LIPUTAN DAUROH SESI 2: PENYAMPAIAN HUJJAH DAKWAH

Sampaikan, dan Melangkahlah

ألق كلمتك وامض

“Sampaikan kalimat (dakwahmu), dan teruslah melangkah.”

Inilah kalimat emas yang sering kali diucapkan Syaikh al-Albani rahimahullah teruntuk murid-murid beliau, para da’i di jalan Allah.

Syaikh Ziyad al-Abbadi menukilnya untuk kami, peserta Dauroh. Ketika itu beliau tengah menyampaikan nasehat untuk para du’at sebelum membuka sesi tanya-jawab. Hari ini, lagi-lagi kami mendengar nukilan kalimat yang serupa dari Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.

ألق كلمتك وامش

Kalimat ringkas tersebut, sarat akan makna. Di antaranya;

Tugas kita hanya menyampaikan yang haq dengan hikmah dan kelembutan. Adapun hidayah dan hati manusia, semuanya di tangan Allah. Jika orang-orang menolak dakwah kita, maka tak perlu dirundung duka, dengan syarat kita telah menempuh manhaj yang benar dalam dakwah, berbalut keikhlasan, cara yang hikmah, dan diiringi tulusnya doa. Kedukaan yang berlarut justru tanda masih ada jentik-jentik ketidakikhlasan dalam perjuangan. Cukup “Sampaikan yang haq dengan cara yang haq, kemudian lupakan bahwa engkau telah berkorban ini dan itu demi dakwah. Berlalu dan lupakanlah”.

Jika sebagian manusia menolak dakwah yang haq, maka ingatlah bahwa Abu Thalib pun enggan menerimanya, padahal ia paman Nabi, dan Nabi sendiri yang menuntunnya.

Jika sebagian manusia memusuhi dakwah yang haq, yakinlah di sana masih banyak manusia yang siap menyambut kembalinya kebenaran pada mereka. Untuk itu, jangan terhenti. Sampaikan, dan teruslah melangkah.

ألق كلمتك وامش

Sebaliknya jika orang-orang menerima dakwahmu, bahkan mulai mengelu-elukanmu, maka jangan tertegun lantas langkah dakwahmu terhenti oleh tembok kepuasan. Engkau hanya penyampai risalah Allah, bahkan engkau seharusnya telah melupakan sudah berbuat ini dan itu demi dakwah, engkau seharusnya terus melangkah. Seolah tak pernah berbuat apa-apa demi dakwah, jadi butuh untuk selalu berbuat untuk dakwah.

Engkau hanya pengantar pesan Nubuwwah, penyampai hujjah, bukan pemilik dan pemberi hidayah. Jika bukan karena perintah Allah, mereka yang meraih hidayah melalui dakwahmu, tak harus berterimakasih padamu, melainkan pada Allah semata. Tak ada secuilpun yang telah kau perbuat. Semuanya taufiq dari-Nya. Maka jangan pernah silau melihat suksesnya dakwahmu, atau banyaknya follower-mu.”Sampaikan, lalu melangkah dan berlalulah”

ألق كلمتك وامض

Kemudian dalam hal berpendapat pada perkara-perkara ijtihadiyyah, kalimat ringkas tersebut mengingatkan kita untuk tidak ta’ashshub atau tidak menjadikan orang lain ta’ashshub. Pendapat kita bukanlah pendapat yang ma’shum hingga orang lain pun harus tunduk di bawahnya. “Sampaikan dalil-dalil dan argumentasimu, kemudian berlalulah”. Orang tak harus tunduk pada pendapatmu, melainkan hanya pada Allah dan Rasul-Nya semata.

**

Jangan pernah berpikir; “setiap orang pasti dan sudah seharusnya menyukai dakwahmu”. Sehingga manakala ada yang tidak menyukai dakwahmu, begitu cepat engkau menyimpang dari manhaj dakwah yang haq, hanya agar mereka menyukaimu. Sedikit demi sedikit, engkau tak lagi mengindahkan manhaj Rasulullah dan para Sahabatnya dalam dakwah. Engkau hanyut mengikuti kemauan orang, bukan lagi kemauan Allah dan Rasul-Nya. Inilah penyakit yang menyebabkan banyak medan dakwah bukan lagi medan perjuangan, melainkan panggung hiburan. Masjid-masjid bukan lagi majelis qoolallaah qoolarrasuul, tapi qiila waqoola, majelis anasyid dan gelak tawa.

ألق كلمتك وامش

“Sampaikan kalimatmu, dan teruslah melangkah”. Mustahil semua orang bersepakat menyukaimu. Lebih-lebih, tak ada kewajiban dakwahmu harus bisa menghibur semua orang.

Untuk itu, tak perlu berkreasi yang aneh dan nyeleneh dalam dakwah yang tauqifiyyah ini. Hanya agar orang-orang bisa terhibur dan “mau menerimamu”. Sebab;

كل شيء زاد عن حده ينقلب إلى ضده

“Segala sesuatu yang melampaui batas, akan berbalik sebaliknya.” Kesuksesan dakwah yang kau impikan, justru kan berbuah kehancuran.

Sosok “engkau” dalam tulisan ini, bukan siapa-siapa, melainkan diri pribadi ini, sebelum menunjuk orang lain.

_____
Batu-Malang, 24 Syawwal 1440 – 26/06/2019

 

Wallahu’alam

Oleh:

✍ Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Leave a Comment