KISAH IBNU MAS’UD & CALON-CALON KHAWARIJ

Kisah: Ibnu Mas’ud & Calon-Calon Khawarij

‘Amr bin Salamah mengisahkan;
“Dulu kami biasa duduk-duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu sebelum shalat subuh. Jika beliau keluar, maka kami pun berjalan mengawal beliau menuju masjid (karena Ibnu Mas’ud adalah ulamanya Sahabat, mereka berjalan menemani beliau sambil menuntut ilmu dari beliau).

Tiba-tiba di satu momen, datang Abu Musa al-Asy’ary radhiallahu’anhu. Dia berkata; ‘apakah Abu ‘Abdirrahman (Ibnu Mas’ud) sudah keluar? Belum, jawab kami.

Abu Musa lantas duduk menunggu bersama kami sampai Ibnu Mas’ud keluar. Ketika beliau keluar, kami berdiri menyambut beliau. Segera Abu Musa berkata kepada beliau;

يا أبا عبد الرحمن إني رأيت في المسجد آنفا أمرا أنكرته، ولم أر -والحمد لله- إلا خيرا.

“Wahai Aba ‘Abdirrahman, sungguh tadi aku melihat di masjid suatu kejadian yang aku ingkari. Namun yang aku lihat itu tampak seperti amalan yang baik”.

Kejadian apa itu? Tanya Ibnu Mas’ud.

Abu Musa menjawab; jika engkau masih hidup sampai ke masjid, engkau akan melihatnya. Aku melihat di masjid, sekumpulan orang membentuk halaqoh-halaqoh, mereka duduk menunggu shalat. Di setiap halaqoh ada laki-laki yang memimpin (dzikir), di tangannya ada batu-batu kerikil. Lantas pemimpin halaqoh tersebut menginstruksikan;

كبروا مئة فيكبرون مئة، فيقول: هللوا مئة فيهللون مئة، فيقول: سبحوا مئة فيسبحون مئة

Takbirlah 100x..!!, merekapun bertakbir 100x. Tahlil 100x..!!, mereka lantas bertakbir 100x. Tasbih 100x..!!, mereka pun bertasbih 100x.

Lalu, apa yang engkau katakan kepada mereka? Ibnu Mas’ud bertanya kepada Abu Musa.

ما قلت لهم شيئا، انتظار أمرك

Aku tidak katakan apa-apa pada mereka. Aku menunggu perintahmu. Jawab Abu Musa.

Ibnu Mas’ud mengatakan; kenapa engkau suruh mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka saja, lalu engkau jamin bahwa pahala-pahala mereka tidak akan sirna…?!!

Kemudian Ibnu Mas’ud berjalan, dan kami pun berjalan bersama beliau. Sampai beliau mendatangi salah satu halaqoh dari sekian halaqoh tersebut. Beliau sambil berdiri, berkata pada mereka:

ما هذا الذي أراكم تصنعون؟

Apa yang sedang kalian lakukan ini…??

Jawab mereka;

يا أبا عبد الرحمن، حصى نعد بها التكبير والتهليل والتسبيح

Wahai Aba ‘Abdirrahman, ini hanyalah kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.

Ibnu Mas’ud menjawab;

فعدوا سيئاتكم، فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيء، ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتكم، هؤلاء صحابة نبيكم متوافرون، وهذه ثيابه لم تبل، وآنيته لم تكسر، والذي نفسي بيده إنكم لعلى ملة أهدى من ملة محمد، أو مفتتحون على ضلالة؟

Hitung dosa-dosa kalian! Aku jamin pahala-pahala kalian tidak akan hilang. Celaka kalian wahai Ummat Muhammad, betapa cepat kalian celaka. Nih…!! Sahabat-Sahabat Nabi kalian masih ada bertebaran (namun tidak satu pun di antara mereka mengamalkan apa yang kalian amalkan). Nih..!! Pakaian Nabi kalian belum pudar dan lekang, perabot makannya belum rusak (masih utuh semua, namun kenapa cepat sekali kalian berbuat Bid’ah dalam agama?!!).

Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Apakah kalian ini berada di atas agama yang lebih baik daripada agama Muhammad? Atau sebenarnya kalian ini sedang membuka pintu-pintu kesesatan??!

Mereka menjawab;

والله يا أبا عبد الرحمن، ما أردنا إلا الخير

Demi Allah wahai Aba ‘Abdirrahman, tidak ada maksud kami melainkan semata-mata mengharapkan kebaikan.

Ibnu Mas’ud kembali menimpali mereka;

وكم من مريد للخير لن يصيبه، إن رسول الله حدثنا: (إن قوما يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم).
وأيم الله! ما أدري، لعل أكثرهم منكم.

Betapa banyak orang-orang yang meniatkan kebaikan namun mereka tidak akan bisa meraihnya? Sungguh Rasulullah telah bersabda kepada kami; Sungguh akan ada suatu kaum, mereka membaca al-Quran, namun bacaan mereka tak sampai lewat kerongkongan mereka (artinya; tidak sampai ke hati, alias mereka tidak paham apa yang mereka baca).

‘Amr bin Salamah lantas mengatakan;

رأينا عامة أولئك الحلق يطاعنوننا يوم النهروان مع الخوارج.

Kami menyaksikan, mayoritas mereka yang ada di halaqoh-halaqoh itu, memerangi kami di hari Nahrawan, mereka bersama kubu Khawarij.

Kisah ini shahih, diriwayatkan oleh: ad-Darimi (210), Ibnu Abi Syaibah (al-Mushannaf: 19736), ath-Thabrani (al-Mu’jamul Kabir: 8636), dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (2005).


Empat Fawaid Pokok dari Kisah

(1) Abdullah bin Mas’ud menjadikan para sahabat sebagai standar kebenaran dalam memahami agama.

(2) Para sahabat adalah orang-orang yang sangat cemburu dan marah terhadap penyimpangan dalam agama berupa bid’ah, dan mereka segera menegakkan nasehat dan melakukan nahi munkar karena mereka tidak rela melihat benih-benih bid’ah mulai tumbuh.

(3) Dampak bid’ah sangatlah besar dalam memberikan sumbangsih kerusakan di tengah umat ini. Karena bid’ah sekecil apapun itu, akan tumbuh menjadi Bid’ah yang besar.

(4) Para Sahabat selalu berkumpul bersama kibar ulama yang hidup di tengah-tengah mereka. Dengan itu, persatuan Islam dan tetap terjaga.

Wallahu’alam
——-

Oleh:

Johan Saputra Halim

(Pimpinan Redaksi Buletin Al Hujjah)

Follow Telegram: t.me/kristaliman

COMMENTS

Leave a Comment