5 Besar Dosa di Malam TAHUN BARU

Perayaan tahun baru tidak diragukan lagi merupakan perayaan yang mulanya dilakukan oleh orang-orang kafir dan sudah menjadi tradisi mereka dari tahun ke tahun. Sejarah menyebutkan bahwa perayaan tahun baru pertama kali diadakan pada 1 Januari 45 SM, tepat setahun setelah tewasnya Julius Caesar, penguasa Romawi yang menjadi pelopor kalender baru masehi ini.

Sekarang perayaan orang-orang kafir ini sudah menjadi tradisi juga di kalangan kaum muslimin, sungguh menyedihkan. Padahal padanya terdapat beragam dosa yang bisa mengundang kemurkaan Allah. Di sini kami menyebutkan 5 besar di antaranya:

Pertama: Mengikis Aqidah Islam

Perayaan tahun baru adalah sikap tasyabbuh (meniru-niru) kepada orang kafir, banyak di antara kita saling mengucapkan “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Ini tidak terjadi kecuali karena adanya kekaguman atau kecintaan terhadap tradisi mereka. Jika demikian, sungguh hal ini telah menyentuh ranah aqidah dan mengikisnya. Ini adalah bencana yang besar bagi umat Islam. Karena lambat laun tanpa kita sadari, aqidah yang terkikis tidak lagi tersisa sehingga jadilah kita bagian dari kekafiran mereka, na’uudzubillaah.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [Hadits Shahih, riwayat Ahmad –Abu Daud]

Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.” [Hadits Shahih, riwayat an-Nasa-i no. 1556]

Saat Dunia menjadi Tujuan Utama

Saat Dunia menjadi Tujuan Utama

 

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الآخِرَةَ؛ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَعْيَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ

 “Barangsiapa yang hasratnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan menceraiberaikan urusan dunianya, dan menjadikan kefakiran di antara kedua pelupuk matanya, dan dunia tidak akan menghampirinya kecuali sebesar apa yang telah ditakdirkan baginya.”

[Hadits Shahih, lih. ash-Shahihah No. 404 karya Imam al-Albani rahimahullah]

Hadits yang mulia di atas mengajarkan kepada kita tentang perbedaan sifat dunia dan akhirat, serta perbedaan antara para pendambanya masing-masing.

Dalam hadits tersebut, para pendamba akhirat akan diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalani kehidupan dunia dengan enteng dan bahagia (di saat banyak orang-orang berharta dan bertahta justru diselimuti kesusahan). Allah jadikan hatinya kaya sehingga ia tidak butuh kepada selain-Nya. Kekayaan dunia akan mengejarnya padahal ia sedikitpun tidak berharap .

Berbeda jauh dengan para pendamba dunia. Kekayaan dan kekuasaan yang mereka kumpulkan justru akan menjadi beban yang menyusahkan mereka. Anehnya, mereka selalu merasakan kemelaratan menemani setiap detik hidup mereka, tak peduli berapa banyak kekayaan yang telah mereka tumpuk, masih saja terasa kurang. Andaikata bukan karena takdir Allah yang telah menetapkan rizki hamba, niscaya dunia sedikitpun tidak akan menghampiri mereka.

Seorang Mukmin Tidak Pernah Stress

Seorang Mukmin Tidak Pernah Stress

Dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Berfirman:

“(artinya) Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” [QS. al-Anbiya’:35].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa” [Tafsir Ibnu Katsir: 5/342- Cet. Darut Thayyibah] .

 Kebahagiaan hidup adalah dengan bertakwa kepada Allah

Allah dengan ilmu-Nya yang maha tinggi dan hikmah-Nya yang maha sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

“(artinya) Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu” [QS. al-Anfaal: 24).

Inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya:

“(artinya) Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ” [QS. An-Nahl:97].

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” [QS. Huud:3].

1 2