ANTARA SPIRIT LUHUR PUASA, BUDAYA DAN FESYEN

Antara Spirit Luhur Puasa, Budaya Kuliner & Fesyen

Tak seperti Ramadhan-Ramadhan zaman old, “pameran” kuliner dan fesyen pinggir jalan pada Ramadhan beberapa tahun belakangan, begitu menggeliat. Terlebih tahun ini. Sejak hari pertama Ramadhan, aneka model kuliner seolah berlomba dengan model fesyen, baik warna maupun rasa, apalagi nama. Zaman kita dulu, bakso ya bakso, mie ya mie. Zaman ini, ada bakso bakar, bakso keju, bahkan ada yang bisa beranak. Nama sajian mie pun sebegitu variatifnya, sampai-sampai melibatkan nama setan segala.

Kuliner, apapun varian dan namanya, asalkan halal, sah-sah saja untuk dikonsumsi. Namun di sini, kita tidak sedang bicara halal haram kuliner Ramadhan, kita akan bicara budaya. Ramadhan dalam bingkai lifestyle kuliner.

Rasa-rasanya kita merasakan hal yang sama, betapa saat ini, jalan-jalan terasa sesak dan sempit di sore hari Ramadhan. Kemacetan semakin menjadi-jadi, terlebih di 10 terakhir Ramadhan. Bukan hanya lapak takjil, lapak fesyen juga bejibun tak kalah ramai. Sudah terlalu sering kemacetan terjadi menjelang waktu berbuka. Jalan tak hanya ramai dengan penjual takjil dan fesyen, tapi juga bejibun para pembeli. Fans club ngabuburit juga tak mau kalah eksis. Mereka turut meramaikan, sekalipun tak ada yang dibeli. Takjil Ramadhan yang dulu hanya kita dapati di pasar-pasar dadakan sore hari, kini bergeser ke trotoar-trotoar jalan utama, lalu bertransformasi menjadi ajang kumpul sekaligus catwalk buat anak cabe-cabean untuk memamerkan ke-alay-an fesyen dan kecantikan mereka. From “Pasar Takjil” to “Hotspot Cuci Mata”, demikian kira-kira transformasi tersebut mengambil tajuk.

Jangan tersinggung…!! “Cuci Mata” di sini sejatinya term halus untuk ungkapan; “bakar pahala puasa”. Betapa tidak, susah payah berpuasa di 2/3 hari, eeh…justru di penghujung hari, pahala puasa terkikis hapus oleh dosa. Yap, dosa ikhtilath dan mengumbar pandangan alias mata jelalatan.

Padahal al-Quran telah mengingatkan orang-orang mukmin agar menjaga pandangan mereka:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [QS. An-Nur: 30]

Di sisi lain, masjid semakin sepi dari tilawah dan tarawih. Energi di 10 terakhir seakan berpindah dari masjid menuju mall dan trotoar. Padahal, di hari-hari terakhir inilah, semestinya ketaatan dan amal shalih lebih kencang dan lebih serius lagi kita upayakan.

Jika beberapa tahun yang lalu dikatakan; “semangat di awal, loyo di akhir”, maka yang terjadi saat ini adalah; “loyo di awal, nihil di akhir”. Seakan Ibnul Jauzi rahimahullaah (wafat: 597-H) sejak 840 tahun yang lalu telah mendeteksi gejala negatif ini, maka beliau pun angkat bicara:

إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك، فإنما الأعمال بالخواتيم. إنك إذا لم تحسن الاستقبال، لعلك تحسن الوداع.

“Sungguh seekor kuda pacu, jika telah mendekati garis finish, dia akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk memenangi lomba. Maka jangan sampai kuda pacu lebih cerdas daripada anda. Karena amal-amal shalih itu ditentukan oleh ending-nya (jika baik, maka baik. Jika buruk, maka buruk). Jika anda tidak baik dalam menyambut (Ramadhaan), maka setidaknya anda bersikap baik ketika berpisah (dengannya).”

Menjinakkan hawa nafsu dalam kerangka ‘ubudiyyah pada Allah, adalah tujuan luhur pensyariatan puasa. Hawa nafsu di sini dalam cakupannya yang umum. Dari mengumbar pandangan, ngabuburit bareng pacar, sampai nafsu mengoleksi sebanyak mungkin jenis makanan yang ujung-ujungnya bakal mubazir, karena tak semuanya bisa ditampung perut. Termasuk mengoleksi pakaian yang mengumbar aurat. Ini semua bertentangan dengan spirit luhur puasa.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah mengisyaratkan tujuan luhur puasa:

يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي

“…dia (hamba-Ku) meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku (Allah)…” [al-Bukhari: 1894, Muslim: 1151]

Apa arti puasa jika tujuan luhur tersebut tak terwujud..?? Apa makna puasa jika hawa nafsu tak juga ikut berpuasa..?? Semakin berambisi bahkan menjadi-jadi..??

Momentum Ramadhan seharusnya mampu mengerem mata kita yang jelalatan. Karena syaitan dibelenggu, dan nafsu dipaksa ber-hibernasi melalui lapar dan dahaga. Tapi kenapa budaya cuci mata justru semakin menjadi-jadi..?? Saat Ramadhan, seharusnya budaya konsumtif kita bisa berkurang. Tapi nyatanya..?? Harga kebutuhan pokok justru naik, menunjukkan terjadinya lonjakan permintaan. Ada apa gerangan…??

Tentu yang salah bukan Ramadhan-nya. Kesalahan ada pada kebiasaan buruk yang kita biarkan tumbuh menjadi budaya hidup. Kita terbiasa membuang-buang waktu dengan percuma. Dan kita menikmati hal itu. Awalnya hanya jalan-jalan menunggu azan maghrib, cuci mata, terpikat, lalu memborong apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Andai kita mengisi waktu di sore hari dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti; memberi fakir miskin makanan berbuka, belajar agama, dzikrullah, atau membaca al-Quran, maka waktu yang kita habiskan tentu akan lebih berarti. Di samping inflasi tidak bakal melonjak gara-gara sifat konsumtif yang makin menonjol, kemacetan lalu lintas di sore hari juga bisa berkurang, jika masing-masing kita lebih banyak sibuk dengan amalan yang bermanfaat di rumah, sembari menunggu waktu berbuka.

(وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)

“Demi masa (waktu). Sungguh manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [Surat Al-Asr 1 – 3]

 

***
Johan Saputra Halim

 

Leave a Comment