LIPUTAN DAUROH SESI 1: PENYAKIT YANG PERLU DI WASPADAI

Penyakit Para Da’i & Penuntut Ilmu yang Perlu Diwaspadai (3 Inti Nasehat Syaikh Dr. Ziyad al-Abbadi)

Sejak usia belasan tahun, Syaikh Dr. Ziyad al-Abbadi sudah bermulazamah menimba ilmu dari Syaikh al-Albani. Beliau salah satu kelangkaan zaman ini, seorang alim yang Allah anugerahi 2 spesialisasi keilmuan sekaligus, ini jarang terjadi; beliau pakar dalam bidang qira’at sekaligus pakar dalam hadits. Hadits, beliau menimbanya dari Syaikh al-Albani dan juga Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi. Sementara ilmu qira’at, beliau ambil dari Syaikh Muhammad Musa Nashr yang menguasai 10 qira’at, rahimahumullaah jamii’an.

Semalam, di sesi yang ke-2 setelah pembukaan, beliau menyampaikan nasehat kepada 334 lebih dai se-Indonesia yang hadir. Ada 3 poin inti yang bisa saya rangkum dari nasehat beliau, ketiganya berbicara tentang penyakit kronis yang banyak melanda di medan dakwah, melanda para dai dan penuntut ilmu:

  • Pertama: Cinta Popularitas (Hubbuzh Zhuhuur)

Jangan sampai penyakit ini, wahai da’i, merasukimu. Jika sampai merasukimu, ia akan membunuhmu. Pembunuhan tanpa pisau.

Tak usah risau. Jika Allah menghendaki engkau mencuat, demi Allah engkau akan mencuat, demi Allah engkau akan menjulang, punya kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Namun jangan pernah menjadikan popularitas sebagai tujuanmu. Karena kita mengetahui dengan yakin bahwa;

الرافع الحقيقي هو الله، والمعز هو الله، والمذل هو الله

“Yang melejitkan kedudukan seseorang sejatinya adalah Allah. Yang menjadikan seseorang menjulang sebenarnya adalah Allah. Yang menghinakan dan menjatuhkan pada hakikatnya adalah Allah”.

(Maka dakwah, jangan jadi ajang pencitraan agar bisa populer. Jangan pula nyeleneh dan mengada-ada dalam dakwah demi popularitas instan)

Kunci hati-hati manusia ada di tangan Allah subhaanah.

…dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. Al-Anfal: 63)

Seiring bertambahnya ilmu seseorang, seharusnya ia bertambah tawadhu, rendah hati. Ulama kita mengatakan;

كلما ازددت علما ازددت علما بمقدار جهلي

“Semakin bertambah ilmuku, semakin aku menambah ilmu tentang kadar kebodohanku”.

  • Kedua: Hasad terhadap saudara sesama da’i atau penuntut ilmu.

Jangan sampai engkau, wahai da’i, berambisi untuk melejit namun dengan menjatuhkan saudaramu. Karena sekali lagi, kita meyakini bahwa yang mampu melejitkan sejatinya adalah Allah. Jika engkau menjatuhkan saudaramu, namun Allah tidak menghendaki engkau melejit, maka engkau tak akan melejit.

Jauhi hasad. Karena hasad akan membunuhmu, lebih dulu sebelum membunuh orang yang engkau hasadi.

Jangan hasad. Kejahatan pertama yang terjadi pada Bani Adam adalah; saudara membunuh saudara kandungnya gara-gara hasad.

  • Ketiga: Anggapan Bahwa Eksis = al-katsroh (baca: yang penting banyak).

Jangan pernah menganggap eksistensi seorang da’i adalah; banyaknya pengikut, banyak follower, dst. Jadilah eksis dengan memberi. Eksislah dengan keikhlasan. Eksislah dengan ilmu yang bermanfaat. Bukan dengan standar “asal banyak” (kuantitas). Tak ada satupun ayat dalam al-Quran yang memuji “al-katsroh” (yang penting banyak). Justru yang ada sebaliknya; al-Quran banyak bicara negatif tentang “al-katsroh”.

Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid: 16).

dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. Al-Ma’idah: 103).

dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah. (QS. An-Nahl: 83).

kebanyakan mereka orang-orang pendusta. (QS. Ash-Shu’ara: 223).

Demikian 3 poin inti nasehat Syaikh Ziyad yang mampu saya rangkum. Sebenarnya nasehat beliau cukup banyak. Namun, sebagaimana kata pepatah;

ما لا يدرك كله لا يترك جله

Sedikit, masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Semoga memberikan faidah, dan mari berbagi. Karena pembagi faidah akan mendapatkan raihan para pengamal faidah tersebut.

_______
Batu-Malang, Day-1, 21 Syawwal 1440, 24-06-2019

 

Wallahu’alam

Oleh:

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

 

Leave a Comment