BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

flickr.com

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

“…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka (Yahudi) sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imran: 120]

Kalimat-kalimat ini kami tulis saat Zionis Yahudi kembali dirasuki Iblis dalam kezhalimannya, tatakala mereka seolah kesetanan dalam membantai, melumuri Palestin dengan darah-darah mukminin, bahkan dengan pongahnya mereka menyiapkan Gaza sebagai kuburan masal bagi rakyatnya yang mati kelaparan karena bantuan kemanusiaan yang senantiasa mereka gerayangi di tengah jalan.

Lalu, apakah yang bisa kita perbuat untuk saudara-saudara kita di sana? Bukankah janji Allah benar adanya? Bukankah Dia pasti menolong orang-orang yang beriman, apalagi jika mereka dalam keadaan tertindas dan terzhalimi? Bukankah pelaku kezhaliman tersebut adalah suatu kaum yang mana al-Qur-an dipenuhi dengan gambaran buruk tentang sifat mereka?

Hendaknya kita merenung akan kehinaan ini, yang silih berganti senantiasa menjadikan kita (kaum muslimin) sebagai pecundang.

Namun seorang mukmin sejati tak akan berprasangka buruk kepada al-Khaaliq dengan meragukan kejujuran janji-Nya. Maka jari tuduhan—sebagai biangkerok dari keterpurukan ini—, tidak pantas diarahkan kepada siapapun sebelum kepada diri kita sendiri (kaum muslimin). Dikarenakan banyaknya dosa yang kita perbuat, disebabkan jauhnya kita dari JALAN TAQWA dan KESABARAN di atasnya.

Hendaknya kita pahami, bahwa kita semua—tidak terkecuali yang tidak memiliki kemampuan untuk menolong Palestina secara fisik dan materi—memiliki kewajiban yang sama untuk menolong kaum muslimin Palestina dengan ketaqwaan dan munajat kita kepada Allah. 

Puasa Tasu’a dan ‘Asyura Momentum Bangkitnya Perlawanan atas Yahudi

Puasa Tasu’a dan ‘Asyura Momentum Bangkitnya Perlawanan atas Yahudi

 

حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى “، فَقَالَ – صلى الله عليه وسلم -؛ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا التَّاسِعَ (أَيْ مَعَ الْعَاشِرِ مُخَالَفَةًِ لأَهْلِ الْكِتَابِ) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم –.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ‘asyura (10 Muharram) dan menganjurkan para Sahabatnya untuk berpuasa mereka berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka beliau bersabda : Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa (pula) pada hari kesembilan (yakni, bersamaan dengan puasa ‘asyura, untuk menyelisihi Ahli Kitab). Ibnu Abbas berkata : belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.

(Hadits Ibnu Abbas dalam Shahih Muslim no. 1143)

Seorang mukmin sejati tak akan pernah nyenyak tidurnya selama Masjidil Aqsa masih digerayangi oleh musuh-musuh Allah, al-Yahuud dan para sekutunya, selama kehormatan Islam dan kaum muslimin masih diinjak-injak oleh kaum zionis dan antek-antek mereka dari kalangan kuffar. Perjuangan terus bergulir, kesabaran selayaknya menjadi benteng yang kokoh, doa dan isti’anah harus senantiasa dipanjatkan.

Setiap mukmin berkewajiban menolong saudaranya yang terzhalimi sesuai dengan kemampuan yang dia miliki, kendati itu hanya rintihan doa kepada ilahi. Jika hanya ini yang kita mampu, maka segera lakukan, demi meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina dan di belahan bumi manapun mereka berada.

Di bulan Muharram yang mulia ini, ada sebuah momentum berharga yang bisa kita jadikan sebagai awal kebangkitan melawan kezhaliman Yahudi dan orang-orang kuffar. Jika kita sukses pada momen tersebut, dan semangat al-Wala wal-Bara (loyalitas dan benci karena Allah) mulai tumbuh dan telah merasuki jiwa kita, maka sungguh pertolongan Allah sangat dekat. Momen yang dimaksud adalah puasa tasu’a (hari ke-9) dan ‘asyuro (hari ke-10) di bulan Muharrom.

Sebagaimana dipahami dari hadits di atas, bahwa semangat inti dari puasa tasu’a sebelum ‘asyuro adalah demi menyelisihi ritual yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi.

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Bulletin Al-Hujjah Vol: 11-IX/Jumadal Ula-1429/Mei-08

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 kelompok dan hanya satu kelompok yang dipastikan selamat dan jaya di dunia dan akhirat. Para ulama kita sepakat bahwa satu kelompok yang dijamin selamat tersebut adalah kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun seiring waktu, hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi semakin pudar dan asing, bahkan bertolak belakang dengan paham keumuman. Tulisan ini mencoba menuntun Anda dalam memaknai Hakikat Ahlussunnah wal Jama’ah

SEKOLAH SALAF

Buletin Al-Hujjah Vol: 09-IX/Rabi’ut Tsani-1429H/April-08

Upaya Meraih Kembali Kejayaan Generasi Islam

Sebagai orangtua muslim yang baik, merencanakan dan memasukkan putra-putrinya ke sekolah diniyyah (keagamaan) yang mengajarkan al-Qur-an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf as-Shalih adalah suatu hal yang teramat urgen. Karena memberikan pendidikan agama yang benar kepada mereka, merupakan kewajiban yang ditekankan oleh nash al-Qur-an.

1 3 4 5