Fawaid Kajian Syekh Prof. Sindi

Fawaid Kajian Syekh Prof. Sindi (09-07-2018, Masjid Fauzan al-Fauzan Lotim)
—————-

Saya memohon kepada Allah agar menjadikan yang hadir, orang-orang yang jika bermaksiat mereka bertaubat, bila menerima nikmat mereka bersyukur, dan bila diuji mereka bersabar. Yang demikian ini adalah tanda kebahagiaan.

Kehidupan manusia penuh dengan ujian. Manusia di antara dua keadaan dalam menghadapi ujian dan cobaan; sukses atau gagal. Tentu keselamatan dan kesuksesan tersebut ada di tangan Allah. Dan itu bergantung pada kesusksesan kita menghadapi ujian. Yang sukses dalam ujian ini, maka dia sungguh telah beruntung.

Ujian tersebut adalah dengan diutusnya Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi, menyampaikan firman Rabb-Nya:

إنما بعثتك لأبتليك وأبتلي بك

“Sungguh Aku mengutusmu (wahai Muhammad ﷺ) hanya untuk mengujimu dan menguji manusia denganmu.” [HR. Muslim]

Ujian untuk Nabi adalah; apakah beliau telah menyampaikan agama ini? Sungguh Nabi telah menjelaskan risalah Allah seluruhnya. Adapun perkara yang kedua; berkaitan dengan kita. Allah mengutus Nabi sebagai ujian bagi kita, sampai tibanya hari kiamat kelak.

Hadits yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan, tugas dan kewajiban kita di dunia ini.

Catatlah dalam hatimu..!! Bahwa tugasmu di dunia yang singkat ini adalah; engkau bisa sukses dan selamat dalam ujian ini. Tujuanmu di dunia ini, bukanlah semata-mata makan, minum, menikah, bersenang-senang, atau yang lainnya. Ini adalah tujuan nomor dua. Tujuan dan tugas utama kita di dunia ini adalah menjadi hamba Allah dan menjadi pengikut Rasulullah ﷺ. Namun kebanyakan manusia lalai dari tugas utama ini.

Sekarang pertanyaannya; bagaimana manusia bisa selamat dari ujian ini…??

Jawabannya dari beberapa sisi;

Pertama: iman bahwa Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah. Iman bahwa risalah beliau umum menyeluruh, mencakup segenap manusia dan jin.

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Tidaklah kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam

بعثت إلى كل أحمر وأسود (رواه مسلم)

Aku diutus kepada (semua ras manusia) yang berkulit merah dan juga yang berkulit hitam

Wajib meyakini bahwa Rasulullah ﷺ adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Semua jalan tertutup kecuali jalannya Rasulullah ﷺ. Tidak ada iman kepada Allah, kecuali iman kepada Rasulullah ﷺ.

والذي نفسي بيده ما من أحد يسمع بي يهودي أو نصراني ولم يؤمن بما أرسلت به إلا أنه من أصحاب النار

Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang mendengar tentang aku, entah dia Yahudi atau Nasrani, kemudian dia tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan dia pasti masuk neraka.

*

Kedua: mencintai Rasulullah ﷺ dengan kecintaan yang besar, melebihi kecintaan pada apapun, kecuali Allah.

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai aku, lebih dari kecintaannya pada orangtuanya, pada anaknya, atau pada manusia seluruhnya. (Bukhari Muslim)

Ali radhiallaahu’anhu pernah ditanya; bagaimana kecintaanmu kepada Rasulullah ﷺ…?? Demi Allah ini pertanyaan yang menakjubkan. Karena tak ditemukan di dunia ini gambaran kecintaan yang lebih besar daripada cintanya para sahabat kepada Nabi.

Maka Ali radhiallaahu’anhu menjawab:

كان والله أحب إلينا من والدينا وأمهاتنا وأبنائنا ومن الماء البارد على الظمء

Demi Allah kami lebih mencintai Nabi daripada bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, anak-anak kami, dan air yang dingin di kala haus.

Cinta tersebut punya tanda. Yaitu; mengagungkan dan menolong Rasulullah ﷺ.

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (menolong) beliau, mengagungkan beliau, dan bertasbih kepada-Nya (Allah) pagi dan petang. [Al-Fath: 9]

Andai Rasul hidup hari ini di antara kita. Maka wajib bagi kita untuk menebus beliau dengan bapak-bapak kita, anak-anak kita, bahkan dengan seisi dunia ini.

Dalam perang Uhud. Dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ ingin melihat keadaan yang terjadi saat berkecamuknya. Abu Thalhah al-Anshary tidak ingin Rasul melakukan hal tersebut, dia kuatir. Dia berharap anak panah musuh menembus dadanya daripada harus mengenai Rasulullah ﷺ.

Wajib bagi kita membela Nabi saat beliau telah wafat. Dengan membela Sunnah beliau.

*

Pengagungan kepada Nabi, harus terwujud dalam hati, lisan, dan perbuatan. Ketika beliau hidup saja; tidak boleh mengangkat suara di hadapan beliau. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari. (Al-Hujurat: 2)

Umar bin al-Khattab pernah marah ketika mendengar dua orang yang mengangkat suaranya di masjid Rasulullah ﷺ. Ini setelah beliau wafat. Lihat betapa Umar mengagungkan Nabi ﷺ.

Maka bagaimana lagi dengan orang yang lebih meninggikan pendapat orang lain di atas sabda Nabi…??

Tidak boleh ada pendapat yang lebih dikedepankan daripada Sunnah Rasulullah ﷺ. Ini adalah bentuk penghormatan dan pengagungan kepada Rasulullah ﷺ.

*

Ketiga: bersegera memenuhi seruan dan perintah Rasulullah ﷺ.

Wajib bagi kita, manakala telah mendengar sabda Rasulullah ﷺ, untuk taat dan memenuhinya.

Semua kebahagiaan di dunia maupun di akhirat bergantung pada ketaatan pada Rasulullah ﷺ.

Engkau ingin surga? Syaratnya adalah mengikuti Rasul:

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى. قالوا: ومن يأبى يا رسول الله. قال: من أطاعني دخل الجنة ومن عصامي فقد أبى

Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: siapa yang enggan wahai Rasulullah ﷺ? Beliau menjawab: ‘siapa yang taat kepadaku, pasti masuk surga. Siapa yang mendurhakai aku, maka dialah yang enggan

Engkau ingin dapat Rahmat? Allah menjawab:

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

… taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat. (An-Nur: 56)

Engkau ingin dapat hidayah? Allah berikan jawabannya:

وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

… Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158)

*

Boleh jadi setiap masalah dan kesusahan yang kita hadapi, dikarenakan ada perintah atau perkara Nabi yang kita durhakai atau tidak kita hiraukan.

Wasiat Nabi ﷺ adalah sesuatu yang agung. Jangan sampai engkau maksiati. Orang yang memusuhi Sunnah, sengaja menentangnya, sungguh dia berada dalam bahaya yang besar.

*

Seorang laki-laki pernah makan bersama Rasulullah ﷺ. Dia makan dengan tangan kirinya. Ini perkara yang sepele di mata manusia. Namun di mata syariat, Sunnah Nabi adalah perkara yang besar. Nabi berkata kepadanya: makanlah dengan tanganmu! Dia menjawab dengan angkuh: aku tak bisa. Tiba-tiba tangannya lumpuh (stroke).

Awas! Berhati-hatilah bermaksiat kepada Rasul. Ini perkara yang besar dan dahsyat. Bahkan hukumannya bisa disegerakan oleh Allah di dunia (sebelum di akhirat).

*

Keempat: jadikan Sunnah Rasulullah ﷺ dan sabda beliau sebagai yang pertama dan utama untuk dikedepankan, melebihi semua pendapat dan perbuatan.

Permasalahan terbesar yang dihadapi muslimin saat ini adalah, lebih mengedepankan pendapat mazhabnya atau pendapat Tuan Guru dan Kyiai-nya daripada sabda Rasulullah ﷺ.

Imam Syafi’i berkata kepada orang yang heran mendengar beliau berpendapat sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

أرأيتني خرجت من كنيسة؟ ترى علي زنارا حتى لا أقول به؟

Apa kamu melihat aku keluar dari gereja (telah menjadi Nasrani)..?? Apa engkau melihat di pinggangku ada sabuk (ciri khas orang Nasrani) hingga aku tidak mengambil sabda Rasulullah ﷺ (sebagai pendapatku)..??

Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hanyalah ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur: 51)

*

Kelima: mencukupkan diri dengan Sunnah Rasulullah ﷺ tanpa menambah-nambahnya.

Kebaikan terbesar dan tertinggi adalah Sunnah beliau. Bukan pada perkara-perkara baru dalam ibadah dan agama.

Ibnu ‘Umar berkata:

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

Semua perkara bid’ah itu menyesatkan, sekalipun orang-orang menganggapnya baik

Kaidah syari’ah menegaskan:

اعبد الله بما يحبه وليس بما تحب

Beribadahlah kepada Allah dengan apa yang dicintai-Nya, bukan dengan apa yang engkau sukai

Dengan berbuat bid’ah, lisaanul-haal (bahasa tubuh) si mubtadi’ telah jatuh pada satu di antara dua kemungkinan;.

(1) Dia telah menuduh Rasul tidak tahu tentang perkara bid’ah tersebut, dan si mubtadi’ lebih tahu daripada Rasulullah tentang agama ini. Dan ini adalah konsekuensi yang batil.

(2) Dia telah menganggap Rasul tahu tentang bid’ah ini, namun beliau menyembunyikannya. Ini juga perkara yang batil. Berisi tuduhan bahwa Nabi menyembunyikan ilmu dan mengkhianati amanah untuk menyampaikan risalah Allah.

Demikian ringkasan kajian Syaikh. Semoga bermanfaat.

_____
Lombok Timur, 09072018
Muhibbukum fillaah

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

Leave a Comment