DIDIKLAH ANAK DAN KELUARGAMU

DIDIKLAH ANAK DAN KELUARGAMU

Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu dan masyarakat adalah terbinanya keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasulullah r, pembinaan dan pendidikan terhadap keluarga ini sangatlahlah penting bila melihat keluarga sebagai institusi dan benteng terakhir kaum muslimin yang acap kali menjadi target para musuh Islam, mereka berusaha merusak benteng ini dengan aneka ragam serangan dan dengan sekuat kemampuan mereka. Mendidik Anak dan Keluarga Adalah Amanah Sesunguhnya Allah Y telah memberikan berbagai macam amanah dan tanggung jawab kepada manusia, diantara amanah dan tanggung jawab besar yang Allah Y bebankan kepada manusia, dalam hal ini orang tua adalah memberikan pendidikan yang benar terhadap anak, sebagaimana firman  Allah Y: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6). Qatadah-rahimahullah-berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allah Y. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir Ibn Katsir : 4/502). Imam al-Qurtuby-rahimahullah-berkata dalam tafsir beliau: “Qatadah mengatakan (juga) “Hal itu (menjaga diri dari neraka) merupakan kewajiban seorang muslim terhadap dirinya, anak-anaknya, istrinya dan budak laki-laki mapun budak perempuannya. Ilkiya-rahimahullah wa gafarallahu lahu- juga mengatakan “Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mengajarkan anak-anak, istri-istri dan keluarga kita ilmu agama, kebaikan serta segala hal yang dibutuhkan berupa adab dan akhlak yang baik, seperti firman-Nya: وأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (Thaha : 132). Juga seperti firman Allah kepada Nabi r: وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (as-Syu’ara : 214). Begitu pula dalam hadits : مُرُوْهُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ… “Perintahkanlah mereka (anak-anak kalian) untuk shalat ketika berumur tujuh tahun…” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an : 18/196). Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- berkata: أَدِّبْ اِبْنَكَ فَإِنَّكَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُ مَاذَا أَدَّبْتَهُ وَمَاذَا عَلَّمْتَهُ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ بِرِّكَ وَطَاعَتِهِ لَكَ “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran apa yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hlm. 123). Anakmu Jangan Sia-siakan Kebahagian sekaligus nikmat yang luar biasa bagi orang tua yang diberikan anak yang shalih oleh Allah Y, karena anak yang shalih merupakan aset berharga yang tidak layak untuk disia-siakan, aset yang akan memberi manfaat bagi orang tua baik di dunia apalagi nanti di akhirat, Rasulullah r bersabda: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. “Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631). Begitu pula halnya di akhirat kelak, ketika orang tua terheran-heran tatkala ia ditempatkan di surga oleh Allah Y pada derajat yang begitu tinggi, padahal dahulu di dunia amal ibadah yang ia lakukan tidaklah seberapa, lantas iapun menyadari bahwa derajat yang begitu tinggi yang ia dapatkan itu tidak lain kecuali karena do’a yang dipanjatkan sang anak untuk dirinya, Rasulullah r bersabda: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ “Sesunguhnya Allah Y akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami no.1617). Tanggung jawab terbesar pendidikan seorang anak sebenarnya adalah ada pada orang tua, adapun pondok-pondok pesantren dan sekolah-sekolah adalah mitra orang tua dalam mendidik anak. Nasihat, pengawasan dan bimbingan maksimal seharusnya selalu menjadi prioritas orang tua terhadap anak, hal ini sebagaimana ditunjukkan ayat 6 dari surat at-Tahrim di atas, di mana Allah memerintahkan setiap individu untuk menjaga dirinya, keluarga dan termasuk anak-anaknya dari api neraka dengan mendidik dan mengajarkan mereka ilmu agama serta akhlak yang mulia, makna ini dipertegas lagi oleh sabda Nabi r: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ  “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278). Di tempat yang lain Ibnul Qayyim-rahimahullah-berkata lagi: “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durhaka, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durhaka kepadaku ketika kecil (dengan mengabaikan dan tidak mendidiknya), maka aku pun durhaka kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud hlm. 125). *** Penyusun: Ust. Saparudin, Lc. (Pengajar Ma’had Abu Hurairah Mataram) Artikel: alhujjah.com Facebook: fb.com/alhujjah.ku  

Amalan Sya’ban

Amalan Sya’ban

Tidak terasa bulan Sya’ban telah kembali mendatangi kaum muslimin, bulan yang memiliki keutamaan, terletak antara Rajab dan Ramadhan, bulan yang diistimewakan oleh Rasulullah dengan memperbanyak puasa, bulan yang menyita perhatian para salafus shalih dengan mengisinya untuk melakukan berbagai ibadah dan amal shalih sebagai persiapan untuk menyonsong bulan suci Ramadhan. Berikut beberapa amal ibadah yang biasa dilakukan Rasulullah dan as-Salaf as-Shalih di bulan Ini: 1.Memperbanyak Puasa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa…

Wanita di Mata Islam

Wanita di Mata Islam

Peringatan Hari Kartini setiap tahun, sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk tujuan-tujuan yang tidak bertanggungjawab pula. Hari Kartini mereka manfaatkan untuk mengkampanyekan “kebebasan bagi wanita”, bahkan dalam semua sisi kehidupan. Yang mereka maksudkan dengan istilah “bebas” adalah bebas menjadi apa saja, bebas melakukan apa saja, sekalipun itu terlarang di mata agama. Mendompleng semangat perjuangan seorang Kartini, mereka menentang syari’at Allah yang mereka anggap sebagai pengekangan dan pemasungan terhadap kebebasan wanita. Mereka menolak…

1 2 3