasangka buruk kepada al-Khaaliq dengan meragukan kejujuran janji-Nya. Maka jari tuduhan—sebagai biangkerok dari keterpurukan ini—, tidak pantas diarahkan kepada siapapun sebelum kepada diri kita sendiri (kaum muslimin). Dikarenakan banyaknya dosa yang kita perbuat, disebabkan jauhnya kita dari JALAN TAQWA dan KESABARAN di atasnya.

Hendaknya kita pahami, bahwa kita semua—tidak terkecuali yang tidak memiliki kemampuan untuk menolong Palestina secara fisik dan materi—memiliki kewajiban yang sama untuk menolong kaum muslimin Palestina dengan ketaqwaan dan munajat kita kepada Allah. 

Puasa Tasu’a dan ‘Asyura Momentum Bangkitnya Perlawanan atas Yahudi

Puasa Tasu’a dan ‘Asyura Momentum Bangkitnya Perlawanan atas Yahudi

 

حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى “، فَقَالَ – صلى الله عليه وسلم -؛ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا التَّاسِعَ (أَيْ مَعَ الْعَاشِرِ مُخَالَفَةًِ لأَهْلِ الْكِتَابِ) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ‘asyura (10 Muharram) dan menganjurkan para Sahabatnya untuk berpuasa mereka berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka beliau bersabda : Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa (pula) pada hari kesembilan (yakni, bersamaan dengan puasa ‘asyura, untuk menyelisihi Ahli Kitab). Ibnu Abbas berkata : belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.

(Hadits Ibnu Abbas dalam Shahih Muslim no. 1143)

Seorang mukmin sejati tak akan pernah nyenyak tidurnya selama Masjidil Aqsa masih digerayangi oleh musuh-musuh Allah, al-Yahuud dan para sekutunya, selama kehormatan Islam dan kaum muslimin masih diinjak-injak oleh kaum zionis dan antek-antek mereka dari kalangan kuffar. Perjuangan terus bergulir, kesabaran selayaknya menjadi benteng yang kokoh, doa dan isti’anah harus senantiasa dipanjatkan.

Setiap mukmin berkewajiban menolong saudaranya yang terzhalimi sesuai dengan kemampuan yang dia miliki, kendati itu hanya rintihan doa kepada ilahi. Jika hanya ini yang kita mampu, maka segera lakukan, demi meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina dan di belahan bumi manapun mereka berada.

Di bulan Muharram yang mulia ini, ada sebuah momentum berharga yang bisa kita jadikan sebagai awal kebangkitan melawan kezhaliman Yahudi dan orang-orang kuffar. Jika kita sukses pada momen tersebut, dan semangat al-Wala wal-Bara (loyalitas dan benci karena Allah) mulai tumbuh dan telah merasuki jiwa kita, maka sungguh pertolongan Allah sangat dekat. Momen yang dimaksud adalah puasa tasu’a (hari ke-9) dan ‘asyuro (hari ke-10) di bulan Muharrom.

Sebagaimana dipahami dari hadits di atas, bahwa semangat inti dari puasa tasu’a sebelum ‘asyuro adalah demi menyelisihi ritual yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi.

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Bulletin Al-Hujjah Vol: 11-IX/Jumadal Ula-1429/Mei-08

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 kelompok dan hanya satu kelompok yang dipastikan selamat dan jaya di dunia dan akhirat. Para ulama kita sepakat bahwa satu kelompok yang dijamin selamat tersebut adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun seiring waktu, hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi semakin pudar dan asing, bahkan bertolak belakang dengan paham keumuman. Tulisan ini mencoba menuntun Anda dalam memaknai Hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah

SEKOLAH SALAF

Buletin Al-Hujjah Vol: 09-IX/Rabi’ut Tsani-1429H/April-08

Upaya Meraih Kembali Kejayaan Generasi Islam

Sebagai orangtua muslim yang baik, merencanakan dan memasukkan putra-putrinya ke sekolah diniyyah (keagamaan) yang mengajarkan al-Qur-an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf as-Shalih adalah suatu hal yang teramat urgen. Karena memberikan pendidikan agama yang benar kepada mereka, merupakan kewajiban yang ditekankan oleh nash al-Qur-an.

1 2 3