KISAH SEPUTAR DAUROH-19, BATU-MALANG (bag.6)

(Bag.6) Panderman, Bersin, dan Empati Guru dalam Doa

Tidak sedikit di antara kami (peserta dauroh) mungkin kurang adaptif terhadap perubahan cuaca. Suhu di Batu-Malang, khususnya di malam hari, bisa turun mencapai 15°-13°. Plus angin “berkarakter khas” dari atas pebukitan Panderman, seakan berhembus untuk membagi-bagikan suhu tersebut masuk ke setiap sudut ruang penginapan kami. Ada beberapa peserta dauroh yang ditimpa sakit–syafaahumullaah–. Namun Panitia sigap menyediakan stok obat-obatan yang memadai, jazaahumullaahu khoiron.

Bayangkan..!! Ada sekitar 525 peserta dauroh berkumpul dalam satu qoo’ah (hall/auditorium) ketika dars (pelajaran) berlangsung. Dan mereka seluruhnya, Masya Allah begitu bersemangat, tak mau ketinggalan satu pun sesi dars. Bisa dibayangkan intensitas batuk dan bersin yang terjadi di qoo’ah. Namun karena qoo’ah-nya besar banget, suara bersin dan batuk hampir tak terdengar–oleh saya pribadi khususnya–.

Namun ajaibnya, peserta dauroh–yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara ini–sering sekali mendengar Syaikh Prof. Sindi, demikian pula Syaikh Prof. Sulaiman, tiba-tiba menginterupsi materi yang beliau sampaikan hanya untuk mengucapkan; “yarhamukallaah” (semoga Allah merahmatimu). Ucapan doa tersebut ditujukan kepada peserta dauroh yang bersin lantas mengucapkan; “Alhamdulillaah”. Terus terang saya hampir tak mendengar ada yang bersin. Tapi ternyata memang ada, hanya terdengar sayup. Syaikh begitu peka dan spontan. Kepekaan yang lahir dari pengagungan terhadap Sunnah dan kesetiaan terhadapnya. Bagi yang tak terbiasa mempraktekkan Sunnah, spontanitas dan kepekaan tersebut tak akan muncul.

*

Satu lagi pelajaran yang kami dapatkan dari Masyaikh di Dauroh-19 Batu-Malang. Sebuah gambaran indah tentang empati, adab, dan kesetiaan pada sunnah yang luar biasa.

Terkait Sunnah dalam adab bersin, Abu Hurairah radhiallaahu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ ، فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ : يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Jika salah seorang di antara kalian bersin maka ucapkanlah; Alhamdulillah. Bagi saudaranya atau kawannya yang mendengar (tahmiid tersebut), hendaknya mengucap; yarhamukallaah. Jika ada yang mengucap; yarhamukallaah, maka balaslah dengan ucapan; yahdiikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan membaikkan keadaanmu)”. [al-Bukhari: 6224]

*

Bagi sebagian kita (para pendidik), mendoakan rahmat bagi murid yang bersin mungkin tampak sepele. Padahal, di situ ada wujud empati, kasih sayang, dan harapan kebaikan dari seorang guru bagi si murid. Ada ruh dan esensi keikhlasan di situ. Inilah kunci utama kesuksesan tarbiyah di madrasah Rasulullah ﷺ pada era salaf. Untuk itu, wahai para pendidik umat di jalan Allah, mari menggelorakannya kembali. Semoga Allah memberi taufik, agar kita senantiasa bisa melatih keikhlasan dengan banyak berdoa untuk kebaikan anak didik kita. Baarakallaahufiikum

___
Batu-Malang, 06072018
Muhibbukum fillaah

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Ma’had Abu Hurairah Mataram – Lombok)

Leave a Comment