MENYINGKAP RAHASIA Di Balik Fadhilah “AL-HAWQOLAH”

MENYINGKAP RAHASIA Di Balik Fadhilah  “AL-HAWQOLAH”

 FADHILAH “AL-HAWQOLAH”

www.world-gd.comDi antara kalimat-kalimat dzikir yang memiliki keutamaan dan hakikat makna yang agung dalam syari’at Islam adalah “al-Hawqolah” yaitu kalimat;

لاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ

Laa Haula walaa Quwwata illaa Billaah, yang secara bahasa berarti; “Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari Allah”.

Keutamaan kalimat tersebut termaktub dalam nash-nash yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Sahabatnya. Di antaranya adalah riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda kepada sahabatnya:

ألاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ لاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ

Tidakkah engkau ingin aku tunjukkan satu kalimat, yang ia merupakan harta dari harta karun surgawi? (dialah kalimat) ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah’”. [Shahih Bukhari: 4205, 6384, Shahih Muslim: 2704]   

Di antaranya juga adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُــوْلُ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَـمْدُ لِلّـهِ وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ، إلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبْدِ الْبَحْرِ

Tidaklah ada seseorang di atas bumi yang mengucapkan; (yang artinya: Tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala pujian bagi Allah, dan tiada daya kekuatan melainkan dengan daya kekuatan Allah), kecuali pasti Allah akan menghapus dosa-dosanya sekalipun dosa tersebut lebih banyak dari buih di lautan”. [HR. Tirmidzi dan al-Hakim, Shahiihul Jaami’: 5636]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Utsman bin ‘Affan pernah ditanya tentang tafsiran “al-Baaqiyaatus Shoolihaat” (amal-amal shalih yang kekal) dalam firman Allah (QS. al-Kahfi: 46):

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

(yang artinya) “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, akan tetapi amalan-amalan shalih yang kekal, adalah lebih baik ganjarannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Maka ‘Utsman bin ‘Affan menjawab: “Dia (al-Baqiyaatus Shoolihat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kalimat); Laa ilaaha illallaah wa subhaanallaahi walhamdulillaahi wallaahuakbaru laa haula walaa quwwata illaa billaahi.” [al-Musnad: 1/71, dinukil dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkaar: 1/276]

1 2 3 4