Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallaah (bag. 2 dari 2)

Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallaah (bag. 2 dari 2)

Pada edisi terdahulu, kita telah menjelaskan 3 syarat kalimat “Laa Ilaha Illallah”, maka pada edisi kali ini, kita akan melanjutkan penjelasan syarat kalimat “laa Ilaha Illallah” Keempat: jujur yang meniadakan kedustaan Hendaklah seorang hamba jujur kepada Tuhan-Nya dalam mengucapkan kalimat tauhid. Jangan berdusta pada apa yang dia yakini atau yang dia ucapkan, karena dusta merupakan bagian dari sifat-sifat orang munafiq. Allah Ta`ala berfirman: الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ…

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Tujuh Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat لاَ إِلهَ إِلَّا الله merupakan dasar agama Islam dan inti dari seluruh syariat Islam, kalimat ini juga yang sering kita dengar dan ucapkan. Bahkan pada zaman sekarang ini sering kita mendengar sebagian kaum muslimin mengucapkan kalimat tersebut secara spontan tanpa mereka sadari keluar dari lisan mereka. Namun yang sangat disayangkan dan memperihatinkan, kebanyakan dari mereka tidak memahami makna dan kandungan dari kalimat ini, yang kemudian sebagai penyebab mereka melanggar konsekuensi dari kalimat yang agung…

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

3 Hal yang Diridhai dan Dibenci Allah (Khutbah Syaikh Dr. Muhammad Musa Nashr di Lombok)

Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq untuk memenangkannya di atas agama-agama yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa seluruh kebaikan, mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan ummatnya dari segala keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus bukan hanya untuk menasehati ummatnya saja, bahkan lebih dari itu, beliau diutus untuk menasehati seluruh alam, karena beliau adalah Rahmatan lil ‘aalamiin. Beliaulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam…

BENCI, juga BUKTI CINTAMU

BENCI, juga BUKTI CINTAMU

Antara Laa-ilaaha illallaah & Perayaan Tahun Baru

AL-WALA’ WAL BARA’, KONSEKUENSI KALIMAT TAUHID YANG AGUNG

al-Wala’ adalah aqidah seorang mukmin yang mengharuskannya untuk bersikap loyal dan cinta terhadap Islam dan kaum muslimin, cinta pada syi’ar-syi’ar agama, cinta pada segenap sarana yang bisa menghantarkan menuju cinta Allah dan ridha-Nya. Singkat kata, al-Wala’ adalah loyal dan cinta pada segenap apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, al-Bara’ adalah aqidah mukmin yang mengharuskannya untuk membenci, berlepas diri, dan (bahkan) memusuhi segala yang dimusuhi dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama telah menegaskan (berdasarkan dalil-dalil al-Qur-an dan al-Hadits), bahwasanya aqidah al-Wala’ wal Bara’ (baca: cinta dan benci karena Allah) merupakan salah satu konsekuensi kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah” yang teragung. Ini dikarenakan “laa ilaaha illallaah” punya dua rukun yang harus bergandengan selamanya, yaitu;

  1. an-Nafyu (peniadaan) adanya sesembahan yang berhak diibadahi dengan haq, dan
  2. al-Itsbaat (penetapan) bahwa Allah adalah pengecualian dari an-Nafyu di atas. Dia adalah satu-satunya Dzat yang berhak menerima peribadatan yang haq dari makhluk.

Jadi pada kalimat “laa ilaaha…” (yang berarti: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar) mengandung makna an-Nafyu. Sedangkan makna al-Itsbaat terdapat pada kalimat setelahnya yaitu “…illallaah” (yang berarti: kecuali hanya Allah semata).

Dua rukun tersebut dipetik dari banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (yang artinya):

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Barangsiapa ingkar kepada thagut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah semata (dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya saja), sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” [QS. al-Baqarah: 256]

an-Nafyu pada ayat di atas terdapat pada kalimat: “…ingkar kepada thagut”, sedangkan al-Itsbaat dipetik dari kalimat: “…beriman pada Allah semata”.

Dua rukun kalimat tauhid di atas, mengharuskan adanya sikap al-Wala’ dan al-Bara’ dalam diri seorang mukmin. Itulah sebabnya mengapa Allah memuji Ibrahim ‘alaihissalam dalam al-Qur-an sebagai uswah (teladan), dikarenakan beliau telah menegakkan konsekuensi kalimat tauhid, yaitu mencintai simbol-simbol keimanan (al-Wala’) dan memusuhi simbol-simbol kekufuran (al-Bara’). Allah berfirman dalam al-Qur-an tentang sikap Ibrahim terhadap kekufuran, yang sekaligus menjadi dalil atas dua rukun tauhid di atas:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Artinya: “Sungguh telah ada suri teladan yang baik dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka berkata kepada kaum mereka (yang kafir): ‘sungguh kami telah bara’ (berlepas diri) dari kalian dan dari apa-apa yang kalian sembah selain Allah (an-Nafyu). Kami ingkar pada kalian, dan telah jelas permusuhan dan kebencian antara kami dengan kalian selamanya sampai kalian mentauhidkan hanya Allah semata (al-Itsbaat).” [QS. al-Mumtahanah: 4]

Kiat Syar’i dalam menolak & melawan Sihir

Kiat Syar’i dalam menolak & melawan Sihir

SEKILAS TENTANG HAKIKAT SIHIR

Abu Muhammad Al Maqdisi menjelaskan, sihir adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau pun buhul-buhul yang bisa memberi pengaruh terhadap hati sekaligus jasad, bisa menyebabkan seseorang menjadi sakit, terbunuh, atau pun memisahkan seorang suami dari istrinya. [Kitab Fathul Majid]

Jadi sihir benar-benar ada, memiliki pengaruh dan hakikat yang bisa mencelakakan seseorang dengan taqdir Allah yang bersifat kauni. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya: “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang bisa mereka gunakan untuk menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka (ahli sihir) itu tidak dapat memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah” [Al Baqarah : 102].

Demikian juga firman Allah yang memerintahkan kita berlindung dari kejahatan sihir:

Artinya: “Dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul”. [Al Falaq : 4].

Seandainya sihir tidak memiliki pengaruh buruk, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memerintahkan kita agar berlindung darinya.[Kitab Fathul Majid]

Sihir memiliki bentuk beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Sebagian besar jenis sihir masuk ke dalam perbuatan kufur dan syirik.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan: “Sihir termasuk perbuatan syirik ditinjau dari dua sisi.

Pertama: Karena dalam sihir itu terdapat unsur meminta pelayanan dan ketergantungan dari setan serta pendekatan diri kepada mereka melalui sesuatu yang mereka sukai, agar setan-setan itu memberi pelayanan yang diinginkan.

Kedua: Karena di dalam sihir terdapat unsur pengakuan (bahwa si pelaku) mengetahui ilmu ghaib dan penyetaraan diri dengan Allah dalam ilmuNya, dan adanya upaya untuk menempuh segala cara yang bisa menyampaikannya kepada hal tersebut. Ini adalah salah satu cabang dari kesyirikan dan kekufuran”. [al-Qoulus Sadiid: 93-94]

Hukum mempelajari dan melakukan sihir adalah haram dan kufur. Dan sihir merupakan perbuatan setan. Allah berfirman :

Artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia”. [Al Baqarah : 102]

MEWASPADAI KESYIRIKAN DISEKITAR KITA

MEWASPADAI KESYIRIKAN DISEKITAR KITA

Anti syirikKalau ada seorang penceramah berkata di atas mimbar: “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu sering terjadi? Mana buktinya?”.

Tapi kalau berita ini bersumber dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an, masihkah ada yang meragukan kebenarannya? Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf:106).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhumaa menjelaskan arti ayat ini: “Kalau ditanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptakan bumi? Siapakah yang menciptakan gunung? Maka mereka akan menjawab: “Allah (yang menciptakan semua itu)”, (tapi bersamaan dengan itu) mereka mempersekutukan Allah (dengan beribadah dan menyembah kepada selain-Nya).” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/649].

Semakna dengan ayat di atas Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS Yusuf:103).

Artinya: Mayoritas manusia walaupun kamu sangat menginginkan dan bersunguh-sungguh untuk (menyampaikan) petunjuk (Allah), mereka tidak akan beriman kepada Allah (dengan iman yang benar), karena mereka memegang teguh (keyakinan) kafir (dan syirik) yang merupakan agama (warisan) nenek moyang mereka [Fathul Qadiir: 4/77].

 

MENYINGKAP RAHASIA Di Balik Fadhilah “AL-HAWQOLAH”

MENYINGKAP RAHASIA Di Balik Fadhilah  “AL-HAWQOLAH”

 FADHILAH “AL-HAWQOLAH”

www.world-gd.comDi antara kalimat-kalimat dzikir yang memiliki keutamaan dan hakikat makna yang agung dalam syari’at Islam adalah “al-Hawqolah” yaitu kalimat;

لاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ

Laa Haula walaa Quwwata illaa Billaah, yang secara bahasa berarti; “Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan daya dan kekuatan (pertolongan) dari Allah”.

Keutamaan kalimat tersebut termaktub dalam nash-nash yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para Sahabatnya. Di antaranya adalah riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda kepada sahabatnya:

ألاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ لاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ

Tidakkah engkau ingin aku tunjukkan satu kalimat, yang ia merupakan harta dari harta karun surgawi? (dialah kalimat) ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah’”. [Shahih Bukhari: 4205, 6384, Shahih Muslim: 2704]   

Di antaranya juga adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُــوْلُ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَـمْدُ لِلّـهِ وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ باِللهِ، إلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبْدِ الْبَحْرِ

Tidaklah ada seseorang di atas bumi yang mengucapkan; (yang artinya: Tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala pujian bagi Allah, dan tiada daya kekuatan melainkan dengan daya kekuatan Allah), kecuali pasti Allah akan menghapus dosa-dosanya sekalipun dosa tersebut lebih banyak dari buih di lautan”. [HR. Tirmidzi dan al-Hakim, Shahiihul Jaami’: 5636]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Utsman bin ‘Affan pernah ditanya tentang tafsiran “al-Baaqiyaatus Shoolihaat” (amal-amal shalih yang kekal) dalam firman Allah (QS. al-Kahfi: 46):

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

(yang artinya) “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, akan tetapi amalan-amalan shalih yang kekal, adalah lebih baik ganjarannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Maka ‘Utsman bin ‘Affan menjawab: “Dia (al-Baqiyaatus Shoolihat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kalimat); Laa ilaaha illallaah wa subhaanallaahi walhamdulillaahi wallaahuakbaru laa haula walaa quwwata illaa billaahi.” [al-Musnad: 1/71, dinukil dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkaar: 1/276]

1 2 3 4