HAPPINESS YANG BERNILAI IBADAH

Betapa indahnya Islam. Di setiap sisi kehidupan dan suasana hati, ada ‘ubudiyyah (peribadatan) kepada Allah yang bisa diwujudkan. Karena memang tujuan keberadaan kita di dunia ini adalah untuk itu.

Saat susah dan sempit, ada ibadah berupa sabar, ketabahan jiwa, pantang mengeluh, pantang menyerah di jalan Allah.

Saat sendiri, ada tafakkur dan dzikir. Saat di keramaian, ada muhasabah dan ikhlas yang bisa diupayakan.

Saat Ramadhan tiba, ada puasa, ada tarawih. Saat Ramadhan berakhir ada zakat, takbir, dan shalat ‘ied. Bahkan sedih dan takut pun, bisa menjelma jadi ibadah. Sedih karena berpisah dengan Ramadhan, sementara amal terasa jauh dari kata layak, atau takut (al-wajal) karena amal selama Ramadhan mungkin tak diterima di sisi-Nya (karena amal-amal yang tak memenuhi syarat).

Adakalanya, menyembunyikan nikmat dan kegembiraan, bisa bernilai ibadah. Sebagaimana menampakkannya, juga bisa menjadi syi’ar ibadah. Seperti perayaan Hara Raya Idul Fitri (1 Syawwal 1441) kali ini.

Ibnu Hajar rahimahullah (wafat: 852-H) mengatakan:

إِظْهَار السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ

“Menampakkan kegembiraan di hari-hari raya adalah bagian dari syi’ar agama” [Fathul Baari: 2/443]

Ketika menyaksikan orang-orang Habasyah bermain di Masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda -sebagaimana dikabarkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyaksikan permainan mereka bersama Nabi ketika itu-;

لِتعلمَ يهودُ أنَّ في دِيننا فُسحةً إني أُرسلتُ بحنيفيةٍ سمحةٍ

“Agar orang-orang Yahudi juga tahu, bahwa dalam agama kita ada kelapangan. Sungguh, aku diutus dengan membawa agama yang hanifiyyah (di atas Tauhid dan kebenaran) serta toleran”. [di-hasan-kan al-Albani dalam as-Silsilah as-Shahiihah: 6/1023]

Menampakkan kegembiraan di hari raya bisa dengan melakukan permainan yang mubah. Canda dan tawa sarat makna persaudaraan yang tak mengandung dosa, juga bisa masuk hitungan. Bersama anak-anak di rumah misalkan.

Jika diniatkan karena Allah, dan demi menghidupkan sunnah Rasulullah, maka itu semua bisa bernilai ibadah.

Untuk itu, tetaplah tersenyum, teruslah tertawa penuh syukur, jangan letih tebarkan cinta dan ukhuwwah. Suasana #DiRumahAja bukan alasan untuk cemberut di hari kemenangan. Jadi, jangan cemberut ya, karena #Covid tidak pandang bulu. Semoga Allah menaungi kita dalam keafiyatan selalu.

__
Lombok, 1 Syawwal 1441 | 24052020

Oleh:
Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Follow Telegram: t.me/kristaliman

#StayAtHome
#DiRumahAja
#SolidaritasBersama
#Covid

Leave a Comment