JANGAN…!! JANGAN UCAPKAN SELAMAT…!!

Lisan memuji ilahi. Lisan itu pula yang mencela-Nya.

Lisan berucap “Laa-ilaaha illallaah”. Lisan itu pula yang menodai kesuciannya.

Mengaku cinta pada-Nya. Namun justru mengundang kemarahan-Nya. Perintah tak dihirau, larangan diterjang tanpa ragu.

***

Allah murka disamakan dengan makhluk. Kita justru menyamakan-Nya dengan makhluk.

Makhluk butuh pasangan bukan? Butuh anak sebagai pewaris, ya kan? Lantas sebagian makhluk-Nya mengatakan Allah punya anak. Berarti Allah butuh anak, butuh pasangan..!! Apa namanya ini kalau bukan menyamakan Allah dengan makhluk…??

“Selamat Natal”, selamat atas kelahiran anak Tuhan. Kira-kira ucapan ini diridhai Allah tidak…?? Dibenci iya. Dimurkai sudah pasti.

“Ahh…itu kan cuman basa-basi di lidah, ga serius kok”. Kalau begitu sama, Iman dan Islammu belum serius juga sobat.”

Layakkah basi-basi tersebut kita benarkan, sementara Allah telah mengabarkan;

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا.

Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu). Karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” [QS. Maryam: 90-91]

Pantaskah kita mengucapkan selamat atas perayaan hari kelahiran anak Tuhan. Sementara itu adalah penghinaan bagi Allah..??

وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ : اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ، وَأَنَا اللَّهُ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ

“…adapun penghinaan anak Adam terhadap-Ku, adalah ucapan mereka; ‘Allah punya anak’. Padahal Akulah Allah, Yang Mahaesa, Yang bergantung kepada-Ku segenap makhluk dan Aku tidak butuh sedikitpun pada mereka. Aku tidak melahirkan anak dan Aku tidak dilahirkan. Tak ada yang setara dan semisal dengan-Ku.” [HR. al-Bukhari]

***

“Islam kan toleran, masa sih ngucapin selamat aja ga boleh…??”

Sejak kapan toleransi perlu ditunjukkan dengan ucapan selamat pada ritual dan perayaan orang-orang kafir kawan…??

Ukuran toleran itu apa sobat…?? Jika kita bicara Islam, maka standarnya jelas. al-Qur-an dan as-Sunnah. al-Qur-an menegaskan bahwa menyaksikan perayaan orang kafir saja, bukanlah sifat ‘ibaadurrahmaan (para hamba Allah yang Maha pengasih). Itu sekedar menyaksikan. Memberi ucapan selamat tentu lebih berat dari sekedar menyaksikan. Berarti, itu bukanlah toleransi menurut al-Qur-an.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“(di antara ‘ibaadurrahmaan adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur (perayaan orang-orang kafir atau memberi kesaksian palsu), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.” [QS. al-Furqan: 72]

***

“Selamat berzina”…, “Selamat mabok”…, “Selamat membunuh”…, kalimat-kalimat ini tentu bakal terasa aneh jika diucapkan dalam rangka basa-basi pada si pezina, tukang mabok, dan si pembunuh. Kita risih mendengarnya, bahkan jengkel. Namun kenapa kita tidak risih dan jengkel ketika mendengar ungkapan “Selamat atas kelahiran anak Tuhan”…?? Kenapa kita merasa biasa-biasa saja…?? Padahal itu lebih keji dari dosa zina, mabok, dan membunuh…??

Ingat kawan, apa kata Allah tentang kesyirikan:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“…Sungguh kesyirikan adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” [QS. Luqman: 13]

Allah masih mengampuni dosa-dosa besar, namun tidak dosa syirik. Pelaku dosa besar masih mungkin melenggang ke surga. Namun pelaku syirik, bakal abadi dalam siksa neraka, jika pelakunya belum beratubat semasa hidup di dunia.

***

Di sisi lain, bukti cinta kepada Allah adalah dengan membenci apa yang dibenci-Nya. Allah membenci orang-orang kafir karena kesyirikan dan Aqidah menyimpang yang bersemayam di hati mereka. Sampai-sampai Allah menyebut mereka “syarrul bariyyah” (seburuk-buruk makhluk) dalam al-Qur-an (Surat al-Bayyinah, ayat ke-6). Di antaranya; karena mereka meyakini para Malaikat adalah anak-anak Allah. Yahudi menyebut ‘Uzair putra Allah. Nasrani tak mau ketinggalan mengatakan al-Masiih sebagai putra-Nya. Ini semua adalah Aqidah yang dibenci Allah.

Lantas, tegakah, atau layakkah seorang mukmin menghadiri, menyaksikan, atau mengucapkan selamat atas perayaan kelahiran “Putra Tuhan” _Inkaanuu muhibbiinah_ (jika mereka tulus mencintai-Nya)…??

***

Mengucapkan “Selamat Tahun Baru” juga sama. Perayaan pergantian tahun masehi ini juga kental aroma paganisme secara historis. Januari itu sendiri diambil dari nama “Janus”, sesosok Dewa–tentu saja khayalan–dalam mitologi Romawi. Janus dianggap dewa permulaan, dewa gerbang dan transisi, dan bla…bla… omongan kosong lainnya. Janus dirupakan berwajah dua. Satu wajah menghadap masa depan, satu lagi menghadap masa lalu.

_In ancient Roman religion and myth, Janus(/ˈdʒeɪnəs/; Latin: IANVS (Iānus), pronounced [ˈjaː.nus]) is the god of beginnings, gates, transitions, time, duality, doorways_

Setiap peralihan Desember (Winter Soltice) menuju Januari, mereka merayakan keyakinan batil ini.

***

Setiap keyakinan atau aqidah yang batil, pasti melahirkan anak-anak haram berupa kemaksiatan lainnya. Betapa tidak, syaitan berkumpul dan bermuktamar pada momen-momen perayaan batil seperti ini. Sehingga jangan heran, di malam tahun baru; grafik statistik sampah kondom dan penjualan miras melonjak drastis. Intensitas bencana dan musibah pun ikut melonjak, jika kita merunut sejarah. Dari banjir, longsor, gempa, hingga tsunami. Sebab tak ada satu azab pun yang menimpa, melainkan pasti karena dosa.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu (dosa-dosamu) sendiri, itupun Allah telah banyak memaafkan (dosa-dosamu).” [QS. Asy-Syuura: 30]

***

Maka duhai sobatku…!!
Semoga Allah merahmatimu.

Jangan ikut-ikutan perayaan mereka. Bahkan ingkarilah. Paling tidak ingkari dengan lisan dan hati.

Jangan keluar di malam itu. Berbaring saja dalam lelap. Di atas kasurmu yang empuk. Lalui malam itu layaknya malam-malam biasa.

Jangan mengundang murka Allah sobat. Sudah banyak cerita. Sudah bertumpuk kisah nyata. Bagaimana Allah mendatangkan siksa-Nya, pada kaum yang durhaka. Bukan cuma mereka, orang-orang shalih, dan anak-anak tak berdosa ikut kena getahnya

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” [QS. Al-Anfal: 25]

Jangan ikut merayakan. Jangan menyemarakkan dengan terompet, kembang api dan petasan. Jangan menyaksikan. Jangan mengucapkan atau menulis “selamat merayakan” dalam postingan statusmu.

Jangan. Sekali lagi jangan…!! Biarkan malam itu berlalu dalam hening. InsyaAllah, kita akan menatap fajar hari itu dalam keselamatan dan kesyahduan.

Itu saja, wassalaam…

_______
Ditulis di atas kapal layar, dari Poto Tano (Sumbawa) menuju Kayangan (Lombok). Rabi’ul Akhir 1440 / 24-12-2018.

 

***

✍️ Abu Ziyan Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Alhujjah)

Leave a Comment