FOKUS PERHATIAN PADA SHALAT

Teruntuk Para Orang Tua & Guru; Perbaiki Satu Hal Ini, yang Lain Akan Beres

Tak jarang, kami mendengar guru mengeluhkan akhlak anak-anak didiknya yang negatif. “Banyak orang tua kurang perhatian dengan anak. Terlalu diberi kebebasan di rumah. Akhlak mereka jadi susah dibentuk, susah nerima nasehat.”

Sebaliknya, sebagian orang tua di rumah menggerutu melihat kelakukan anaknya. “Ustadz, anak saya diajarin apa sih di pondok?! Kok ga berubah seperti teman-temannya yang lain?!”

Kemudian sebagian pendidik–baik orang tua maupun guru–, mulai sibuk memikirkan metode dan trik-trik yang mereka anggap jitu agar anak bisa berubah dalam sekejap, tanpa ribet, tanpa effort (upaya) kecuali se-minimalis mungkin. Ini gaya pendidik yang kebanyakan main HP. Maunya serba instan. Se-instan mereka Googling untuk cari jawaban.

Dan benar saja, orang tua dan guru sebagai pendidik mulai buka-buka YouTube, browsing. Yang mereka dapat; justru membiaskan fokus mereka, memalingkan dari tujuan tarbiyah sesungguhnya. Kalau bukan metode pendidikan Barat (baca: Liberal) yang didapat, mereka jadi asyik nonton keseharian para artis bagaimana mendidik anaknya. Inilah hasil YouTubing mereka. Kini bukan anak saja yang bermasalah, tapi juga pendidiknya, dalam hal ini; orang tua dan guru.

Tentu tidak semua orang tua dan guru seperti ini. Namun, inilah sebagian realita pilu yang terjadi. Sangat disayangkan.

Yang salah siapa…?? Kita…!! Para pendidik (baik orang tua maupun guru). Kitalah yang paling bertanggungjawab. Baik di rumah, juga di sekolah.

كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته

“Setiap kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban terkait (baik-buruk) yang dipimpin”

Lantas, Bagaimana Solusinya…??

Solusi terbaik adalah kembali pada Islam (al-Quran dan as-Sunnah) yang paripurna ini. Semua hal, yang membawa maslahat dan mafsadat, sudah tuntas dijelaskan. Masalah anak itu banyak. Semua masalah ada terapi dan solusinya dari al-Quran maupun as-Sunnah. Ada banyak metode Qurani dan Nabawi terkait bagaimana mendidik anak. Para ulama sampai menyusun berjilid-jilid buku yang tebal tentang hal ini. Namun mereka satu kata menyuarakan satu hal; “Jika anak shalatnya baik, yang lain akan jadi baik. Jika shalat mereka beres, yang lain juga akan beres.”

Mari sejenak tadabburi ayat berikut ini:

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir yang baik (di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Taha: 132)

Perihal ayat yang mulia ini, Imam as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya (Taisiir Kariimir Rahmaan) mengatakan;

فإن العبد إذا أقام صلاته على وجه المأمور به كان لما سواها من دينه أحفظ وأقوم. وإذا ضيعها كان لما سواها أضيع.

“Sungguh, seorang hamba jika menegakkan shalatnya dengan sebenar-benarnya, maka urusan agama yang lain akan lebih terjaga dan lebih teguh dan lurus lagi. Sebaliknya, jika ia menelantarkan shalatnya, maka urusan yang lain akan lebih terlantar lagi.”

Beliau juga menjelaskan; shalat bukanlah sekedar urusan menunaikan rutinitas harian. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam shalat; rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, hal-hal yang wajib dalam shalat, seperti apa sunnah dan adabnya, serta–yang paling utama–bagaimana kekhusyuannya. Itu semua berat bagi jiwa. Betapapun, jiwa harus ditundukkan untuk itu. Tidak heran jika Allah memerintahkan dengan ungkapan “wash-thobir”, sebuah ungkapan perintah untuk bersabar namun bukan dengan sembarang sabar, tapi kesabaran yang hebat dalam menyempurnakan shalat.

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar… (QS. al-Ankabut: 45)

***

Jika orang tua di rumah, juga para guru di sekolah, memberikan fokus perhatian yang besar pada urusan shalat. Benar-benar mengajarkan dan membiasakan anak didik bagaimana mendirikan shalat dengan benar dan sesuai sunnah, menekankan pada pemahaman bacaan shalat dan kekhusyuan, niscaya permasalahan anak yang menyangkut akhlak, karakter, dan bahkan kompetensi, akan mengalami perubahan yang dahsyat.

Betapa tidak, dalam shalat berjamaah–misalkan–, ada banyak tarbiyah karakter yang terkandung di dalamnya, selain ‘ubudiyyah kepada Allah. Ada kedisiplinan (hadir berjamaah di awal waktu), ada kebersamaan sosial (bertemu orang-orang shalih di masjid), ada nilai kepatuhan, konsistensi pada aturan, ada sinergi, ada kesabaran yang ditempa, ada esensi muroqobah yang dipupuk, ada fokus yang dilatih, ada pemahaman makna bacaan shalat yang dituntut, dll. Ini semua jika terbentuk, sebenarnya sudah cukup untuk membereskan segenap masalah kehidupan.

***

Namun itu semua mustahil terwujud pada anak jika orangtua dan guru tak memberikan qudwah (teladan) yang baik. Jika Bapak di rumah, atau guru di sekolah masih suka telat ke masjid saat adzan memanggil, maka jangan harap anak bakal baik shalatnya.

Dahulu, kaum Salaf jika hendak menyerahkan anaknya dididik oleh seorang guru, mereka meneliti shalat sang guru tersebut. Jika shalatnya baik, barulah kemudian mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik. Karena jika shalat sudah baik, maka yang lain pun pasti baik.

Shalat itu agung. Satu-satunya ibadah yang dijemput langsung perintahnya oleh Nabi ke langit ketika menghadap Allah, Rabb semesta alam. Maka shalat juga harus agung di hati orang tua dan guru, barulah dia akan agung di hati anak.

Shalat itu agung. Begitu agungnya, Kahliilur-rahmaan Ibrahim ‘alaihissalaam sampai berdo’a, dengan do’a yang diabadikan al-Quran:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Duhai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap menegakkan shalat, duhai Rabb kami, perkenankanlah do’aku.” (QS. Ibrahim: 40)

Padahal ketika mengucapkan do’a ini, beliau ‘alaihissalam telah dikarunai dua anak yang shalih, penerus kenabiannya; Isma’il dan Ishaq. Seorang Nabi pemilik keturunan yang juga Nabi, masih berdo’a seperti ini…?? Allahuakbar!! Lantas, bagaimana dengan kita?

Teruntuk orang tua tercinta dan para pendidik di jalan Allah, jangan sampai hati dan lisan tak pernah melirihkan do’a tersebut. Denyutkan selalu hati dan basahi terus lisan dengan doa tersebut. Sebut nama-nama mereka, anak-anak didik kita, dalam tulus doamu. Baarakallaahufiikum

 

Wallahu’alam

Oleh:
Abu Ziyan Johan Saputra Halim
(Kepala Madrasah Aliyah Plus PP. Abu Hurairah Mataram)

Leave a Comment