BERQURBAN UNTUK SELAIN ALLAH

BERQURBAN UNTUK SELAIN ALLAH

Menyembelih hewan merupakan ibadah yang dipersembahkan hanya kepada Allah Sesungguhnya menyembelih hewan baik untuk dijadikan sebagai sembelihan biasa atau untuk dijadikan hewan qurban dia merupakan bagian dari ibadah yang telah Allah perintahkan kepada baginda Rasulallah shallallahu `alaihi wa sallam dalam firman-Nya: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” [Q.S, Al-Kautsar: 2] Ayat yang mulia ini sekalipun merupakan perintah untuk Nabi shallallahu `alaihi wa sallam namun hukumnya bersifat umum yang berlaku juga bagi…

BERANI BERGANTUNG PADA SELAIN ALLAH…??

BERANI BERGANTUNG PADA SELAIN ALLAH…??

Oleh: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc. —— Salah satu yang sangat indah dalam agama kita yang merupakan bagian terdepan dari ketaqwaan adalah Tawakal kepada Allah, menggantungkan diri hanya kepada Allah adalah hal yang disepakati oleh setiap muslim. Bahkan setiap manusia sangat membutuhkan tempat untuk bergantung dan mengharap. Setiap muslim harus meyakini bahwa hanya Allah lah yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan. Orang-orang musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  pun tahu bahwa hanya Allah lah yang…

JANGAN PERNAH BOSAN Ngaji TAUHID

JANGAN PERNAH BOSAN Ngaji TAUHID

Sungguh hati kita harus senantiasa diingatkan akan tauhid. Coba renungkan kisah Musa ‘alaihissaläm dalam membebaskan Bani Isräil dari penindasan Fir’aun. Bani Isräil melihat langsung mukjizat-mukjizat besar dari Alläh. Yang terakhir—menjelang kebinasaan Fir’aun—, mereka melihat laut terbelah dengan mata kepala mereka. Namun apa yang terjadi setelah mereka diselamatkan Alläh…?? Begitu cepat tauhid mereka lupakan. [lih. Tafsïr as-Sa’di: 302]. al-Qur’än mengabarkan: “Dan Kami seberangkan Bani Isräil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum…

MEREKA YANG MASUK SURGA TANPA HISAB

MEREKA YANG MASUK SURGA TANPA HISAB

Sekalipun umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan umat terakhir yang dikeluarkan oleh Allah Ta`ala, namun Allah Ta`ala sangat memuliakan serta menyayangi mereka dengan menganugrehkan berbagai bentuk kemulian baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Diantara kemulian dan kasih sayang Allah kepada umat ini di akhirat kelak adalah bahwasanya Allah akan memasukkan sebanyak 70 ribu orang ke dalam surga tanpa melalui penghisaban serta tanpa diazab terlebih dahulu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat `Imraan…

Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallaah (bag. 2 dari 2)

Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallaah (bag. 2 dari 2)

Pada edisi terdahulu, kita telah menjelaskan 3 syarat kalimat “Laa Ilaha Illallah”, maka pada edisi kali ini, kita akan melanjutkan penjelasan syarat kalimat “laa Ilaha Illallah” Keempat: jujur yang meniadakan kedustaan Hendaklah seorang hamba jujur kepada Tuhan-Nya dalam mengucapkan kalimat tauhid. Jangan berdusta pada apa yang dia yakini atau yang dia ucapkan, karena dusta merupakan bagian dari sifat-sifat orang munafiq. Allah Ta`ala berfirman: الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ…

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله merupakan dasar agama Islam dan inti dari seluruh syariat Islam, kalimat ini juga yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan pada zaman sekarang ini sering kita mendengar sebagian kaum muslimin mengucapkan kalimat tersebut secara spontan tanpa mereka sadari keluar dari lisan mereka. Namun yang sangat disayangkan dan memperihatinkan, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna dan kandungan dari kalimat ini, yang kemudian sebagai penyebab mereka melanggar konsekuensi dari kalimat yang agung…

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

BENCI, juga BUKTI CINTAMU

BENCI, juga BUKTI CINTAMU

Antara Laa-ilaaha illallaah & Perayaan Tahun Baru

AL-WALA’ WAL BARA’, KONSEKUENSI KALIMAT TAUHID YANG AGUNG

al-Wala’ adalah aqidah seorang mukmin yang mengharuskannya untuk bersikap loyal dan cinta terhadap Islam dan kaum muslimin, cinta pada syi’ar-syi’ar agama, cinta pada segenap sarana yang bisa menghantarkan menuju cinta Allah dan ridha-Nya. Singkat kata, al-Wala’ adalah loyal dan cinta pada segenap apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, al-Bara’ adalah aqidah mukmin yang mengharuskannya untuk membenci, berlepas diri, dan (bahkan) memusuhi segala yang dimusuhi dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama telah menegaskan (berdasarkan dalil-dalil al-Qur-an dan al-Hadits), bahwasanya aqidah al-Wala’ wal Bara’ (baca: cinta dan benci karena Allah) merupakan salah satu konsekuensi kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” yang teragung. Ini dikarenakan “laa ilaaha illallaah” punya dua rukun yang harus bergandengan selamanya, yaitu;

  1. an-Nafyu (peniadaan) adanya sesembahan yang berhak diibadahi dengan haq, dan
  2. al-Itsbaat (penetapan) bahwa Allah adalah pengecualian dari an-Nafyu di atas. Dia adalah satu-satunya Dzat yang berhak menerima peribadatan yang haq dari makhluk.

Jadi pada kalimat “laa ilaaha…” (yang berarti: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar) mengandung makna an-Nafyu. Sedangkan makna al-Itsbaat terdapat pada kalimat setelahnya yaitu “…illallaah” (yang berarti: kecuali hanya Allah semata).

Dua rukun tersebut dipetik dari banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (yang artinya):

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Barangsiapa ingkar kepada thagut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah semata (dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya saja), sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” [QS. al-Baqarah: 256]

an-Nafyu pada ayat di atas terdapat pada kalimat: “…ingkar kepada thagut”, sedangkan al-Itsbaat dipetik dari kalimat: “…beriman pada Allah semata”.

Dua rukun kalimat tauhid di atas, mengharuskan adanya sikap al-Wala’ dan al-Bara’ dalam diri seorang mukmin. Itulah sebabnya mengapa Allah memuji Ibrahim ‘alaihissalam dalam al-Qur-an sebagai uswah (teladan), dikarenakan beliau telah menegakkan konsekuensi kalimat tauhid, yaitu mencintai simbol-simbol keimanan (al-Wala’) dan memusuhi simbol-simbol kekufuran (al-Bara’). Allah berfirman dalam al-Qur-an tentang sikap Ibrahim terhadap kekufuran, yang sekaligus menjadi dalil atas dua rukun tauhid di atas:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka berkata kepada kaum mereka (yang kafir): ‘sungguh kami telah bara’ (berlepas diri) dari kalian dan dari apa-apa yang kalian sembah selain Allah (an-Nafyu). Kami ingkar pada kalian, dan telah jelas permusuhan dan kebencian antara kami dengan kalian selamanya sampai kalian mentauhidkan hanya Allah semata (al-Itsbaat).” [QS. al-Mumtahanah: 4]

Kiat Syar’i dalam menolak & melawan Sihir

Kiat Syar’i dalam menolak & melawan Sihir

SEKILAS TENTANG HAKIKAT SIHIR

Abu Muhammad Al Maqdisi menjelaskan, sihir adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau pun buhul-buhul yang bisa memberi pengaruh terhadap hati sekaligus jasad, bisa menyebabkan seseorang menjadi sakit, terbunuh, atau pun memisahkan seorang suami dari istrinya. [Kitab Fathul Majid]

Jadi sihir benar-benar ada, memiliki pengaruh dan hakikat yang bisa mencelakakan seseorang dengan taqdir Allah yang bersifat kauni. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya: “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang bisa mereka gunakan untuk menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka (ahli sihir) itu tidak dapat memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah” [Al Baqarah : 102].

Demikian juga firman Allah yang memerintahkan kita berlindung dari kejahatan sihir:

Artinya: “Dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul”. [Al Falaq : 4].

Seandainya sihir tidak memiliki pengaruh buruk, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memerintahkan kita agar berlindung darinya.[Kitab Fathul Majid]

Sihir memiliki bentuk beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Sebagian besar jenis sihir masuk ke dalam perbuatan kufur dan syirik.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan: “Sihir termasuk perbuatan syirik ditinjau dari dua sisi.

Pertama: Karena dalam sihir itu terdapat unsur meminta pelayanan dan ketergantungan dari setan serta pendekatan diri kepada mereka melalui sesuatu yang mereka sukai, agar setan-setan itu memberi pelayanan yang diinginkan.

Kedua: Karena di dalam sihir terdapat unsur pengakuan (bahwa si pelaku) mengetahui ilmu ghaib dan penyetaraan diri dengan Allah dalam ilmuNya, dan adanya upaya untuk menempuh segala cara yang bisa menyampaikannya kepada hal tersebut. Ini adalah salah satu cabang dari kesyirikan dan kekufuran”. [al-Qoulus Sadiid: 93-94]

Hukum mempelajari dan melakukan sihir adalah haram dan kufur. Dan sihir merupakan perbuatan setan. Allah berfirman :

Artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia”. [Al Baqarah : 102]

MEWASPADAI KESYIRIKAN DISEKITAR KITA

MEWASPADAI KESYIRIKAN DISEKITAR KITA

Anti syirikKalau ada seorang penceramah berkata di atas mimbar: “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu sering terjadi? Mana buktinya?”.

Tapi kalau berita ini bersumber dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an, masihkah ada yang meragukan kebenarannya? Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf:106).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhumaa menjelaskan arti ayat ini: “Kalau ditanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptakan bumi? Siapakah yang menciptakan gunung? Maka mereka akan menjawab: “Allah (yang menciptakan semua itu)”, (tapi bersamaan dengan itu) mereka mempersekutukan Allah (dengan beribadah dan menyembah kepada selain-Nya).” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/649].

Semakna dengan ayat di atas Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS Yusuf:103).

Artinya: Mayoritas manusia walaupun kamu sangat menginginkan dan bersunguh-sungguh untuk (menyampaikan) petunjuk (Allah), mereka tidak akan beriman kepada Allah (dengan iman yang benar), karena mereka memegang teguh (keyakinan) kafir (dan syirik) yang merupakan agama (warisan) nenek moyang mereka [Fathul Qadiir: 4/77].

 

1 2 3 4