PENGIKIS-PENGIKIS KEIMANAN

PENGIKIS-PENGIKIS KEIMANAN

Kita adalah manusia biasa yang diciptakan dari tanah liat yang terkadang akan kuat dalam keimanan dengan cahaya Allah dan terkadang pula akan lemah dalam keimanan dengan dosa dan kelalaian, kita bukanlah diciptakan dari cahaya sehingga bagaikan Malaikat yang selalu dalam ketaatan dan keimanan kepada Allah, kita bukan pula diciptakan dari api sehingga bagaikan syetan, selalu bermaksiat dan senantiasa mengajak kepada kemungkaran. Iman adalah amalan hati, lisan dan segenap anggota badan, akan bertambah dengan ketaatan kepada…

LARAGAN SIKAP GHULUW

LARAGAN SIKAP GHULUW

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyalllahu’anhuma ia berkata, “Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : …وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ، فَإِنَّمَـا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِيْ الدِّيْنِ “… Dan jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama.” [Hadits shahih, lih. Silsilah ash-Shahîhah no. 1283]. Syarah Hadits:

JADIKANLAH AKHIRAT NIAT & TUJUANMU

JADIKANLAH AKHIRAT NIAT & TUJUANMU

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu’anhu, ia mendengar Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ. “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia…

KIAT-KIAT MENGHILANGKAN HASAD

KIAT-KIAT MENGHILANGKAN HASAD

Hasad adalah berharap hilangnya nikmat dari seseorang, ada juga sebagian ulama yang mengatakan hasad adalah merasa tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat. Hasad merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya yang bisa merusak dunia dan agama seseorang sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya (artinya): “Telah datang kepada kalian penyakit ummat sebelum kalian (yaitu) hasad dan kebencian, ia adalah alat pemotong dan aku tidak mengatakan memotong rambut tetapi memotong…

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an, “Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan”

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an, “Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan”

Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab:

تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ

“Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.”

Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam al-Qur’an:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…” [QS. az-Zumar: 23]

Diriwayatkan bahwasanya ‘Umar bin Khaththab radhiallaahu’anhu di suatu malam pernah mendengar seorang laki-laki membaca ayat dalam tahajjud-nya:

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِع

“Sungguh adzab Tuhanmu pasti akan terjadi. Tak ada seorang pun yang sanggup mencegahnya.” [QS. ath-Thuur: 7-8]

Maka ‘Umar pun berkata: “Ini adalah sumpah (dari Allah), Demi Rabb Pemilik Ka’bah, adzab tersebut haq (pasti terjadi)”. Lantas beliau kembali ke rumah dan mendadak ditimpa sakit selama sebulan. Orang-orang membesuk beliau tanpa ada yang tahu penyebabnya sakitnya.”

Dalam riwayat lain, ‘Umar pernah membaca Surat Maryam, saat melewati ayat berikut ini:

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Jika dibacakan ayat-ayat ar-Rahman kepada mereka, mereka segera menyungkur sujud dan menangis” [QS. Maryam: 58]

‘Umar pun segera menyungkur sujud, lalu berkata: “Ini dia sujudnya, lalu mana tangisannya?”, beliau ingin sekali bisa menangis (karena ayat tersebut memuji orang-orang yang bersujud dan menangis ketika mendengar ayat Allah dibacakan). [Mukhtashor Tafsir Ibn Katsir: 2/457]

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an

Menata Ulang Hubungan Kita dengan Al-Qur’an

“Sebuah Renungan di Penghujung Ramadhan” Suatu ketika Abdullah bin Zubair rahimahullaah bertanya pada ibunda beliau tercinta, Asma’ binti Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallaahu’anhuma; perihal keadaan para sahabat Rasulullah dahulu ketika mendengar ayat-ayat Ilahi (al-Qur’an) dibacakan. Maka Asma’ pun menjawab: تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُوْدُهُمْ كَمَا نَعَتَهُمُ اللهُ “Air mata mereka bercucuran, dan kulit-kulit mereka gemetar, persis seperti apa yang disifatkan oleh Allah tentang mereka.” Yang dimaksud oleh Asma’ adalah pujian Allah terhadap para sahabat yang diabadikan dalam…

KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

KHUSYU’, “Apa & Bagaimana Meraihnya?”

HAKIKAT KHUSYU’

Dari segi bahasa, kata “khusyu’” (dalam bahasa Arab) mengandung makna (طأطأ ) yang berarti; membungkuk, menyelam, atau menunduk. Khusyu’ memiliki kedekatan makna dengan kata khudhu’, hanya saja khudhu’ maknanya lebih ke “tunduknya anggota badan”, sedangkan khusyu’ bisa berarti tunduknya anggota badan, suara, dan pandangan mata, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur-an (QS. al-Qolam: 43) “khoosyi’atan abshooruhum…”

Kata khusyu’ juga digunakan untuk menggambarkan bumi yang tandus dan tak kunjung diguyur oleh hujan. Makna seperti ini telah difirmankan oleh Allah dalam al-Qur-aan:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang (khoosyi’atan), maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur…” [QS. Fushilat: 39] [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1824]

Adapun dari segi terminologi (istilah), Ibnul Qayyim rahimahullaah mengungkapkan; bahwa khusyu’ sejatinya merupakan makna yang terangkai dari rasa pengagungan, rasa cinta, hina, dan remuk redam (di hadapan Allah).

Khusyu’ terkadang dimaknai sebagai amalan hati, contohnya rasa takut pada Allah. Namun terkadang juga sebagai bagian dari amalan lahiriyah semisal tenang dan diamnya anggota badan.

Singkat kata, khusyu’ adalah amalan hati berupa rasa takut, hina, dan tawadhu’, yang diiringi rasa cinta dan pengagungan terhadap Rabb yang tampak pengaruhnya secara lahiriyah dalam wujud tenang dan diamnya anggota badan. Inilah kira-kira benang merah kesimpulan yang bisa ditarik dari beragam definisi para ulama tentang khusyu’. [lih. Nadhrotun Na’iim: 5/1825]

 

TAZKIYATUN NUFUS ‘Penyucian Jiwa’

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah

Pembahasan tentang Tazkiyatun Nufus (penyucian jiwa/hati) merupakan pembahasan yang sangat penting. Allah berfirman tentang keutamaan orang-orang yang menyucikan jiwanya:

“(artinya)…dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali.” [QS. Fathir: 18]

“(artinya) Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan mengingat Nama Rabb-nya, lalu ia shalat.” [QS. al-A’laa: 14-15]

Di akhirat kelak, Allah hanya akan menerima manusia yang datang dengan membawa hati yang saliim (selamat), sebagaimana firman-Nya:

“(artinya) Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” [QS. asy-Syu’araa: 87-89]

MAQOM TAUBAT

MAQOM TAUBAT

“Kedudukan Taubat dalam Pelarian Hamba Menuju Allah Subhannahu wa Ta’ala”

Taubat merupakan gerbang awal bagi seorang hamba dalam pelariannya menuju Allah, Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang suci:

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” [QS. adz-Dzaariyaat: 50]

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera berlari (kembali) kepada-Nya; berlari dari kekufuran menuju iman, dari kesyirikan menuju tauhid, dari bid’ah menuju sunnah, dari maksiat menuju ketaatan, dari kejahilan menuju ilmu, dari kelalaian menuju dzikir, dan dari kesesatan menuju petunjuk. [Hayaatus Su’adaa’ hal. 63, oleh Syaikh Shaalih bin Thoha Abdul Wahid, Taqdim oleh Syaikh Dr. Masyhur Hasan Salman]

Allah menurunkan segala macam adzab dan cobaan (baik itu berupa derita maupun bahagia, sesuatu  yang buruk ataupun baik), itu semua ditujukan agar manusia berlari kembali menuju Allah. Dalam banyak ayat al-Qur-aan Allah menegaskan hal ini, di antaranya adalah:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَـاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

…dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali.” [QS. al-A’raaf: 168]

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” [QS. al-Ahqaaf: 27]

 

1 2 3