KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

HAKIKAT KHUSYU’

Dari segi bahasa, kata “khusyu’” (dalam bahasa Arab) mengandung makna (طأطأ ) yang berarti; membungkuk, menyelam, atau menunduk. Khusyu’ memiliki kedekatan makna dengan kata khudhu’, hanya saja khudhu’ maknanya lebih ke “tunduknya anggota badan”, sedangkan khusyu’ bisa berarti tunduknya anggota badan, suara, dan pandangan mata, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur-an (QS. al-Qolam: 43) “khoosyi’atan abshooruhum…”

Kata khusyu’ juga digunakan untuk menggambarkan bumi yang tandus dan tak kunjung diguyur oleh hujan. Makna seperti ini telah difirmankan oleh Allah dalam al-Qur-aan:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang (khoosyi’atan), maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur…” [QS. Fushilat: 39] [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1824]

Adapun dari segi terminologi (istilah), Ibnul Qayyim rahimahullaah mengungkapkan; bahwa khusyu’ sejatinya merupakan makna yang terangkai dari rasa pengagungan, rasa cinta, hina, dan remuk redam (di hadapan Allah).

Khusyu’ terkadang dimaknai sebagai amalan hati, contohnya rasa takut pada Allah. Namun terkadang juga sebagai bagian dari amalan lahiriyah semisal tenang dan diamnya anggota badan.

Singkat kata, khusyu’ adalah amalan hati berupa rasa takut, hina, dan tawadhu’, yang diiringi rasa cinta dan pengagungan terhadap Rabb yang tampak pengaruhnya secara lahiriyah dalam wujud tenang dan diamnya anggota badan. Inilah kira-kira benang merah kesimpulan yang bisa ditarik dari beragam definisi para ulama tentang khusyu’. [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1825]

 

TAZKIYATUN NUFUS ‘Penyucian Jiwa’

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah

Pembahasan tentang Tazkiyatun Nufus (penyucian jiwa/hati) merupakan pembahasan yang sangat penting. Allah berfirman tentang keutamaan orang-orang yang menyucikan jiwanya:

“(artinya)…dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.” [QS. Fathir: 18]

“(artinya) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan mengingat Nama Rabb-nya, lalu ia shalat.” [QS. al-A’laa: 14-15]

Di akhirat kelak, Allah hanya akan menerima manusia yang datang dengan membawa hati yang saliim (selamat), sebagaimana firman-Nya:

“(artinya) Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” [QS. asy-Syu’araa: 87-89]

MAQOM TAUBAT

MAQOM TAUBAT

“Kedudukan Taubat dalam Pelarian Hamba Menuju Allah Subhannahu wa Ta’ala”

Taubat merupakan gerbang awal bagi seorang hamba dalam pelariannya menuju Allah, Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang suci:

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” [QS. adz-Dzaariyaat: 50]

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera berlari (kembali) kepada-Nya; berlari dari kekufuran menuju iman, dari kesyirikan menuju tauhid, dari bid’ah menuju sunnah, dari maksiat menuju ketaatan, dari kejahilan menuju ilmu, dari kelalaian menuju dzikir, dan dari kesesatan menuju petunjuk. [Hayaatus Su’adaa’ hal. 63, oleh Syaikh Shaalih bin Thoha Abdul Wahid, Taqdim oleh Syaikh Dr. Masyhur Hasan Salman]

Allah menurunkan segala macam adzab dan cobaan (baik itu berupa derita maupun bahagia, sesuatu  yang buruk ataupun baik), itu semua ditujukan agar manusia berlari kembali menuju Allah. Dalam banyak ayat al-Qur-aan Allah menegaskan hal ini, di antaranya adalah:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَـاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

…dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali.” [QS. al-A’raaf: 168]

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” [QS. al-Ahqaaf: 27]

 

1 2 3